pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 293 kali

Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 10 - Pertimbangan Pinangan: Agama Calon Suami

Karya : Mohammad Fauzil Adhim

 

tentang-pernikahan.com - Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 10 - Pertimbangan Pinangan: Agama Calon Suami

Baik laki-laki maupun perempuan, diperingatkan agar memilih pendamping hidup atas dasar agama calonnya. Sebagian orang menempatkan peringatan ini dalam derajat yang paling ringan. Asal seagama, dianggap telah memenuhi ketentuan untuk memilih berdasarkan agama calonnya. Sebagian orang bertanya, "Kenapa agama?" "Kadang-kadang, orang yang agamanya baik memperlakukan istri dengan cara yang buruk. Sikapnya kepada orang lain juga tidak menyenangkan. Padahal, ia rajin ke masjid, shalat, puasa, dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Tetapi, mereka tidak memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik." "Sebaliknya, orang-orang yang tidak begitu mengenal agama, sikapnya kepada istri justru sangat baik. Perhatiannya kepada istri, besar sekali. Kadang mereka malah bisa menjadi sahabat yang enak diajak bicara oleh istri dan anak-anaknya."

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan beragama? Apakah mereka yang lebih utama agamanya adalah mereka yang luas pengetahuan agamanya? Jika ini yang dimaksud, sesungguhnya para orientalis memiliki pengetahuan agama yang lebih luas daripada kebanyakan kita saat ini. Penulis kamus bahasa Arab yang menjadi pegangan standar sekarang, Al-Munjid, adalah Louis Ma`luf, seorang orientalis.

Kalau begitu, bagaimana menentukan ukuran bahwa calon suami yang datang meminang termasuk laki-laki yang beragama? Wallahu A`lam bishawab. Agama meliputi tauhid yang merupakan intinya dan syari`at sebagai aturan-aturan baku yang lebih bersifat zhahir. Tauhid hidup dalam iman. Iman adalah perkara qalbiyyah (rahasia hati). Orang tidak dapat melihat derajat iman seseorang. Orang tidak bisa menilai aqidah-qalbiyyah (urusan keyakinan dalam hati) orang lain. Tetapi, keyakinan hati mempengaruhi sikap dan perilaku. Keagamaan seeorang insya-Allah dapat dilihat melalui amal perbuatannya.

Ada berbagai petunjuk As-Sunnah yang dapat dipakai untuk "menerka" agama dari laki-laki yang datang meminang Anda. Rasulullah Saw. bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya." (HR Ahmad dan Abu Daud).

Dalam hadis lain yang bersumber dari `Aisyah r.a., dari Nabi dikatakan,"Sesungguhnya kelembutan tidak menghinggapi sesuatu kecuali memperindahnya dan tiada dicabut dari sesuatu melainkan memperburuknya." (HR. Muslim).

Rasulullah Saw. juga bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat dan kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit." (HR Thabrani dengan sanad baik).

Masih banyak hadis yang menunjukkan tanda-tanda keimanan melalui sikap, perilaku dan ketinggian moral. Tanda-tanda ini yang dapat engkau perhatikan ketika seorang pemuda meminangmu. Ada tanda lain yang dapat engkau perhatikan, terutama berkait dengan tanggungjawabnya kelak sebagai kepala rumah keluarga. Misal, bagaimana sikapnya terhadap upaya mencari nafkah pada saat ini, sedang ia masih menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada sub judul Kemandirian Ekonomi.

Seorang ulama mengatakan bahwa, tidak mungkin mengetahui keberagamaan seseorang melalui shalat dan puasa serta sebagian ritual agama. Keimanan dalam beragama, dapat diketahui melalui aspek-aspek akhlak, penjagaan hak-hak orang lain, dan sikap menghindarkan orang lain dari kezaliman-kezaliman dirinya. Adakalanya ketika seseorang berpuasa, sangat takut kemasukan air setetes sehingga tidak berani berkumur. Tetapi ia tidak takut melanggar hak-hak orang lain. Begitu KH. Abdurrahman Wahid pernah mencontohkan.

Peringatan Imam Abu `Abdillah dapat Anda pertimbangkan ketika menilai agama calon suami Anda. Beliau pernah berkata, "Janganlah kalian tertipu dengan shalat mereka dan puasa mereka. Sesungguhnya mungkin ada seseorang yang mengerjakan shalat dan puasa sampai-sampai seandainya ia meninggalkannya, ia merasa takut. Tetapi, amatilah mereka dalam kebenaran bicara dan penunaian amanat."

Ada contoh yang ekstrem tentang masalah ini. Abu Said Al-Khudri, salah seorang sahabat terkenal, mengatakan bahwa Abu Bakar pernah bercerita di hadapan Nabi. Saat itu Abu Bakar menuturkan pengalamannya ketika melintasi padang pasir dan melihat seorang lelaki berwajah tampan sedang melakukan shalat dengan khusyuk. "Pergi dan bunuhlah orang itu," tukas Nabi. Abu Bakar segera pergi menemukan lelaki yang itu masih dalam keadaan seperti semula, shalat dengan khusyuk. Abu Bakar jadi ragu untuk membunuhnya. Akhirnya ia kembali. Nabi kemudian memanggil Umar bin Khaththab. "Pergilah ke sana dan bunuhlah lelaki itu!" perintah Nabi kepada Umar. Umar pun segera pergi ke sana. Umar melihat lelaki itu sedang larut dalam ibadah. Umar tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia pun kembali menghadap Nabi. "Wahai Nabi, yang aku lihat adalah lelaki yang sedang shalat dengan sangat khusyuk. Aku tidak tega membunuhnya," ujar Umar. Nabi akhirnya menyuruh Ali untuk membunuhnya. Ali segera pergi ke sana, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ali kembali menghadap Nabi, lalu memberitahukan hal itu kepada beliau. Nabi berkata, "Orang itu dan kawan-kawannya membawa Al-Qur`an hanya sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi." (Shahih Muslim).

Ketika mendapatkan pinangan, engkau juga bisa memperhatikan tanda-tanda membekasnya agama pada diri calon suami berkait dengan kewajiban-kewajibannya terhadapmu kelak. Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hak istri, beliau bersabda: "Memberikan makanan kepadanya apabila engkau makan, memberikan pakaian apabila engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mengatakan wajah engkau buruk, dan jangan menghukum (tidak menanyainya) kecuali di dalam rumah, yakni jangan memindahkannya ke rumah lain kemudian tidak ditanyainya di dalam rumah tersebut." (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al-
Hakim).


Penjelasan Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi ketika menjelaskan surat `Ali Imran ayat 159-160, menarik untuk kita simak. Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini sebenarnya sama dengan ayat-ayat sebelumnya surat ini, yaitu berkenaan dengan perang Uhud. Tetapi, kali ini kita akan mengambil pelajaran dari Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi untuk mengetahui keberagamaan calon suami, orang yang akan memimpinmu jika engkau menerimanya. Kata Al-Fakhurrazi, "Kalau kita belum paham perbedaan antara fazhzhan dan ghalizhal-qalbi, perhatikanlah contoh ini. Mungkin ada orang yang akhlaknya tidak jelek. Tidak pernah mengganggu orang lain. Lidahnya tidak pernah menyakiti orang lain. Hanya saja, dalam hatinya tidak pernah ada rasa kasihan kepada orang lain. Orang ini tidak kasar, namun dalam hatinya tidak ada rasa kasih-sayang. Ia tidak fazhzhan, tetapi ghalizhal qalbi. Kedua sifat ini tidak boleh menempel pada diri seorang pemimpin. Dia tidak boleh berperilaku yang menganggu orang lain dan juga tidak boleh mempunyai hati yang keras. Karena itu, “Sekiranya kamu ini bertingkahlaku kasar dan hati kamu keras, maka orang-orang itu akan lari darimu."

Seorang yang beragama, tidak bersifat fazhzhan. Juga tidak ghalizhal qalbi. Jika dua sifat ini tidak ada pada dirinya, insya-Allah dia akan memiliki akhlak yang lemah lembut. Meskipun begitu, ada perbedaan yang besar sekali antara sifat lemah lembut dengan menampakkan kelembutan. Mengenai hal ini, hatimu yang lebih tahu. Wallahu A`lam bishawab.

Insya-Allah, engkau juga bisa melihatnya ketika meminang. Kalau ia meminangmu dalam rangka berpoligami, engkau dapat menilai alasannya dari alasannya berpoligami, sikapnya terhadap istri dan keseimbangannya antara harapan terhadapmu dan sikapnya terhadap istrinya terdahulu. Jika ia berpoligami karena menurutnya istri terdahulu tidak memiliki akhlak yang baik sebagai istri, engkau dapat menilainya dari bagaimana ia mengungkapkan hal itu kepadamu. Sebagian di antara caranya menceritakan, merupakan tanda apakah ia akan menjaga rahasiamu ataukah menunjukkan tidak ada rasa cemburu di hatinya kalau rahasia istrinya diketahui orang lain.

Tanda-tanda keberagamaan yang bersifat akhlaqi insya-Allah lebih utama, termasuk di dalamnya sikap dan semangatnya terhadap agama. Seorang yang bersemangat dan memiliki sikap yang baik, insya-Allah lebih mudah menyerap ilmuilmu agama yang belum ia punyai.

Akhir-akhir ini, sebagian orang telah menyempitkan batasan agama kepada yang dianggap sefikrah saja. Atau bahkan lebih sempit lagi se-harakah atau se-halaqah. Padahal, kesamaan harakah atau halaqah tidak menandakan tingkat kematangan dalam beragama. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan. Saya sempat khawatir, pola interaksi pada sebagian kelompok cenderung mengarah kepada kerahiban.


Komentar-komentar :

Blom ada yang ngasih komentar ... :(

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 09 - Catatan Bagi Wanita Yang Dipinang

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 08 - Meminta Pertimbangan Istri

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 07 - Meminta Izin Anak

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 06 - Mempertimbangkan Pinangan: Pertimbangan Bagi Ayah Untuk Memperhatikan Agama Calon Suami

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 05 - Mempertimbangkan Pinangan: Catatan Bagi Ayah

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 04 - Mempertimbangkan Pinangan

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 03 - Wanita Boleh Menawarkan Diri

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 02 - Pinangan Bilal

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 01 - Mari Kita Mulai

 Inilah Cara Cepat Dapat Jodoh

 Puisi Habibie Ainun

 Lamaran Sahabat Bilal

 Dilamar Oleh Pria Beristri

 Sepiring Berdua

 Membeli Surga

 Persiapan Pernikahan

 Pelatihan Pranikah Untuk Muslimah

 Ajaran Agama Sebelum Nikah Dan Sesudah Nikah

 Kajian Pra-nikah Bagi Muslim-muslimah

 5 Hal Yang Harus Dipelajari Sebelum Menikah

 Tes Kesehatan Pranikah

 Persiapan Perempuan Sebelum Menikah

 Makna Di Balik Tradisi Pingitan

 Parenting Pra Nikah

 Mengenal Diri Dan Calon Pasangan

 Pengaman Pernikahan I (pra-nikah)

 Kisah Nyata Seorang Akhwat

 Tahapan Persiapan Pernikahan

 Bekal Pra Nikah

 Cara Melakukan Perkenalan Untuk Mendapat Pasangan Hidup




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com