pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 200 kali

Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 11 - Pertimbangan Pinangan: Kemandirian Ekonomi

Karya : Mohammad Fauzil Adhim

 

tentang-pernikahan.com - Seorang laki-laki seharusnya telah mampu membiayai hidupnya sendiri sejak memasuki masa taklif, yaitu usia 15 tahun menurut sistem penanggalan qamariyyah atau lunar system. Selambat-lambatnya usia 18 tahun, seharusnya ia sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan hasil keringatnya sendiri, walaupun orangtua masih mampu membiayai dan sekaligus masih mau membiayai.

Ketika menikah, ia mempunyai kewajiban untuk menafkahi istrinya, termasuk di dalamnya makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal dengan cara yang baik. Setelah menikah, orangtua tidak mempunyai kewajiban memberi nafkah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan ekonomi seorang wanita menjadi tanggungan suami. Adapun kalau orangtua memberi, itu bersifat shadaqah. Tidak wajib.

Tetapi, marilah kita simak hadis berikut. Rasulullah Saw. bersabda, "Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna." (HR Tirmidzi).

Karena itu, seorang laki-laki hendaknya berusaha mandiri. Apalagi ketika ia telah mempunyai niat untuk menikah, bahkan telah meminang. Berusaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan keluarga adalah suatu kehormatan, sehingga seseorang lebih bisa menegakkan kepala ketika ada sesuatu yang harus disikapi. Ketergantungan secara ekonomi kepada keluarga, bisa melahirkan tekanan psikis dan konflik-konflik yang pelik manakala seseorang telah menikah.

Kemandirian ini perlu saya bahas di sini mengingat pentingnya masalah. Sebagian laki-laki berharap menikah, akan tetapi hendak menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada keluarga. Di antara mereka bahkan ada yang bersikap agak apatis terhadap usaha mencari sendiri penghasilan yang halal, sebelum menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ada pikiran untuk tetap meminta kiriman orangtua, dan mengharapkan agar orangtua istrinya juga tetap mengirimkan biaya hidup setiap bulannya.

Sikap ini melemahkan keberanian untuk bertanggungjawab terhadap istri yang dinikahinya. Tanggung jawab tidak hanya berkait dengan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan mencakup pula berbagai tanggung jawab lain yang juga bersifat penting dan mendasar bagi kehidupan bersama dalam rumah tangga.

Sikap ini potensial untuk menimbulkan konflik, terutama konflik psikis bagi istri. Harga diri dan rasa percaya diri sebagai keluarga sulit untuk ditegakkan. Dengan demikian ketergantungan secara ekonomi melahirkan ketidakberdayaan pada aspek aspek lain yang seharusnya dibangun berdua dalam rumah-tangga yang mesra. Mereka mempunyai posisi yang lemah di hadapan orangtua, mertua, saudara, kerabat lain, dan bahkan mereka lemah di hadapan dirinya sendiri. Kepercayaan istri terhadap integritas pribadi suami juga kurang bisa terbangun.

Dampak dari keadaan ini sangat luas, khususnya terhadap pembentukan orientasi keluarga dan kesiapannya untuk memberikan pendidikan kepada anak menurut apa yang dipandang maslahat dan ideal. Kurang terbangunnya rasa percaya diri sekaligus harga diri sebagai keluarga, mempengaruhi citra mereka tentang keluarga mereka sendiri. Ini mempengaruhi mereka dalam memberi pengasuhan kepada anak, sehingga bisa melahirkan pola-pola sikap yang kurang sesuai dalam mengasuh anak. Sejak dari child-abuse (kekejaman terhadap anak), pengabaian anak sampai ketidak pekaan orangtua terhadap kebutuhan psikis anak. Kalau ditarik lagi, akan terdapat rentetan dampak psikis yang lain.

Lalu, bagaimana kalau orangtua berinisiatif untuk tetap membiayai anaknya masing-masing agar kuliahnya dapat diselesaikan dengan baik? Tidak masalah dan bahkan baik, sejauh suami tetap mempunyai keinginan untuk tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada kiriman orangtua. Sekalipun kenyataannya, hampir seratus persen masih tetap berasal dari orangtua masing-masing. Tetapi niat yang kuat untuk tidak menggantungkan sepenuhnya, merupakan bentuk adanya tanggung jawab. Inilah yang paling penting. Rasulullah Saw. bersabda, "Terlaknatlah orang yang membebankan semua kebutuhannya kepada orang lain."

Terkadang, inisiatif menikah berasal dari orangtua demi menyelamatkan anaknya dari kekejaman maksiat. Mereka menawarkan untuk tetap membiayai kuliah sampai selesai sekaligus memberi biaya hidup. Ini adalah sikap yang baik dan terpuji. Insya-Allah, kelak mereka akan menjumpai upayanya sebagai kemuliaan di akhirat. Allahumma amin.

Tetapi, kesediaan orangtua tertentu --ada yang bahkan mengajukan inisiatif-- untuk membiayai keluarga yang baru dibangun oleh anak mereka, tidak bisa menjadi ukuran agar orangtuanya juga memberi perlakuan yang sama terhadap keluarganya.

Kalau pun orangtua ternyata menjaminkan biaya hidup, mestinya ia juga tetap memiliki keinginan yang kuat untuk mencari nafkah yang halal dan thayyib agar yang masuk ke perut istri, kelak janin yang dikandung istrinya hingga saatnya lahir, adalah harta yang halal dan utama.

Islam menunjukkan sikap yang sangat menghargai kesungguhan seorang pemuda memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri. Rasulullah Saww. bersabda:"Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki) yang halal."

Rasulullah Saw. juga bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat." Pada hadis yang lain, Rasulullah Saww. bersabda, "Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya (sendiri)." (HR Bukhari).

Rasulullah Saw. juga bersabda: "Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api." (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw. juga menegaskan: "Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki yang halal, niscaya diampuni segala dosanya."

Ketika seseorang telah diampuni segala dosanya, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya. Ia menjadi penjaga dan pelindung. Dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Kalau Allah yang memberi penjagaan, insya-Allah kelak akan lahir dari rahim istri anak-anak yang takwa lagi suci sebagaimana do`a suami ketika pertama kali memegang kening istrinya. Insya-Allah mereka akan menjadi anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Sedang di akhirat mereka akan menjadi penolong bagi orangtuanya selagi orangtuanya tetap beriman, meski derajat amalnya tidak sebanding dengan derajat amal anaknya. Nanti, simaklah Ar-Ra`d ayat 23.

Oleh karena itu, ketika datang pinangan, perhatikan apakah calon suami Anda telah mandiri. Kalau tidak, apakah calon suami Anda selama ini telah berusaha mandiri dan mempunyai iktikad untuk mandiri.

Barangkali ia belum mempunyai penghasilan yang memadai. Tetapi pilihan sikapnya untuk mandiri, insya-Allah menjadi petunjuk tentang kesiapannya memikul tanggung jawab sebagai suami dan kelak sebagai ayah. Seorang suami yang bertanggung jawab lebih berarti dan lebih dekat dengan keselamatan dunia-akhirat serta kemesraan keluarga. Insya-Allah, kehadiran Anda kelak sebagai istri, memudahkan pertolongan Allah terhadap datangnya rezeki yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Mencukupi kebutuhannya yang besarnya barangkali tak terbayangkan dapat dipenuhinya ketika calon suami Anda belum menikah seperti sekarang ini. Allah akan menolong. Insya-Allah.

Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini. Rasulullah Saw. bersabda, "Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga)." (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, "Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatan dirinya." (HR Thabrani).

Dalam hadis lain dengan derajat shahih, Rasulullah Saww. bersabda: "Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang orang berjihad di jalan Allah." (HR Turmudzi, An-Nasa`i, Al-Hakim dan Daruquthni).

Di dalam Al-Qur`anul Karim, Allah Swt. telah berfirman, "Dan kawinkanlah orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya." (QS An-Nur:32). Berkenaan dengan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, "Taatlah kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu yaitu perkawinan, maka Allah akan melestarikan janji-Nya kepadamu yaitu kekayaan. Allah telah berfirman; `jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya`". (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ad-Dur Al-Mantsur).

Ada perkataan dari Umar bin Khaththab yang dapat Anda renungkan. Beliau
berkata, "Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengkaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya." Dan Umar pun menganjurkan, "Perbanyaklah anak, karena kalian tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rizki."

Akhirnya, marilah kita menengok sebuah hadis Nabi. Luruskanlah niat dan tumbuhkan keyakinan. Mudah-mudahan dengan jernihnya pikiran dan bersihnya hati ketika mempertimbangkan pinangan seorang pemuda yang akhlaknya tidak engkau ragukan, sedangkan kemampuannya memenuhi ma`isyah saat ini masih belum mapan, mendekatkan pada pertolongan-Nya.

Mari kita simak hadis ini, mudah-mudahan Allah memasukkan keyakinan dan husnuzhan kepada-Nya. Rasulullah Muhammad Saw. diriwayatkan berkata, "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."
Allah Maha Luas Pertolongan-Nya. Maha Luas.


Komentar-komentar :

Blom ada yang ngasih komentar ... :(

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 10 - Pertimbangan Pinangan: Agama Calon Suami

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 09 - Catatan Bagi Wanita Yang Dipinang

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 08 - Meminta Pertimbangan Istri

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 07 - Meminta Izin Anak

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 06 - Mempertimbangkan Pinangan: Pertimbangan Bagi Ayah Untuk Memperhatikan Agama Calon Suami

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 05 - Mempertimbangkan Pinangan: Catatan Bagi Ayah

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 04 - Mempertimbangkan Pinangan

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 03 - Wanita Boleh Menawarkan Diri

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 02 - Pinangan Bilal

 Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 01 - Mari Kita Mulai

 Inilah Cara Cepat Dapat Jodoh

 Puisi Habibie Ainun

 Lamaran Sahabat Bilal

 Dilamar Oleh Pria Beristri

 Sepiring Berdua

 Membeli Surga

 Persiapan Pernikahan

 Pelatihan Pranikah Untuk Muslimah

 Ajaran Agama Sebelum Nikah Dan Sesudah Nikah

 Kajian Pra-nikah Bagi Muslim-muslimah

 5 Hal Yang Harus Dipelajari Sebelum Menikah

 Tes Kesehatan Pranikah

 Persiapan Perempuan Sebelum Menikah

 Makna Di Balik Tradisi Pingitan

 Parenting Pra Nikah

 Mengenal Diri Dan Calon Pasangan

 Pengaman Pernikahan I (pra-nikah)

 Kisah Nyata Seorang Akhwat

 Tahapan Persiapan Pernikahan

 Bekal Pra Nikah




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com