pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4493 kali

Biar Numpang, Tetap Pede Di Depan Mertua

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No. 8 Tahun I, Oktober 2003

 

tentang-pernikahan.com - Firman sedang merenung dan memandangi langit-langit kamarnya -- tepatnya langit-langit kamar rumah mertuanya. Ya, sejak menikah hingga sekarang telah memiliki dua anak ia memang masih menumpang di rumah mertuanya, istilah kerennya PMI (Pondok Mertua Indah). Kondisi ini kerap membuat Firman merasa tidak nyaman kendati selama ini mertua kelihatannya baik-baik saja. Sebagai laki-laki ia ingin bersikap 'lebih bertanggung jawab' dengan membelikan rumah -- meskipun kecil untuk istri dan anak-anaknya. Tetapi untuk sekarang ini, jangankan membeli rumah, untuk mengontrak saja masih terasa berat mengingat pendapatannya memang 'sedapat-dapatnya' karena ia belum punya pekerjaan tetap.

Karena itulah ia berusaha 'mempedekan diri' untuk tetap tinggal di rumah mertuanya, paling tidak sampai mendapat pekerjaan yang bisa diandalkan.

Bukan merupakan hal yang aneh jika pasangan yang baru menikah belum dapat 'mandiri' alias belum bisa ngontrak atau punya rumah sendiri. Seperti kata-kata orang tua dulu, orang baru menikah itu baru belajar hidup, maka tidak perlu heran bila kebanyakan pasangan baru memulai rumah tangganya dari nol. Jadi, jika Anda termasuk golongan ini janganlah berkecil hati, yang penting jangan sampai kehilangan kemauan, kerja keras dan kesungguhan untuk memperbaiki taraf hidup, karena kata Rasulullah SAW, "Tiga yang membuat manusia bahagia, yaitu pertama: istri yang shalihah, kedua: rumah yang luas dan ketiga: kendaraan yang nyaman. Dan tiga hal yang membuat kesengsaraan, pertama: istri yang jahat, kedua: rumah yang sempit dan ketiga: kendaraan yang jika engkau gunakan menyusahkanmu." (HR Al-Hakim).

Persoalannya sekarang, ketika kita 'terpaksa' harus menumpang di rumah orang tua atau mertua, tidak dapat dipungkiri ada sedikit atau banyak rasa rendah diri, tidak pede atau sejenisnya, terutama untuk suami. Kesannya seperti 'kurang mampu' dan kurang-kurang yang lain yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Nah, jika memang itu persoalannya berarti solusi yang paling mungkin adalah dengan membuat diri kita lebih pede di depan mertua walau status kita numpang di rumahnya.

Siapa Sih Mertua Itu?

Setiap kita pasti tahu bahwa ketika kita menikahi pasangan kita, kita tidak hanya menikahi pasangan kita seorang diri saja setelah itu urusan selesai dan jadilah dunia ini milik berdua. Pernikahan melahirkan hubungan persaudaraan yang lebih luas yang disebut mushaharah, yang berarti orang tuanya menjadi orang tua kita -- yang disini lazim disebut mertua, saudara dan kerabatnya menjadi saudara dan kerabat kita. Karenanya pernikahan menjadikan tali silaturahim manusia semakin meluas.

Lalu, siapakah mertua itu? Mereka adalah orang tua pasangan kita. Jadi? Ya, merekalah ayah dan ibu pasangan kita, yang melahirkan, membesarkan, mengasuh, mendidik, merawat, menyekolahkan, menyayangi dan mencintai pasangan kita. Mereka tentu lebih dulu mengenal dan karenanya lebih dulu dekat terhadap pasangan kita. Dan, jangan lupa, mereka lebih dulu ada di hati pasangan kita. Karena itu bukankah sangat wajar bila mereka menginginkan anaknya hidup bahagia dan sejahtera? Ibaratnya, seperti kata orang-orang betawi 'dari kecil diurusin, diseneng-senengin eh sudah kawin dibikin susah sama anak orang!'

Di sisi lain pada masa-masa awal pernikahan, tidak dapat dihindari bahwa masing-masing kita masih membawa pengaruh dari kehidupan keluarga kita sebelum menikah. Baik pengaruh yang berupa kebiasaan-kebiasaan pribadi yang bertahun-tahun kita jalani sehingga ikut membentuk pola pribadi kita, maupun pengaruh aturan yang diberlakukan dalam keluarga kita dan juga yang sering tidak disadari -- pengaruh ayah atau ibu kita dalam memenej kehidupan berkeluarga mereka. Biasanya pengaruh-pengaruh ini telah begitu mengakar dalam diri kita dan secara signifikan akhirnya mempola kita dalam membangun, membina, dan memenej rumah tangga kita.

Begitulah, masa-masa ini akan dihiasi dengan masa transisi dari terbiasa dengan aturan yang berlaku dan kebiasaan yang kita jalani sebelum menikah menuju proses penyesuaian terhadap kebiasaan pasangan kita. Demikian pula dengan pasangan kita, dia juga mengalami hal yang sama. Dan jangan lupa, jika kita masih numpang di rumah mertua maka prosesnya menjadi bertambah dengan melakukan penyesuaian terhadap kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang berlaku di rumah mertua.

Bagaimana Biar Numpang Tapi Tetap Pede di Depan Mertua

- Hargai dan hormati mertua karena mereka adalah orang tua istri Anda. Kalau mungkin, tunjukkan Anda adalah menantu yang baik yang menyayangi putrinya.

- Jadikan ayah mertua sebagai guru dan pembimbing dalam persoalan rumah tangga Anda dan berusahalah untuk tidak mendebatnya dalam masalah apapun.

- Jika ada hal-hal yang Anda tidak sepaham dengan mertua, sampaikanlah dengan sopan dan tetaplah menghormatinya.

- Patuhilah aturan-aturan yang berlaku di rumah mertua, berusahalah untuk lapang dada jika ada aturan yang kurang berkenan dihati Anda. Ingat, Anda tinggal di rumahnya, maka aturan pemiliknya yang berlaku.

- Galilah hobi dan kegemaran ayah dan ibu mertua, jika ayah mertua hobi memancing, tidak ada salahnya sesekali Anda pergi memancing bersamanya.

- Sesekali bawakan makanan kesukaan mertua.

- Libatkan mertua dalam menyusun rencana masa depan rumah tangga Anda -- terutama yang berkaitan dengan kemungkinan mengontrak atau membeli rumah. Ini akan membuat mertua merasa dihargai. Jangan sampai hari ini Anda pindah, hari ini pula Anda pamit tanpa ada pembicaraan sebelumnya.

- Berlatih untuk dapat menahan diri, lebih sabar dan rela berkorban -- minimal berkorban perasaan dalam menghadapi segala masalah di rumah mertua.

- Terakhir, berusaha lebih keras dan berdoa lebih banyak agar diberi kelapangan rizki sehingga dapat mengontrak atau malah membeli rumah sendiri.




Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 Lenny -
Kayaknya InsyaAllah akan lebih baik kalo kita nggak make istilah mertua. Mereka orang tua kita juga (bukan cuma anggapan loh), emang bener2 orang tua kita kan? terapin lah adab kita thd orang tua. InsyaAllah nggak ada masalah dengan pendekatan, kasih sayang, rezeki dsb (ceileee... gw sok tau banget yah... :D)

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Kiat Mempererat Hubungan Ayah Dan Anak

 Kado Pilihan Anisha

 Jangan Tebar Pesonamu

 Menjadi Suami Yang Mempesona, Mengapa Tidak?

 Agar Bahtera Tetap Berlayar

 Ungkapan Hati Buat Istriku

 Tinaaaaaaaa

 Sandal Jepit Istriku

 Istriku, Maafkan Suamimu

 Tangis Si Kecil

 Rumah Tangga Yang Menyenangkan

 Istriku....................

 Yang Ku Dambakan

 Memupuk Masalah Menuai Konflik

 Tell Her Now That You Love Her

 Suami Mencintai Istri

 Duhai Suamiku...

 Ketika Ke-perempuan-anku Hampir Lengkap

 Kopi Asin

 Menerima Apa Adanya

 Bila Dia Tak Seperti Yang Dibayangkan

 Cara Bijak Memarahi Anak

 4 Orang Istri

 Di Rumahku Ada Surga

 Bila Bosan Melanda Rumah Tangga

 Hamil Tanpa Masalah

 Tips Bertengkar Yang Islami

 Rasa Sayang Itu Selalu Ada

 Kuntum Cintanya....

 Karena Itu Aku Bangga




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com