pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 2911 kali

Di Balik Tabir Pernikahan

Karya : Idawati, S.pd

 

tentang-pernikahan.com - Bersamaan dengan banyaknya orang enggan menikah, angka perzinaan atau 'kecelakaan' semakin meningkat.

Saya ini sudah mau betul menikah," kata sahabat saya pada suatu hari, sebut saja namanya Rowi.

"Kok tidak menikah?" tanya saya. ''Sampai sekarang belum ada yang pas."

"Pas menurut situ apa?" "Saya pingin ceweknya cantik, putih, mau mengerti saya, umurnya lebih muda dan juga sudah bekerja."

Nikah adalah kata yang kerapkali menjadi buah bibir masyarakat. Dibicarakan orangtua kepada anaknya karena dipandang sudah dewasa dan sudah saatnya punya jodoh. Menjadi pembicaraan antar teman sejawat yang telah lama berpisah, seorang yang sudah menikah kepada sahabatnya seangkatan yang belum menikah, apalagi di antara pasangan yang tengah dilanda asmara.

Pemandangan di setiap malam atau hari libur, baik di balai, hotel, gedung pertemuan bahkan di di sudut-sudut lorong juga terlihat acara pernikahan. Pertanyaannya adalah: Ada apa dengan Nikah?

Banyak pandangan berkaitan dengan nikah. Ada yang menganggap, nikah atau jodoh di tangan Tuhan. Ada yang merasa keberatan, bahkan menyepelekan alias cuek. Ini biasanya muncul akibat kekecewaan yang pernah dialami. Bisa jadi juga karena 'takut' ataupun ragu. Tapi ada pula yang merasakan kesulitan mau menikah, seperti Rowi, sahabat saya di atas.

Semua keinginan Rowi wajar, karena ia menilai berdasarkan keadaan dirinya. Namun kewajaran itu, tentunya, tidak untuk semua orang. Banyak mereka yang mulanya tidak 'cantik', setelah menikah menjadi 'cantik' (cantik dalam tanda petik, karena ukurannya sangat relatif), tidak putih menjadi putih, belum bekerja menjadi bekerja, yang tidak teratur menjadi teratur, bahkan yang tadinya 'nakal' setelah menikah menjadi baik.

Rowi, sahabat saya itu, satu di antara sekian banyak contoh lelaki yang menghadapi 'problem' pra-nikah. Syukurnya, ia punya niat kuat untuk menikah. Sayangnya, niat tersebut dibebani berbagai kriteria. Biasanya, tipe orang seperti ini kurang peduli dengan umur yang semakin hari bertambah, bahkan hingga menjadi bujang lapuk, atau gadis tua. Namun tidak sedikit orang berprinsip seperti Rowi.

Ini berbeda lagi dengan mereka yang 'menyepelekan' nikah. Biasanya, selain karena kecewa, takut atau mungkin ragu,, juga dapat disebabkan oleh faktor lain, Misalnya, kehidupan metropolitan yang serba modern, rnembuat tuntunan hidup lebih bergaya. Alhasil, yang lebih diutamakan adalah karir, sementara nikah dianggap suatu hal yang gampang. Toh banyak alat modern yang bisa mengantarkan orang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, bahkan free-sex dianggap sebagai solusi. Sungguh sebuah anggapan yang keliru jika nikah hanya dimaknai secara biologis semata. Selain itu, ?takut repot' atau 'takut terkekang' alias 'tidak bebas' juga bisa menjadi faktor bagi sckelompok orang.

Ironisnya, bersamaan dengan banyaknya orang yang 'enggan' menikah, ternyata angka perzinaan, atau 'kecelakaan', atau ketularan HIV/AIDS semakin meninggi!

Bahaya Selibat

Selain itu, juga ada yang berprinsip keliru menafikan nikah dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam sebuah hadis diberitakan tiga sahabat Rasulullah SAW menemui istri Nabi dan menanyakan tentang kualitas ibadah Rasulullah. Jawaban yang mereka dapatkan rupanya mereka rasa kurang maksimal. Maka mereka ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang satu berkata, "Aku akan melakukan shalat sepanjang malam.? Yang kedua berkata, "Aku akan berpuasa sepanjang tahun.? Yang ketiga berkata, "Aku tidak akan menikah seumur hidupku."

Mendengar hal itu, Rasulullah menemui mereka dan berkata, "Demi Allah, aku lebih tunduk dan takut kepada Allah SWT dibandingkan kalian, Tapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku juga menikah. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku." (HR Bukhari).

Sejak belasan abad yang silam Islam sudah menghormati pernikahan karena kemuliaannya. Nikah itu pun merupakan sunnah (ajaran) para Nabi dan Rasul. Firman Allah, "... Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu (Muhammad) dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.? (QS al-Ra'ad : 38)

Lihatlah apa yang terjadi pada banyak pemimpin agama tertentu yang memantangkan nikah. Akhirnya - di era keterbukaan ini - mereka diseret ke pengadilan (di Amerika Serikat, Inggris. Australia) dengan tuduhan rnelakukan pelecehan seks, bahkan terhadap anak-anak di bawah umur. Motto mereka, sepertinya: 'nikah no, kawin yes' Mengapa harus membohongi fitrah dan naluri manusiawi?!

Bersyukurlah umat Islam memiliki junjungannya, Rasulullah SAW. Beliau bahkan tegas-tegas bersabda. "Annikahu sunnati, taman raghiba 'an sunnati fa laisa minni - Nikah itu adalah sunnahku, barangsiapa yang melalaikan sunnahku (tidak menikah, sementara semua syaral telah terpenuhi), maka ia tidak termasuk golonganku."

Empat Kriteria

Rasulullah menyebut empat kriteria seorang wanita yang lebih layak dinikahi, sebagaimana tersebut dalam hadis: "Seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena: hartanya, status keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. (HR Bukhari).

Kriteria tersebut harus dipahami secara dinamis. Harta tidak hanya dipahami
dalam artian materi, tapi lebih luas dari itu. Secara kasat mata bisa jadi seorang yang kita anggap kurang secara materi, lebih kaya secara immateri. Kekayaan memang sebuah kriteria, tetapi itu bukan segalanya, karena kekayaan bukan jaminan bahwa scscorang akan hidup bahagia. Allah memantapkan hati mereka yang 'ragu' atau 'takut' menikah dengan alasan ekonomi, "...Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah SWJ akan memberikan kekayaan kepada kamu dari karunia-Nya." (QS aKTaubah : 28).

Terkadang status keluarga. keturunan (nasafo) juga menjadi penghambat seseorang untuk menikah. Apalagi jika nasab dikailkan dengan adat istiadat lokal. Sebagian orangtua mengharuskan anaknya menikahi orang yang senasab dengannya. Apa iya, kiyai mesti besanan dengan kiyai, bankir harus besanan dengan pengusaha, dan seterusnya? Inti pengertian nasab di sini adalah 'keturunan orang baik-baik'.

Tidak kalah serunya adalah kecantikan. Kriteria yang satu ini tampaknya justru menempati prioritas utama. Pemuda mana yang tidak kesemsem melihat gadis yang cantik dan gadis mana yang tak berdegup jantungnya melihat pemuda ganteng. Tapi apakah kecantikan atau kegantengan menjamin suatu pernikahan sukses mencapai tujuannya? Jawabnya bisa 'ya? hanya kalau kecantikan-kegantengan itu tidak cuma di wajah dan fisik tapi juga di hati dan kepribadian. Jika kecantikan-kegantengan hanya polesan luar. sedangkan hatinya sadis dan penuh kecurangan, mana tahan, bo! Itu sebabnya ungkapan cantik itu relatif menjadi slogan setiap orang.

Ketika kekayaan, nasab dan kecantikan-kegantengan menjadi kriteria yang relatif, maka agama merupakan kriteria kongkrit yang ditawarkan Islam. Agaknya kriteria ini sengaja disebutkan terakhir sebagai kriteria pamungkas. Bila agama menjadi prioritas utama dalam mencari pasangan hidup, tentunya tanpa menafikan ketiga kriteria lainnya, insya Allah kehidupan berumah tangga akan berjalan selarnat sesuai tujuan sebuah pernikahan.

Tujuan Pernikahan

Pertanyaan yang tersisa adalah: apa tujuan pernikahan menurut pandangan Islam?

Setidak-tidaknya ada tiga tujuan pernikahan. Pertama, menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia, untuk tetap tegaknya generasi Islami, memancarkan wajah llahi di bumi melestarikan dan memakmurkan bumi.

Kedua, memelihara dan kehormatan kesucian diri sekaligus menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan nikah satu-satunya cara yang kongkrit untuk menghindari perzinaan dengan segala akibatnya. Ketiga, menciptakan ketenangan, ketenteraman dan kedamaian. Rumah tangga yang tenteram dan damai akan melahirkan masyarakat dan_negara yang tenteram dan damai. Masyarakat dan negara yang tenteram dan damai akan melahirkan dunia yang tenteram dan damai.

Semua itu tercakup dalam firman Allah, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kamu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."(QS Ar-Rum : 21)

Sumber : www.amanah.or.id


Komentar-komentar :

 adek -
Ya allah...segerakan tujuan mulia ini pada tiap insani :)

 afifah - padang
good...semoga Allah mudahkan semua urusan saya menjelang proses itu....dunia ini ujian yang sangat menggentarkan..

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????

 Menikah Ala Islam, Mudah, Murah Dan Berkah!

 Ada Jomblo Di Tengah Kita

 Hanya Kau Yang Bisa....,,,,,,,,,,!!!!!

 Pengharapan

 Do'a Untuk Kekasihku

 Menikah Bukan Dengan Angan-angan

 Maafkan Saya Adam...

 Nikah Versus Maisyah

 Ta'aruf Unik

 Pelajaran Tentang Mahar (mas Kawin) Dari Seorang Mu'alaf

 Terus Terang Saja, Cintaku Belum Pernah Ditolak

 Perbedaan Ta'aruf Dan Pacaran

 Saat Pacaran, Berapa Kali Ketemunya?

 Bila Cinta Harus Memilih

 Gadis Pujaan

 Sex In The Tipi

 Biru Untuk Langit, Hitam Untuk Malam

 Kuch Kuch Hota Hai

 Takdir

 Saat Kuingat...

 Surti-tedjo

 Titanic

 Nikah; Separoh Dari Agama

 Pasangan Jiwa

 Pernikahan Dini




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com