pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 1638 kali

Agar Bisa Lebih Menghargai

Karya : Mutiara

 

tentang-pernikahan.com - Dulu, saya sering sekali mengeluh karena belum menikah. Saya selalu merasa ingin memiliki seorang suami yang dengan kekuatannya akan menutupi kelemahan saya, yang dengan ketelitiannya akan menutupi kecerobohan saya, yang dengan kelebihannya akan menutupi kekurangan saya.

Saat saya harus bercapek-capek naik ke lantai atas rumah saya membawa dua sampai tiga ember pakaian yang telah dicuci untuk dijemur, kadang-kadang saya mengeluh, "Senangnya kalau punya suami, nggak usah ngangkat-ngangkat ember kayak begini".

Saat saya harus pergi belanja ke pasar dan pulang kelelahan membawa belanjaan yang berat, saya juga mengeluh "Bahagianya punya suami, nggak mesti jalan sendirian. Nggak perlu bawa-bawa belanjaan berat kayak begini lagi."

Saat suatu hari saya mencoba meluruskan cantelan tas yang terbuat dari besi dengan menggunakan tang, saya pun mengeluh, "Kalo punya suami... nggak harus megang-megang tang kayak gini nih, tangan pake lecet segala lagi."

Saat saya mencoba mengganti lampu yang mati dengan yang baru, sekali lagi saya mengeluh, "Wah, enaknya punya suami, nggak mesti naik-naik tangga kayak begini benerin lampu, pake kena setrum lagi..."

Biasanya saya suka menimpali diri saya sendiri, "Emangnya suami tukang ngangkatin ember?!" atau "Emangnya suami tukang benerin lampu?!", "Emangnya suami apaan?!"

Tapi itu dulu... hingga suatu hari saya bertemu dengan kakak sepupu saya beberapa waktu lalu.

***

Dia seorang wanita karir, dan saya tidak menyangka akan mendapatkan pelajaran berharga darinya.

Sepupu saya itu bercerita bahwa ia harus bekerja dari pagi sampai sore hari. Sebenarnya mungkin tidak terlalu banyak yang dia kerjakan di kantor. Hanya saja dia harus datang sebelum bosnya datang dan pulang setelah bosnya pulang. Jarak antara rumah kosnya dengan kantornya yang cukup jauh, ditambah dengan kemacetan di jalan, sangat menyita banyak waktunya.

"Melelahkan! Kalau saat ini kakak udah punya suami dan punya anak..." katanya, "wah, susah banget deh jadi wanita karir, jadi istri, trus jadi ibu pula pada saat yang bersamaan."

Itulah yang membuatnya mengambil keputusan bila ia menikah nanti ia akan melepaskan pekerjaannya. Ia meragukan dirinya bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat bekerja sementara ia sendiri harus bersiap untuk pergi bekerja juga, menyediakan makan malam untuk suaminya sebelum pulang kantor padahal ia sendiri mungkin masih keletihan karena baru pulang dari kantor, itu pun kalau dia sudah pulang. Sulit baginya membayangkan bagaimana ia akan menjalankan perannya sebagai istri di rumah bila ia tetap mempertahankan pekerjaannya yang melelahkan itu.

Mungkin tidak banyak wanita di zaman ini yang sependapat dengannya. Karena saya lihat di luar sana banyak wanita yang telah bekerja kemudian menikah tetapi tetap mempertahankan pekerjaanya. Dan (tampaknya) mereka baik-baik saja.

Mendengar keluh-kesahnya, saya tidak merasa lebih beruntung karena pekerjaan saya di rumah lebih ringan dibandingkan pekerjaanya. Ingin rasanya waktu itu saya meyakinkan kakak sepupu saya itu bahwa pekerjaan di rumah juga tidak kalah melelahkan dengan menjadi seorang wanita karir seperti dia. Namun belum sempat saya bercerita,

"Tapi... ada hikmahnya juga kakak ngerasain capek-capek kerja kayak gini..." katanya, "pergi pagi, pulang malem, sibuk di kantor, dan capek di jalan..."

Dia memandang saya dengan mata yang menerawang. Sementara saya mencoba mengerti hikmah apa sebenarnya yang dia maksud.

"Ternyata... begini toh rasanya bekerja keras, bersusah payah mencari uang buat makan. Ternyata nggak gampang! Kakak jadi bisa lebih menghargai suami kakak nanti yang nyari nafkah buat kakak..." katanya mengakhiri perbincangan hari itu.

Kata-kata itulah yang membuat saya berhenti mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan di rumah dan berhenti berandai-andai kalau saya punya suami maka pekerjaan saya akan lebih ringan.

Yah, saya jadi menyadari bahwa pekerjaan suami itu jauh lebih berat dari sekadar mengangkat ember atau membawa belanjaan sehingga saya harus lebih menghargai jerih payahnya dan rela ngangkat-ngangkat sendiri. Tanggung jawabnya lebih besar dari sekadar menjaga saya dari setruman listrik atau melindungi tangan saya supaya nggak lecet sehingga saya harus lebih menghormatinya dan lebih berhati-hati menjaga diri saya sendiri.

Tapi... saya rasa walaupun setiap wanita sanggup dan rela melakukan itu semua sendiri, sepertinya seorang suami tidak akan rela. Sehingga dialah yang akan melakukannya untuk isterinya. Dan pada saat itulah sang istri tahu apa yang harus ia lakukan untuk suaminya.

Sekarang, saya menikmati melakukan semua pekerjaan saya di rumah. Saya hayati bagaimana pun beratnya pekerjaan itu, bagaimana pun susahnya pekerjaan itu. Supaya suatu saat nanti saya akan lebih menghargai seseorang yang akan melakukan semua itu untuk saya.

"teman-teman seperjuangan"-ku, berjuanglah... karena ada yang sedang berjuang juga untuk kita di luar sana

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

Blom ada yang ngasih komentar ... :(

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Betapa Indahnya Berumah Tangga

 Agar Tidak (asal) Menikah Dini

 Pernahkah Kamu....

 Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

 Menikah Mengapa Takut?

 Jodoh Antara Doa Dan Usaha

 Stop !!! Gaul Bebas

 Di Balik Tabir Pernikahan

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????

 Menikah Ala Islam, Mudah, Murah Dan Berkah!

 Ada Jomblo Di Tengah Kita

 Hanya Kau Yang Bisa....,,,,,,,,,,!!!!!

 Pengharapan

 Do'a Untuk Kekasihku

 Menikah Bukan Dengan Angan-angan

 Maafkan Saya Adam...

 Nikah Versus Maisyah

 Ta'aruf Unik

 Pelajaran Tentang Mahar (mas Kawin) Dari Seorang Mu'alaf

 Terus Terang Saja, Cintaku Belum Pernah Ditolak

 Perbedaan Ta'aruf Dan Pacaran

 Saat Pacaran, Berapa Kali Ketemunya?

 Bila Cinta Harus Memilih

 Gadis Pujaan

 Sex In The Tipi

 Biru Untuk Langit, Hitam Untuk Malam




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com