pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4183 kali

Detik-detik Menjelang Pernikahan

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No. 3 Tahun I, Mei 2003

 

tentang-pernikahan.com - Hani (24 th) akhir-akhir ini sering resah sendiri, apa yang dilakukannya sering menjadi serba salah, bahkan untuk hal-hal yang rutin dikerjakannya pun tak luput dari kesalahan. Hani juga jadi lebih sensitif, ada hal kecil saja yang tak berkenan di hatinya sudah dapat membuat ia sedih dan menangis. Tentu saja keadaan ini tidak membuat ia merasa nyaman terhadap dirinya sendiri. Usut punya usut, ternyata Hani sebentar lagi akan menikah, tepatnya sepekan lagi.

Hani akan memasuki dunia baru, ia akan mengarungi bahtera rumah tangga. Persiapan sudah dilakukan, tempat sudah di booking jauh-jauh hari, undangan telah disebar, segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis pernikahan sudah disiapkan dengan matang. Pendeknya, segala sesuatunya sudah beres, sisanya tinggal persiapan diri yang bersangkutan saja untuk menghadapi pernikahannya.

Sebetulnya Hani merasa telah mempersiapkan dirinya menghadapi pernikahan ini, tapi tak urung ia masih juga khawatir, apakah ia siap berbagi hidup bersama orang yang baru dikenalnya? Apakah ia sanggup menjalankan amanah sebagai seorang istri lalu menjadi seorang ibu?

Hani teringat bahwa suatu hari ia pernah membaca sebuah buku yang di dalamnya diceritakan kisah tentang seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah SAW :

"Ya Rasulullah SAW, aku adalah seorang gadis yang ingin menikah, maka beritahukanlah kepadaku, apakah hak-hak suami terhadap istrinya agar aku dapat melaksanakannya? InsyaAllah".

Rasulullah SAW yang mulia menjawab : "Diantara hak suami atas istrinya adalah : Jika saja kaki suamimu terluka kemudian luka itu bernanah dan mengeluarkan bau busuk, kemudian engkau membasuhnya dengan wajahmu, maka engkau belum dianggap memenuhi semua hak suamimu. Dan kalau saja Allah membolehkanku untuk memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, sungguh aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya".

Hani ingat, ketika itu ia sampai bergidik membacanya.

Ia juga teringat akan pembahasan tentang istri sholihah dalam kajian yang sering diikutinya, sehingga membuatnya terus menerus berfikir, apakah ia mampu menjadi istri sholihah? Hani memang punya tekad kuat untuk menjadi istri sholihat. Ia ingin pernikahannya menjadi ladang amal sholih baginya, dan untuk itu ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya.

Sebenarnya Hani tak perlu sampai khawatir begitu, sebab rasanya kita semua, baik yang belum menikah atau bahkan yang sudah menikah bertahun-tahun masih harus terus belajar dan berproses menjadi istri yang sholihah, dan proses itu tidak akan pernah berhenti selama kita masih menjadi seorang istri. Memang sangat jauh lebih baik proses untuk menjadi istri yang sholeha dimulai jauh-jauh hari sebelum Allah SWT memberikan jodoh kepada kita.

Lalu ketika hari pernikahan sudah diambang pintu, apa yang seharusnya dilakukan...?

Pertama
Lebih intensif mendekatkan diri kepada Allah SWT, dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Menikah adalah keputusan penting dalam kehidupan manusia. Siapapun tentunya tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan itu menyangkut hal penting dalam hidupnya yaitu: "Pernikahan" Nah detik-detik menjelang "hari H" itu intensiflah bermunajat kepada Allah SWT, memohon kepada-Nya agar keputusan yang telah kita ambil itu benar-benar mendapat taufiq (persetujuan) serta ridho-Nya dan pernikahan ini menjadi keputusan terbaik dalam hidup kita. Juga memohon bimbingan kekuatan, kemudahan dalam menjalani hidup berumah tangga, sehingga menjadi rumah tangga yang sakinah,mawaddah wa rahmah hingga akhir zaman.

Kedua
Berusaha untuk ikhlas dan senantiasa menjaga keikhlasan dalam kondisi apapun.
Ikhlas dalam konteks akan membangun rumah tangga adalah berusaha ikhlas menerima calon pasangan kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ingat, kita akan menikahi manusia, bukan malaikat. Betapapun tinggi tingkat ketaatan seseorang dalam beragama, bukan berarti dapat mengubahnya menjadi malaikat yang tak pernah berbuat salah. Siap menikah berarti siap untuk terus menjaga keikhlasan dalam menjalani semua kewajiban, konsekwensi, dinamika dan gelombang dalam berumah tangga. Sehingga dalam menghadapi kondisi seberat apapun nantinya, sikap kita adalah melakukan perenungan kembali tentang niat awal kita menikah. Apa sih niat saya menikahi dia? Kenapa sih saya mau menikahi dia? Dengan demikian kita senantiasa diingatkan bahwa ada yang harus selalu dijaga dalam pernikahan ini. Ia adalah keikhlasan itu sendiri. Dalam kerangka ini, insyaAllah pernikahan akan menjadi ibadah di sisi-Nya.

Ketiga
Menjaga kebersihan hati dan menghiasinya dengan adab-adab syar'i. Ingat, sebelum prosesi aqad nikah dilangsungkan, status kita terhadap calon pasangan adalah non-mahram, yang berarti adab berinteraksi dengan calon pasangan adalah sebagai mana adab berinteraksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Hal itu sangat penting disadari untuk menjaga kebersihan hati agar tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh syar'i. Berkomunikasi dan berinteraksi tentu saja boleh, tidak mungkin orang yang akan menikah tidak berkomunikasi dan berinteraksi dengan calon pasangannya. Tapi berusahalah sedapat mungkin berkomunikasi dan berinteraksi sesuai dengan adab yang diperbolehkan syariat. Misalnya, musyawarah tentang persiapan menikah dilakukan di rumah, bersama oang tua kita, atau dapat dilakukan di rumah orang yang kita percaya, tentu saja dengan didampingi oleh tuan rumahnya. Hindari berkhalwat berdua dengan calon pasangan, ingat "tidaklah seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat melainkan ketiganya adalah syaitan". (Al-Hadits). Hindari juga sms, telephon, email mesra dan lain-lain yang sejenis, yang kesemuanya dapat membuat hati kita menjadi kotor, berangan-angan dan jatuh dalam dosa.

Jika kita menginginkan pernikahan yang akan kita jalani mendapatkan taufiq, inayah, berkah dan ridho Allah SWT, kita harus mengusahakan agar segala persiapan sedapat mungkin "bersih" sejal awal prosesnya. Mudah-mudahan tiga hal ini dapat membantu kita lebih pandai menata dan menjaga hati, sehingga detik-detik menjelang pernikahan tidak perlu lagi menjadi detik-detik yang membuat resah dan gelisah, tetapi sebaliknya menjadi detik-detik yang penuh keindahan dan kemanisan munajat kepada Allah SWT, yang membuka dan menjadikan semua jalan menjadi mudah dan terang. Amin.

Kemudian dapatlah setelah itu kita dengan keyakinan kepada Allah SWT, berkata kepada calon suami kita : "wahai calon suamiku, marilah kita naiki bahtera ini, mari kita kembangkan layarnya bersama-sama, kita hadapi gelombangnya tanpa rasa gentar. Semoga Allah SWT bersama kita.

(Kado untuk adik-adik yang akan menikah)

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 Ummu Umar -
Menjaga "kebersihan" hati menjelang detik-detik pernikahan sangat pentiing. Berhati-hatilah karena syetan sedang mengintai hati yang lengah agar kita menjadi terlena. Pernikahan adalah sesuatu yang suci dan diridhoi oleh Allah SWT, maka marilah kita menjalani prosesnya dengan hal-hal yang juga diridhoi oleh Allah SWT, agar keberkahan selalu menyertai. Amin

 ayu - jkt
kerja ekstra keras untuk menjaga kebersihan hati dan keikhlasan.... Allahuakbar.... dengan izin Allah ,InsyaAllah kami bisa !!!

 surya - bogor
terima kasih atas sarannya. kalo boleh saya ingin menambahkan bahwa janganlah pernah takut untk menikah. karena alloh akan memberikan semua barokahNya bila kita meminta dengan hati yang ikhlas serta mampu menjaganya. dan ingatlah bahwa sejelek-jeleknya mati adalah mati BUJANGAN...!!!!

 nurul hikmah - bogor
aku minta jawaban, menghadapi pernikahan 2 bulan lagi aku gak tw apa yang harus dipersiapakan, mulai dari diri ku.. dan persiapan acaranya nanti.. ilmu yang harus kukuasai ttng menjelang persiapan menikah ini apa? dan tentang mahar itu bagai mana? apa boleh dengn seperangkat alat sholat saja?

 nurul hikmah - bogor
aku minta jawaban, menghadapi pernikahan 2 bulan lagi aku gak tw apa yang harus dipersiapakan, mulai dari diri ku.. dan persiapan acaranya nanti.. ilmu yang harus kukuasai ttng menjelang persiapan menikah ini apa? dan tentang mahar itu bagai mana? apa boleh dengn seperangkat alat sholat saja?

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Urgensi Niat Dalam Pernikahan

 System Upgrade

 Agar Bisa Lebih Menghargai

 Betapa Indahnya Berumah Tangga

 Agar Tidak (asal) Menikah Dini

 Pernahkah Kamu....

 Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

 Menikah Mengapa Takut?

 Jodoh Antara Doa Dan Usaha

 Stop !!! Gaul Bebas

 Di Balik Tabir Pernikahan

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????

 Menikah Ala Islam, Mudah, Murah Dan Berkah!

 Ada Jomblo Di Tengah Kita

 Hanya Kau Yang Bisa....,,,,,,,,,,!!!!!

 Pengharapan

 Do'a Untuk Kekasihku

 Menikah Bukan Dengan Angan-angan

 Maafkan Saya Adam...

 Nikah Versus Maisyah

 Ta'aruf Unik

 Pelajaran Tentang Mahar (mas Kawin) Dari Seorang Mu'alaf

 Terus Terang Saja, Cintaku Belum Pernah Ditolak

 Perbedaan Ta'aruf Dan Pacaran

 Saat Pacaran, Berapa Kali Ketemunya?

 Bila Cinta Harus Memilih




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com