pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 3457 kali

Menikah Adalah Keajaiban

Kiriman : Astrina Yuliawati

 

tentang-pernikahan.com - Saya selalu mengatakan bahwa menikah adalah hal yang sangat
kodrati.Dalam bahasa saya, menikah tidak dapat dimatematiskan. Jika suatu
saat ada orang yang mengatakan, secara materi saya belum siap, saya akan
selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, berapa standar kelayakan
materi seseorang untuk menikah?

Tak ada. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi,
maka betapa ruginya orang-orang yang papa. Begitu juga dengan kesiapan-
kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual,
wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya
saya mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.

Bukan dalam arti saya menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah
dibahas dan dirumuskan oleh para ustadz. Tentu saja semua itu perlu sebagai
wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga itu.

Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga
merasa siap untuk menikah. Belum cukup, lah... itu alasan yang paling mudah
dijumpai. Dengan gaji sekarang saja saya hanya bisa hidup pas-pasan.
Bagaimana kalau ada anak dan istri? Oya, saya juga belum punya rumah....
O-o... Saudaraku, kalau kau menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah
menikah. Bisa jadi besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi
percayalah, pada saat yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik...
bahkan lebih tiga kali lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia ak
berpikir pakaian berharga tertentu, televisi, laptop... atau mungkin hp merk
mutakhir. Saat tak memiliki banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu
sederhana yang mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah
demikian saat Anda memiliki uang? Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang
bertambah, lajunya lebih kencang dari pertambahan kemampuan materi. Artinya,
manusia tidak akan ada yang tercukupi materinya.

Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak
akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa
dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah
tersurat pada awal penciptaan anak Adam.

Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, itu yang pernah saya
baca di sebuah buku. Ada pula sabda Rasulullah,

Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.

Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen
tersebut. Taruhlah, pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia,

Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung
biaya hidup istri dan anak? Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan
interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya sikapi dengan simpel. Contoh
saja, kalau ada tetangga atau teman yang hajatan, menikah dan sebagainya,
saya tentu saja tidak bisa lagi menutup mata dan menyikapinya dengan konsep-
konsep idealis. Saya harus kompromi
dengan tradisi; hadir, nyumbang... yang ini berarti menambah besar pos
pengeluaran. Semua itu tak perlu menjadi beban saya pada saat saya belum
berkeluarga.

Saat saya dihadapkan pertanyaan menikah pertama kali dalam hidup saya, saya
sempat maju mundur dan gamang dengan wacana-wacana semacam ini. Lama sekali
saya menemukan keyakinan - belum jawaban, apalagi bukti bahwa seorang saya
hanyalah menjadi perantara Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang
ditakdirkan menjadi istri atau anak-anak saya.

Harusnya memang demikian. Itulah keajaiban yang kesekian dari sebuah
pernikahan. Saya sendiri menikah pada tahun 1999, saat umur saya dua puluh
tahun. Saat itu saya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan bakery
tradisional. Tentu saja, saya sudah menulis saat itu kendati interval
pemuatan di majalah sangat longgar. Kadang-kadang sebulan muncul satu
tulisan, itu pun kadang dua bulan baru honornya dikirim.
Dengarkan...! Dengarkan baik-baik bagian cerita saya ini.

Sebulan setelah saya menikah, tiga cerpen saya sekaligus dimuat di tiga
media yang berbeda. Beberapa bulan berikutnya hampir selalu demikian,
cerpen-cerpen saya semakin sering menghiasi media massa. Interval pemuatan
cerpen tersebut semakin merapat. Saat anak saya lahir, pada pekan yang
sama, ada pemberitahuan dari sebuah majalah remaja bahwa mulai bulan
tersebut, naskah fiksi saya dimuat secara berseri. Padahal, media tersebut
terbit dua kali dalam sebulan. Ini berarti, dalam sebulan sudah jelas ada
dua cerpen yang terbit dan itu berarti dua kali saya menerima honor. Ini
baru serialnya. Belum dengan cerpen-cerpen yang juga secara rutin saya
kirim di luar serial.

Tunggu... semua itu belum berhenti. Saat anak saya semakin besar dan semakin
banyak pernak-pernik yang harus saya penuhi untuknya, lagi-lagi ada
keajaiban itu. Satu per satu buku saya diterbitkan. Royalti pun mulai saya
terima dalam jumlah yang... hoh-hah...! Subhanallah...!

Entah, keajaiban apa lagi yang akan saya temui kemudian. Yang jelas, saat
ini saya harus tetap berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya
hanyalah perantara rezeki bagi anak dan istri saya... juga mungkin orang
lain. Dengan begitu, mudah-mudahan saya bisa melepaskan hak-hak tersebut
yang melekat pada uang gaji ataupun royalti yang saya terima.

Ya Allah... mampukan saya.
Sakti Wibowo
Cikutra, Bandung.


Komentar-komentar :

 Palestina Lover -
Ana ga tau harus menulis apa disini, yang jelas, ana cuma mampu berkata "SUBHANALLOH". Doakan ana agar bisa cepat melaksanakan 'niat ini' yah...

 dhewa -
yah....gak bisa begitu juga.namanya perhitungan smatematis seorang manusia juga diperlukan. kan harus ada usaha nya juga.

 Yulie -
Waduh... jadi pengen cepet-cepet nikah nih ......

 taimiyah -
Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, itu yang pernah saya
baca di sebuah buku.
buat mbak Astrina Yuliawati.......
bukunya judulnya apa? pengarang siapa? penerbitnya siapa?
syukron.

 taimiyah -
Ralat:
buat mbak Astrina Yuliawati.......
seharusnya: buat mas Sakti Wibowo
Cikutra, Bandung.
afwan!

 sakti wibowo - Jakarta
Terima kasih sudah mengapresiasi tulisan saya. Salam kenal buat semuanya, terutama Mbak Astrina.
Oya, saya mengundang untuk berkunjung ke blog saya, saktiwibowo.multiply.com

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Ukhti, Selamatkanlah Aku!!

 Benarkah Menikah Didasari Oleh Kecocokan?

 Keinginan Bertemu Pasangan Jiwa

 Nikah Jarak Jauh Via Teleconference

 Pengantin Sederhana

 Menggapai Mahligai Cinta Melalui Pernikahan Barokah

 Saat (non) Ikhwan Harapkan Akhwat

 Detik-detik Menjelang Pernikahan

 Urgensi Niat Dalam Pernikahan

 System Upgrade

 Agar Bisa Lebih Menghargai

 Betapa Indahnya Berumah Tangga

 Agar Tidak (asal) Menikah Dini

 Pernahkah Kamu....

 Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

 Menikah Mengapa Takut?

 Jodoh Antara Doa Dan Usaha

 Stop !!! Gaul Bebas

 Di Balik Tabir Pernikahan

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????

 Menikah Ala Islam, Mudah, Murah Dan Berkah!

 Ada Jomblo Di Tengah Kita

 Hanya Kau Yang Bisa....,,,,,,,,,,!!!!!

 Pengharapan

 Do'a Untuk Kekasihku

 Menikah Bukan Dengan Angan-angan




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com