pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4534 kali

Sighat Taklik Aa Yoga

Karya : Aa Yoga

 

tentang-pernikahan.com - Saya Danang Prayoga Bin Purwoto berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami. Saya akan pergauli istri saya bernama Meli Binti Tomo dengan baik (mu'asyarah bil ma'ruf) menurut syari'at Islam."

Sewaktu-waktu saya meninggalkan istri saya dua tahun berturut-turut, atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya, atau saya menyakiti badan/jasmani istri saya, atau saya membiarkan (tidak mempedulikan) istri saya enam bulan lamanya, kemudian istri saya tidak rida dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima pengadilan, dan istri saya membayar uang sebesar Rp 1.000,00 sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya."

Jakarta, 5 Desember 2004
Suami,


Danang Prayoga


------------------

Hukum Sighat Ta'liq oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
Publikasi: eramuslim.com 22/12/2004 07:50 WIB
Assalamu'alaikum wr. wb.

Berbahagia sekali, saya bisa bersilaturrahim dengan ustadz, mudah-mudahan ini bukan pertemuan yang terakhir. Saya hanya mau bertanya, bagaimana hukumnya membaca ta'liq nikah, yang sering dibaca oleh suami yang baru saja nikah? Dan bagaimana konsekwensinya jika dia melanggar dari isi ta'liq tersebut, misalnya meninggalkan isteri selama lebih empat bulan dengan tidak diberi nafkah dzohir dan batin. Terima kasih atas jawabannya.
Maftuh asmuni

Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Bapak Maftuh Asmuni yang dilindungi Allah, para pembuat undang-undang pernikahan di masa lalu barangkali ingin memberikan semacam perlindungan hukum kepada pihak wanita dengan mengharuskan atau mengajurkan para pengantin laki-laki mengucapkan shighat ini. Tetapi bila pengantin laki-laki tidak mau mengucapkannya, sepenuhnya dia berhak untuk tidak mengucapkannya. Hukum membaca shighat ta'liq sama sekali tidak ada kaitannya dengan syarat dan rukun nikah.

Dan kalaupun suatu saat suami menyadari ada yang salah dalam sighat ta'liq itu, dia boleh saja dia mencabutnya kapan pun dia mau. Maka syarat yang diucapkannya dalam sighat itu menjadi tidak berlaku lagi. Dan selesailah masalahnya.

Barangkali anda tidak termasuk orang yang pada saat menikah membaca shighat itu, sehingga anda kurang mencermati lafaznya itu. Kalau kita perhatikan lafaz shighat ta'liq yang tertera pada buku nikah, akan kita dapati bahwa syaratnya cukup cukup berat untuk jatuhnya talak. Di situ tercantum syarat-syarat yang lumayan rumit sehingga sekedar meninggalkan istri selama setahun untuk kuliah di Saudi Arabia seperti anda tidaklah langsung jatuh talak.

Coba perhatikan teks shighat yang ada pada buku nikah. Di situ jelas tertulis bahwa:

[1] Bila a. Suami menginggalkan istri 2 tahun berturut-turut, atau b. tidak memberi nafkah wajib 3 bulan lamanya, atau c. menyakiti badan/jasmanni istri, atau d. membiarkan/tidak mempedulikan istri 6 bulan lamanya

Kemudian:

[2] istri tidak menerima perlakuan itu
[3] istri mengajukan gugatan cerai kepada pihak pengadilan
[4] pengadilan membenarkan dan menerima gugatan itu
[5] Istri membayar Rp 1.000 sebagai 'iwadh (pengganti) kepada suami,

maka barulah talak satu terjadi. Jadi minimal ada 5 syarat yang harus terjadi. Dan bila salah satu syarat itu tidak terpenuhi, maka tidak ada cerai. Jadi misalnya pihak istri bisa menerima bahwa suaminya tidak memberi nafkah lahir batin selama sekian tahun misalnya dan sama sekali tidak mengajukan gugatan cerai, maka pengadilan tidak berhak untuk menceraikan mereka. Sebab istrinya mau dan rela dibegitukan oleh suaminya.

Atau bila anda meninggalkan istri untuk kuliah di Saudi Arabia selama setahun, dalam hal ini anda tidak langsung dianggap melakukan hal-hal yang tertera di atas. Selama istri anda mau mengerti dan rela atas perjalanan anda, lalu dia tidak mengajukan gugatan cerai ke pihak pengadilan, juga pihak pengadilan tidak membernarkan gugatan itu dan juga tidak menerimanya, lalu istri pun tidak membayar 'iwadh, maka sama sekali tidak ada talak yang jatuh.

Yang bisa jatuh talak adalah bila shighatnya berbunyi -misalnya-: "Kalau saya pergi ke luar Indonesia, maka istri saya telah saya ceraikan". Maka begitu pesawat terbang yang anda tumpangi ke luar dari wilayah RI, saat itu jatuhlah talak satu buat istri anda. Atau bila sighatnya berbunyi, "Kalau saya pergi dan tidak pulang-pulang dalam waktu 1 tahun, maka saya ceraikan istri saya". Maka bila anda tidak pulang ke rumah lebih dari satu tahun, jatuhlah talak satu buat istri anda.

Adalah menjadi kewajiban pihak KUA atau petugas pencatat nikah untuk menjelaskan apa makna dan konsekuensi shighat ta'liq itu. Dan hal itu harus dilakukan sebelum acara akad yang biasanya agak formal dan sakral dilakukan. Calon suami harus tahu betul kedudukan shighat itu agar dia tidak melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak paham maksudnya. Yang jelas, shighat ta'liq itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan syarat, rukun atau sunnah dalam akad nikah. Artinya, tidak dibaca pun tidak apa-apa. Bahkan sebaliknya, bila dibaca maka ada beberapa konsekuensi yang harus diterima.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.


Komentar-komentar :

 Palestina Lover -
Selamat berjuang untuk menyempurnakan Dien yang separonya lagi Akhi. Semoga antum berdua bisa menggapai rumahtangga yang SaMaRa [Sakinah Mawaddah Warohmah].

 kaira - bumi Allah
monambahin aja...jadi SMRT (Sakinah Mawardah Warahmah & Tarbiyah)...better sepertinya.

 Abu Na'im - Balikpapan
Mau tanya ama Akhi Ahmad Sarwat, apakah pembacaan Sighat Takliktermasuk dalam rukun nikah ? Mengapa ini saya tanyakan karena dalam masyarakat kita pembacaan sighat taklik sudah menjadi keharusan dalam pernikahan. Dari buku yang pernah saya baca pembacaan Sighat Taklik tidak pernah saya temukan bahwa suami harus membaca Sighat.Taklik

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Menikah Adalah Keajaiban

 Ukhti, Selamatkanlah Aku!!

 Benarkah Menikah Didasari Oleh Kecocokan?

 Keinginan Bertemu Pasangan Jiwa

 Nikah Jarak Jauh Via Teleconference

 Pengantin Sederhana

 Menggapai Mahligai Cinta Melalui Pernikahan Barokah

 Saat (non) Ikhwan Harapkan Akhwat

 Detik-detik Menjelang Pernikahan

 Urgensi Niat Dalam Pernikahan

 System Upgrade

 Agar Bisa Lebih Menghargai

 Betapa Indahnya Berumah Tangga

 Agar Tidak (asal) Menikah Dini

 Pernahkah Kamu....

 Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

 Menikah Mengapa Takut?

 Jodoh Antara Doa Dan Usaha

 Stop !!! Gaul Bebas

 Di Balik Tabir Pernikahan

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????

 Menikah Ala Islam, Mudah, Murah Dan Berkah!

 Ada Jomblo Di Tengah Kita

 Hanya Kau Yang Bisa....,,,,,,,,,,!!!!!

 Pengharapan

 Do'a Untuk Kekasihku




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com