pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 2314 kali

Allah, Beri Kami Surga Kecil

Karya : Husnul Mubarikah

 

tentang-pernikahan.com - Allah, beri kami surga kecil Rumah syhadu berhias rahmah Di sana tergelar helai-helai sajadah Tempat kami berpinta dan bermunajah

Allah beri kami surga kecil,
Istana mungil bertahta sakinah Tempat kami berteduh melepas lelah Ranjang kokoh bertabur berkah Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah

Allah, beri kami surga kecil

(sebuah sumber)

eramuslim - Ada yang enggan menikah. Bukan ada lagi, bahkan banyak. Salah satu alasan yang paling sering hinggap di telinga adalah kemapanan. Belum punya rumah tinggal. Belum berpenghasilan tetap. Bahkan salah seorang teman kampus menyatakan ia akan menikah setelah mempunyai rumah dan kendaraan beroda empat. Kalau rumah dan mobil belum termiliki, menurutnya kebahagiaan menikah tidak akan ada. Kalau tidak bahagia, buat apa menikah!

Tapi benarkah kebahagiaan menikah melulu terletak pada kemapanan dan ketersediaan materi? Benarkah sakinah terengkuh kalau sudah punya hunian yang nyaman, kendaraan berkelas dan penghasilan yang mencapai nominal tertentu. Bisa jadi demikian tapi sepertinya saya harus menggelengkan kepala. Saya teringat pada seseorang. sahabat karib saya.

Entah di mana ia sekarang. Yang jelas kehidupan ekonominya naik kelas. Lelaki yang menikahinya orang kaya dan mempunyai pekerjaan di tempat yang kata orang 'basah'. Sewaktu dia menikah orang-orang menganggapnya beruntung karena mendapatkan jodoh yang demikian yahud. Suatu ketika Allah memperkenankan kami bertemu. Yupe, ia terlihat lain. Dandanan orang 'berpunya'. Kami mengobrol. Iseng-iseng saya membuka majalah dan menunjukkan kepadanya iklan perumahan. Saya bilang alangkah senangnya punya rumah megah seperti itu. Tapi jawabannya membuat saya terdiam.

"Ah kata siapa punya rumah kaya gitu menyenangkan, siap-siap aza suaminya selalu bergelut dengan pekerjaan, pulang larut pergi dini hari, yang di kepalanya cuma bisnis, waktu baginya adalah uang, mau punya anak aza berhitung minta ampun, kita memang berlimpah harta, tapi di sini sepi," urainya sambil menunjuk dada. Nampak sekali ia gundah. Dan curhatlah ia. Tumpah ruah.

Saya memandangnya lekat. Sama sekali tidak menyangka bahwa menurutnya kebahagiaanya terenggut sejak pertama ia menikahi seseorang yang dipilihkan orang tuanya, beberapa tahun yang lalu. Ia berlimpah kekayaan tapi sungguh ia tidak bahagia.

***

Ini kisah lain. Suaminya sekarang mapan. Sofa mahal itu bukan lagi masalah dan ruang tamunya terlihat lain. Lebih indah dan nyaman. Rumahnya baru direnovasi. Lantai keramik, kitchen set lengkap, kamar mandi ber-shower, belum lagi alat-alat rumah tangga serba elektronik yang ikut diganti menjadi baru dan lebih canggih. Hidupnya menjadi lebih mudah. Dan setiap pulang kampung dengan mobil barunya, maka ia pasti dipuji-puji karena tangan yang ia tempelkan ketika salaman tidaklah kosong.

Orang-orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah kini miliknya. Tapi tunggu dulu! Justru saat-saat sekarang ia jarang mengembangkan senyuman. Jika dengan seksama memperhatikannya, kekhawatiran itu dominan terlihat. Bahkan ia berubah menjadi seorang ibu yang murung dan pemarah. Kesalahan anak-anaknya yang sepele membuatnya menjadi pemberang.

Rumah 'impiannya' berubah megah. Tapi segalanya juga berubah. Suaminya sedikit demi sedikit menjelma diktator yang menciutkan keberadaanya. Titah suaminya sedikitpun tak boleh dicela. Jika suaminya berkata A maka seisi rumah harus utuh menelannya bulat-bulat. Tak ada lagi suami yang senang bercanda dan meleburkan kepenatan kesehariannya. Entah ke mana sosok suami sabar, penyayang dan suka membantu pekerjaan domestiknya. Suaminya berubah menjadi seorang yang asing. Dan hal ini yang membuatnya dadanya sesak, membuat air matanya luruh diam-diam dan menguras energinya untuk tersenyum. Iya kalau materi menjadi berlimpah, tapi ketentraman bathinnya terkikis habis-habisan. Iya jika uang belanja menjadi berlipat-lipat tapi suaminya menjadi sok kuasa dan sering melecehkannya. Yang memilukan adalah suaminya marah-marah jika diingatkan untuk mendirikan shalat.

Kemapanan telah tergenggam, tapi apakah berbanding lurus dengan kebahagiaan yang berkelindan dalam dadanya? Tidak!

***

Saya jadi teringat dengan pesan almarhum ayah. Menurutnya harta bukan jaminan untuk mewujudkan keluarga bahagia. "Harta hanya sementara, sedangkan kebahagiaan seharusnya tetap hadir meski tanpanya," itu katanya suatu saat. Ia menambahkan, yang paling penting dan harus selalu ada dalam rumah tangga adalah pilar agama bukan pilar beton megah. Tanpa agama keluarga seperti minyak wangi dalam botol yang tidak ada katupnya. Semerbaknya hanya sementara, wanginya perlahan menghilang terbawa angin. Indahnya hanya di awal-awal saja. Manisnya berada di permulaan. Seiring waktu berjalan, mereka lupa misi pelayaran keluarga. Dan ketenangan itu sirna. Padahal tujuan berkeluarga adalah merengkuh ketenangan. Maka tak heran ada yang tidak betah lagi tinggal di rumah. Rumah megah itu hanya menjadi tempat singgah. Itu alegori ayah yang saya kenang sampai sekarang.

Siapapun orangnya tentu berkeinginan membangun keluarga penuh kebahagiaan. Karena apa? Karena keluarga bahagia adalah surga. Surga kecil yang Allah hadirkan sebelum surga akhirat dengan segala keindahan dan kenikmatan itu kelak. Keluarga bahagia adalah surga, karena di sana mereka betah bernaung dan menjadi tempat yang paling ingin disinggahi.

Surga kecil. Yah, surga yang hadir terlalu awal. Keluarga yang sakinah.

Allah, beri kami surga kecil!

***

Husnul Mubarikah
* Untuk pengirim artikel "Sepiring Berdua", mudah-mudahan Allah menganugerahi kita surga kecil itu.

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 tintung -
setuju banget.............

 kristin - pekalongan
Kebahagiaan diDunia adalah surga kecil...........

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Risalah Nikah

 Kupinang Engkau Dengan Hamdalah

 Ukiran Dalam Samudera Harapku

 Meriahkan Dunia Dengan Menikah

 Sighat Taklik Aa Yoga

 Menikah Adalah Keajaiban

 Ukhti, Selamatkanlah Aku!!

 Benarkah Menikah Didasari Oleh Kecocokan?

 Keinginan Bertemu Pasangan Jiwa

 Nikah Jarak Jauh Via Teleconference

 Pengantin Sederhana

 Menggapai Mahligai Cinta Melalui Pernikahan Barokah

 Saat (non) Ikhwan Harapkan Akhwat

 Detik-detik Menjelang Pernikahan

 Urgensi Niat Dalam Pernikahan

 System Upgrade

 Agar Bisa Lebih Menghargai

 Betapa Indahnya Berumah Tangga

 Agar Tidak (asal) Menikah Dini

 Pernahkah Kamu....

 Pesan Moral Untuk Ikhwan & Akhwat

 Menikah Mengapa Takut?

 Jodoh Antara Doa Dan Usaha

 Stop !!! Gaul Bebas

 Di Balik Tabir Pernikahan

 Biaya Pernikahan

 Nak, Kapan Kau Menikah?

 Persiapan Muslimah Menjelang Pernikahan

 Resep Menikah - Kue Perkawinan

 Ada Apa Dibalik Pernikahan????




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com