pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 12632 kali

Pacaran Yang Syar'i, Mungkinkah?

Karya : Ahmad Sarwat, Lc

 

tentang-pernikahan.com - Assalamualaikum.

Pak ustadz, saya mau nanya sebenarnya boleh gak sih pacaran itu? Soalnya temen-temen saya pada bilang tergantung niatnya. Terima kasih atas perhatiannya.

Assalamualaikum,
Dhela

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Bukan tergantung niatnya, tapi tergantung caranya. Kalau niatnya, pastilah semuanya berniat baik-baik. Namun yang menjadi masalah justru pada caranya. Katakanlah niatnya baik, yaitu untuk dijadikan ajang penjajakan atau saling kenal satu sama lain, menuju ke jenjang berikutnya yaitu perkawinan. Nah, niat yang seperti ini sebenarnya bisa diterima secara syariah.

Memang di dalam syariah Islam, sebelum seseorang menetapkan calon pasangan hidup, ada anjuran untuk melakukan penjajakan. Agar terjadi saling kenal dan saling paham, antara calon suami dan calon istri. Hal seperti ini tidak dilarang dalam Islam, bahkan sebaliknya, justru amat dianjurkan.

Sebab dahulu ada seorang shahabat yang bercerita bahwa dalam waktu dekat akan dia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita. Ketika Rasulullah SAW menanyakan apakah dia sudah mengenal calon istrinya, shahabat itu mengatakan belum. Maka Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mendatangi wanita itu, untuk mengenal lebih dalam, sebelum memastikan pernikahannya.

Jadi dari sisi tujuan, sebenarnya sudah benar, yaitu bila tujuannya untuk saling mengenal (ta'aruf). Tinggal bagaimana teknisnya, itulah yang justru menjadi batas halal dan haramnya.

Kalau teknisnya adalah dengan jalan-jalan berdua, naik motor boncengan bersama, bergandengan, berpelukan, kencan makan malam berdua di tempat romantis, atau bahkan sampai liburan berdua, menginap di hotel (chek in) dan yang sejenisnya, tentu saja haram. Bahkan sekedar apel atau wakuncar sekalipun tetap haram, jika mereka melakukannya hanya berdua saja, tanpa ada kehadiran mahramnya. Meski niatnya baik, tapi bila caranya haram, maka pacaran itu hukumnya haram.

Lalu bagaimana yang halal?

Minimal tidak terjadi khalwat (berduaan), sebab yang ketiganya adalah syetan. Sebagaimana telah dilarang oleh Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan wanita kecuali bersama mahram" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari 'Uqbah bin 'Amir ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan wanita kecuali yang ketiganya adalah syetan." (HR Tirmizy)

Maka kalau mau pacaran, selain masalah niat harus suci, pastikan tidak ada acara berdua-duaan. Pacaran harus ditemani langsung oleh ayah si gadis. Atau saudara laki-lakinya atau siapapun yang menjadi mahramnya.

Kalau berdua-duaan saja sudah haram, apalagi sentuhan tangan, baik untuk bersalaman, atau pun berpegangan tangan, berpelukan atau pun mengenggam jari pasangannya.

Dan yang lebih penting dari semua itu, masing-masing tetap wajib menutup aurat sesuai dengan aturan syariah. Yang wanita wajib memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Pakaian itu harus lebar, tidak mencetak lekuk tubuh, tidak tipis atau transparan, juga tidak memakai wewangian yang mengundang nafsu seorang laki-laki. Tidak menggunakan make berlebihan pun yang juga bisa mengundang daya tarik calon suami, sebab biar bagaimana pun mereka masih orang asing, tidak halal hukumnya, kecuali setelah terjadinya akad nikah yang sah.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-Ahzab: 59)

Bila masing-masing pihak telah merasa cocok, sebaiknya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk segera menikah. Sebab selama masa menunggu itu, syetan tetap saja mengintai dan mencari serta mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke celah-celah yang rawan. Kalau memang tidak ada alasan yang telalu syar'i, semakin cepat ke hari pernikahan akan semakin baik. Jangan biarkan relung hati disusupi dan disisipi iblis laknatullah.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 anto - jogjakarta
stuju dengan pendapat ustadz..
sebenernya saya juga sudah ada komitmen dengan seorang akhwat, sejujurnya dalam hati saya, saya sangat ingin sekali menyegerakan ke jenjang pernikahan, saya takut terlalu lama nanti syaiton akan masuk ke sela2 yang rawan seperti yang dikatakan ustadz, tapi masalahnya saya belum mendapatkan pekerjaan yang pantas saya andalkan untuk menafkahi istri saya nantinya, saya masih khawatir orang tua belum merestui karena lantaran saya blom ada pekerjaan yang bisa diandalkan (hal yang wajar dan sangat saya pahami betul), karena itulah selama ini saya terus berdoa supaya diberi kemudahan oleh Alloh, supaya diberi jalan, supaya diberi petunjuk bagaimana saya harus melangkah..
insya Alloh secara batin kami sudah siap, buat apa menunggu lama, karena sesuatu yang baik kenapa mesti ditunda..
saya terkadang merasa iri, kenapa pasangan yang sudah mampu, sudah bekerja, sudah dapat menafkahi diri sendiri kenapa tidak mensegerakan menikah, sementara saya...
memang usia kami masih terhitung relatif muda, kami baru 20 tahun, baru saja lulus kuliah..
ya rabb tnjukanlah cara bagai mana saya harus melangkah..
alangkah indahnya jika kami bisa menyempurnakan setengah dien dan mengikuti sunah Rasul-Mu ya rabb..

 tedy - Bandung
sgt stuju skali dgn apa yg pa ustadz kemukakan... tp klihatannya saat ini (kbanyakan org) mengganggap pacaran sbagai suatu hal yg lumrah. malahan orang tua lebih cenderung memberikan kesempatan seluas-luasnya kpd anak mreka untuk berpacaran dan bahkan mreka membiarkan anaknya berkhalwat dgn lawan jenisnya... malahan ada sbagian orang tua yg takut klo anaknya tdk pernah terlihat mengajak seorang teman lawan jenis ke rumah pada malam minggu... aneh skali bukan?

saya juga sebenarnya sudah menjalin suatu komitmen dgn seorang akhwat, dimana dia dan saya sendiri sudah sama2 bekerja... walaupun usia dia beberapa minggu lebih tua dari saya... yang jadi beban persoalan sebenarnya ada di saya... dimana saya adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, dan smua kakakku blum ada yg menikah, trutama kakak perempuanku yg pertama... smua jg tau khan dlm adat qta klo mendahului kakak perempuan agak kurang sopan... tapi aku berusaha menerima smua ini dengan cara menjaga jarak terlebih dahulu dengan akhwat tersebut...
smoga Allah senantiasa memberikanku kekuatan dalam menjalaninya... amien

 Poer - Bumi Allah
Pacaran sebenarnya tidak ada dalam Islam. Ta'aruf bukanlah pacaran. Temen-temen kita sering mencari alasan untuk membolehkan pacaran; ada yang mengatakan boleh asal islami padahal sesungguhnya mereka hanya tidak mau disalahkan. Bagaimana mau islami padahal jelas-jelas dilakukan dengan cara berkhalwat yang jelas hukumnya haram. Jika memang sudah merasa cocok, maka menikahlah segera karena hal itu lebih menyelamatkan kita dari dosa.

 lee_a - malang
Ass......
Pacaran dalam kaca mata islam tidak ada, pendapat diats klo menurut saya lebih keta'aufnya, klo org awam yg baca pasti mengira pacaran sama dengan ta'aruf yg diperbolehkan. Lebih diperjelas lagi. Tapi saya setuju dengan jawaban ustadz. Sekarang banyk fenomena pacaran islami padahal gak ada yang ada ta'aruf baru nikah. Selamat Berta'aruf bagi yg ingin segera menyempurkan dien.
Wass............jazzumullah ats perhatiannya

 Idair_sat - Cicekap
Ass...
Komentar apaa yach..!??!soalnya jawaban yang diberikan sama ustadz udah cukup bijak,dan tentu saja saya sangat setuju dengan pendapat tersebut.Otomatis yang di-HARAM-kan itu khan berarti segala bentuk aktifitas "Unlimited" tiada batas yang ada di dalam acara bertajukan "PACARAN" tersebut, mulai dari berdua-an ke sana ke- mari sampai aktifitas kelas kakap yang hampir mendekati zina yang sesungguhnya(na'udzubillahimindzalik)(pokokek yang berbau 2, dua, dua, dua'an, dudua'an, berdua alias berkhalawat thea).
Sama seperti Akh Anto & Akh Tedi,Insya Allah (mohon do'a restunya juga dari pembaca) sudah membangun komitmen dengan seorang akhwat.Untuk saat ini, sepertinya saya belum cukup matang untuk menghadapi jenjang pernikahan yang sarat akan ibadah ini. untuk itu seperti halnya akh tedi, saya mencoba untuk menjaga jarak terlebih dahulu dengan sang akhwat tersebut. semoga Allah senantiasa memberikan ke-istiqamah-an pada hati kami......amin ya rabbal alamin
Wass....

 Along,Angah - makassar
assalamualaikum wr.wb
komentar apa ye...aku sih setuju banget dgn penjelasa, pa ustadz tentang pertanyaan, tadi. tapiii kan bisa saja muncul pertanyaan baru, gimana kalau pacaran jarak jauh ( lewat telpon , email, n smsan)?yang pembicaraannya kadang menjurus ke sesuatu yang haram. by the way, aku ngerti banget dengan jawaban dari ustadz.

 ukhti muslimah - solo
ass.wr.wb
ana agak kurang setuju ama p'jelasan pak ustadz tadi.Walaupun ditemani ama bapaknya si akhwat, emangnya bisa mencegah dari zina hati? di Al-Ahzab 53 ada perintah untuk dihalangi hijab jika b'temu lawan jenis, trz masa' qta mw pacaran pake hijab?
pacaran islami=pacaran setelah menikah

 anak_bumi - Bandung
Memangnya ada ya yang seperti itu? dan diperbolehkan? jadi tambah bingung..... ane ingin cerita, sebenernya ada akhwat ane ingin coba untuk bangun komitmen seperti itu...Tapi suka ragu (takut salah sebenernya) untuk ngomong langsung ke akhwatnya... Soalnya kan sepertinya uda ngasih label "punya gw" ke akhwat itu...
Arrrgggghhh bingung....

 heri purwanto - ngayogyakarto hadiningrat
saya sangat setuju apa yang pak ustadz katakan.tentang masalah menikah memang banyak versi tetapi kalau menurut saya apa yang saya baca dalam bukumya bapak fauzil adhim tentang bab pernikahan memang nikah adalah sesuatu yang wajib bagi yang sudah mampu.bahkan didalam hadis dikemukakan banwa allah tidak memandang orang yang meninggal dalam keadaan masih bujangan, dalam artian bahwa menikah itu memang wajib.jujur saja saya memang mempunyai hubungan dengan seorang akhwat yang sangat saya cintai tapi ortu saya sepertinya belum setuju kalau sekarang saya menikah.semoga allah selalu menguatkan hati saya dan membukakan hati kedua ortu saya tentang pentingnya nikah karena nikah dapat menjaga farji' kita dan dari hal-hal yang berbau negatif dan kemaksiatan.Amiiiiiiiiiiiiiiin.

 tri bagus h - griyoo
saya sngat setuju dengan pak ustad.karena dengan berpacaran iru hukaumnya haram dan lebih baik langsung menikah saja.dr pada harus berpacaran,, berpacaran adalh sama dengan ZINA. allah tidak menyukai perzinaan hukumnya haram.dan sekarang perzinaan marak sekali dan oleh karena itu sebagai pemuda muslim sebaiknya kita tahu mana yang benar dan mana yang salah.

 Akhwat_Smansa - Solo
Ass.wr.wb.kan setiap anggota tubuh ada zinanya, mungkin kalo spt itu g zina tangan, tp gmn dgn zina hatinya?Ato mungkin zina mata sulit dihindari coz klo g ada hijabnya pasti ada kesempatan buat curi2 pandang. gmn ni pak ustadz? masak ada pacaran yg ky gt? ana se7 ama pdptnya ukhti muslimah-solo:
pacaran islami=pacaran setelah menikah

 fitri - jakarta
Sepengetahuan saya pacaran dalam islam tidak ada. Tapi sebagai manusia normal yang ingin menikah harus dan pasti saling mengenal. Hanya saja sejauh mana pengenalan itu. Dan saya sepakat kalo itu tergantung dari niat. Niat yang baik akan menumbuhkan hasil yang baik.

 arif - bekasi
saya setuju dengan argumen pa ustad . . . memang yang sangat sulit adalah pacaran di kalangan remaja sudah menjadi budaya.sepertinya harus timbul dari dalam diri untuk melakukan hal yang melawan semua budaya itu.

 Dee - palembang
memang bener seh yang namanya pacaran tu g' ada dalam islam.enaknya seh pacaran itu setelah menikah.semua kita lakukan jadi halal.

 Green - A
he.. he... pacaran dengan alasan apapun ya namanya pacaran klo ditambahi pacaran islami, atau yg carane islami ah itu cuma berlindung dibalik nama agama, ... klo pacaran ya pacaran aja jangan bawa2 nama islam ya ga, klo islam ya datanglah ke ortunya,melamar lalu persiapkan lahir dan batin trus nikah deh...

 Raymond - Malang
menurut ana Pacaran=Ta'ruf hanya istilah saja atu ada (penyempitan bahasa) sebenarnya ta'ruf at pacaran boleh-boleh saja bahkan dianjurkan selama itu sesuai denagn ketentuan Allah.Enggeh..kulo setuju pak ustadz. Syukron artikelnya

 si pria kesepian - bandung
ustd ana pingin nikah ... gmn cara nya ...
soalnya selalu kurang beruntung nih .....
bisa cariin ustd... klo engga do'anya ...!!!

 Wahyu Widodo - Yogyakarta
Assalamualaikum.wr.wb.
Ana sependapat dengan Ustadz. Jazakalloh khoir.
@ Along,Angah - makassar, via telephone, chatting apabila didalamnya terdapat maslahat(kepentingan urgent) Insya Alloh tidak apa-apa. Namun yang tidak diperbolehkan apabila pembicaraan tersebut ngelantur misal menanyakan dah makan belum, sedang apa, dll itu menjadi haram(tidak boleh).
lebih selamat insya Alloh hanya dengan Nikah

 WINDARI - SOLO
SUKRON AL_USTADZ,,,,,,,,,,Saya sangat setuju sekali dengan pendapat sampean.tapi saya pribadi juga berada dalam kebingungan.
saya menyukai seorang yg berbeda jenis dengan saya tapi saya belum menjadi yang halal untuknya,
kepengen sekali bisa enjalin silaturahmi tanpa ada sedikitpun dari sikap mawpun perbuatan ana yang salah. namun sikon belum mendukung hal itu.
ana masih menjalani pndidikan dijenjang perkuliahan yang menelen biaya yg tidak sedikit,pa lg dtambah perjanjian perkuliahan kalo tidak bole hamil selama masi dlam masa kuliah.
saya bingung ustadz,jaln mana yg harus ana tempuh.
kalo saya nekat menyegerakan nikah,saya takut orang tua syok mendengarnya karna saya baru memulai jenjang perkuliahan ini.

 Arif...66 - Rembang
Silahkan baca BULETIN AL FURQON TAHUN KE3 Tentang Pacaran dalam kacamata Islam.
Bagiku pacaran Ya Haram yang namanya ta'aruf atau Hitbah bukan Pacaran, deskripsi dan Cara2nya sudah sangat berbeda.

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Bolehkah Perempuan Melamar Terlebih Dahulu?

 Makna Sakinah, Mawaddah Dan Rahmah

 Rahasia Jodoh

 Masuk Islam Untuk Menikah Tidak Direstui Orang Tua, Apakah Termasuk Durhaka?

 Pengantin Bidadari

 Berlebih-lebihan Dalam Meminta Mahar

 Kenapa Harus Menikah?

 Diteror Mantan Pacar Menjelang Pernikahan

 Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu...

 Malam Pertama Dengan Bidadari Surgaku

 Pacaran Boleh Ngga Ya?

 Pernikahan Rosululloh Saw Dengan Siti Khodijah

 Pernikahan Nabi Yusuf Dengan Zulaikha

 Pernikahan Nabi Sulaiman Dengan Ratu Bulqis

 Pernikahan Nabi Musa Dengan Puteri Syafura

 Pernikahan Nabi Adam

 Gaun Pengantin Untuk Muslim

 Tidak Perawan Lagi, Haruskah Diberitahukan Kepada Calon Suami?

 Biaya Pernikahan

 Tidak Perawan Lagi, Haruskah Diberitahukan Kepada Calon Suami?

 Pertunangan, Lebih Singkat Lebih Baik

 Memilih Ibu Atau Kekasih Yang Non Muslim

 Merit Dulu, Pacaran Kemudian

 Buat Yg Belum, Akan & Telah Menikah

 Nasehat Qur'ani Tentang Pernikahan

 Ketika Ajakan Menikah Ditolak

 Persiapan Mental Untuk Menikah Itu Seperti Apa?

 Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah

 Berani Menikah

 Apakah Bisa Menikah Tanpa Cinta?




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com