pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 7492 kali

Berencana Untuk Menikah Tapi Hidup Terpisah

Karya : Ade Anita

 

tentang-pernikahan.com - Tanya: Assalamualaikum Wr.Wb

Mba Ade Anita, setelah saya baca artikel yang ada di kafemuslimah.com, saya tertarik untuk bertanya (curhat ).
Saya seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota B, juga bekerja di perusahaan swasta, umur saya 21 tahun. Saya sudah bertunangan sekitar 2 bulan yang lalu, sebenarnya kami (saya dan tunangan saya ) berencana ingin menikah tahun depan, cuma yang jadi masalah....tunangan saya bekerja + kuliah di kota S (hubungan jarak jauh). Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah kami telah memilih keputusan yang tepat dengan bersegera menikah (karena takut terjerumus dalam hal yang tidak baik. hubungan kami sudah 4 tahun ), sementara jarak kami berjauhan dan kami pun belum menyelesaikan studi kami ?
2. Saya berencana jika sudah menikah kelak, akan pisah dari orang tua (Mengontrak rumah sendiri ), Tapi apakah masyarakat tidak akan merasa aneh? Maksudnya masa sudah menikah tapi tinggal sendiri tanpa suami, malah berjauh-jauhan.
3. Apakah rencana kami tersebut tidak akan menimbulkan banyak madhorot ?

Terima kasih ya mba.....

Wassalam
Muslimah

Jawab;
Assalamu?alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sebelum saya menulis tanggapan, perlu saya tekankan bahwa sebuah pertunangan bukan berarti melegalkan sebuah hubungan antara pria dan wanita. Artinya, meski sudah bertunangan, antara ukhti dan tunangan ukhti tetap dalam pandangan Islam sebagai pasangan pria dan wanita non mahram (karenanya tetap terkena tata aturan hubungan antara pria dan wanita yang harus ditegakkan). Meski sudah ada kepastian bahwa kalian akan menikah tahun depan sekalipun. Jadi, hati-hati yah ukhti. Jangan mentang-mentang sudah bertunangan lalu beranggapan bahwa dia ?sudah pasti akan jadi suami? dan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama kita.

Berikut ini jawaban saya atas pertanyaan ukhti:

1. Insya Allah keputusan untuk menikah itu adalah keputusan yang sudah tepat. Mengingat hubungan kalian yang sudah terlalu lama (4 tahun itu waktu yang amat banyak, entah apa saja yang sudah kalian lakukan selama kurun waktu sepanjang itu. Tapi apapun yang kalian lakukan, insya Allah semua akan kalian pertanggung-jawabkan di akherat kelak). Malah kalau bisa disegerakan agar bisa cepat terhindar dari fitnah.

Tentang jarak yang memisahkan kalian (karena masing-masing sudah bekerja dan masih kuliah di tempat yang berjauhan), hal ini sebenarnya pada jaman sekarang bukan kendala yang berat sangat. Di jaman sekarang ini ada banyak sekali pilihan alat transportasi dan alat komunikasi yang bisa membuat kalian tetap merasa bersama meski sebenarnya kalian terpisah dengan jarak yang cukup jauh.

Tidak bisa dipungkiri, sudah menjadi biasa pada jaman sekarang suami istri hidup terpisah lain kota. Bisa jadi karena pertimbangan pekerjaan (dimana masing-masing punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau ada peraturan dari kedinasan untuk sebaiknya tidak membawa serta keluarga. Yang terakhir ini biasanya untuk mereka yang jadi TKI di luar negeri atau mengikuti tugas belajar ke luar negeri), atau bisa jadi juga karena pertimbangan biaya hidup (kalkulasi biaya hidup di kota besar cukup besar untuk mereka yang berpenghasilan kecil. Cara jitu untuk mengantisipasi masalah tersebut, salah satunya adalah pencari nafkah hidup di kota untuk bekerja sedangkan keluarga, biasanya istri, anak-anak, orang tua dan sanak saudara, hidup di luar kota atau desa. Setiap bulan pencari nafkah bisa mentransfer sebagian besar gajinya ke desa/luar kota. Dengan begitu, keluarganya bisa hidup lebih layak ketimbang ramai-ramai hidup di kota dengan penghasilan kecil. Bisa juga karena pertimbangan lain-lain (misalnya pertimbangan keamanan untuk kepala keluarga yang ditugaskan di daerah konflik atau pedalaman, biasanya mereka lebih memilih untuk hidup terpisah dengan keluarganya demi memikirkan keamanan anggota keluarga tersebut).

Yang terpenting disini adalah komitment bersama antara pasangan suami istri yang bersangkutan. Yaitu bahwa mereka akan saling percaya satu sama lain dan akan tetap menjalin hubungan komunikasi (jalinan komunikasi yang dibangun pada mereka yang hidup terpisah, tidak boleh terputus sama sekali dan benar-benar harus dilandasi rasa percaya, terbuka dan ikhlas. Karena dengan komunikasi inilah perasaan cinta dan kasih sayang insya Allah akan terus terpelihara. Ada banyak media komunikasi yang bisa digunakan, seperti telepon (saat ini malah sudah mulai diperkenalkan telepon selular dengan fasilitas 3G, dimana kita bisa berkomunikasi dengan orang yang menelepon kita dengan cara tatap muka secara langsung melalui layar handphone. Coba deh cek perusahaan provider HP apa yang sudah memilikinya dan tentu saja harus punya HP dengan fasilitas 3G), sms, mms, chatting (sekarang chatting malah ada yang sudah bisa menggunakan videocam+voice loh), surat-menyurat, faks, bingkisan, kehadiran secara berkala dan tentu saja wesel.

Jika memang sudah berkomitment untuk menikah dengan cara hidup terpisah, yang harus mulai dipikirkan itu saat ini bagaimana cara berkomunikasinya kelak. Siapa mengunjungi siapa untuk kurun waktu tertentu? Kapan jadwal pertemuan rutin? Berapa biaya yang harus disisihkan agar pertemuan tersebut bisa terjadi (harga tiket/karcis kan harus dimasukkan dalam anggaran rutin bulanan nantinya). Berapa biaya yang harus disisihkan untuk melakukan komunikasi (meliputi biaya sewa warnet, beli pulsa/voucher, dll, semua harus mulai dianggarin nantinya). Tapi yang lebih utama, harus saling terbuka dan saling percaya pada pasangan masing-masing.

2. Masyarakat kita sudah mulai terbiasa deh tampaknya dengan pemandangan suami istri yang hidup terpisah lain kota (karena memang ada banyak kondisi yang memungkinkan untuk itu). Kalau sudah begitu, kita jujur saja jelaskan pada mereka apa pertimbangan kita hingga menjalani hidup seperti itu (paling tidak masyarakat tahu bahwa kita bukan wanita simpanan siapa-siapa hehehe). Tapi, kalau kamu tinggal di kost-kostan/rumah kontrakan yang berbentuk barak/dempet-dempetan, biasanya sih yang bertanya paling cuma ibu kost/pemilik rumah kontrakan dan sesama penghuni kiri-kanan saja, masyarakat sekitar biasanya cuek-cuek saja deh. Kecuali kalau kamu nanti hamil, baru mereka bertanya. Tapi sekali lagi, jelaskan saja apa yang terjadi, agar tidak timbul fitnah.

Menurut saya, yang harus dipikirkan itu, jika kamu hamil dan punya anak, bagaimana cara mengasuh si anak kelak karena kamu tinggal sendiri di rumah kontrakan? Harus dipikirkan apakah si anak akan dititipkan pada pembantu, atau dititipkan di penitipan pengasuhan anak sementara (kalau di luar negeri namanya child care), atau mau dititipkan di orang tua sepanjang hari terus malamnya kamu ambil lagi?).

Yang kedua, jika kamu memang mau hidup sendiri di rumah kontrakan, sebisa mungkin usahakan untuk tidak mendatangkan tamu laki-laki ke dalam rumah selagi rumahmu tidak ada siapa-siapa selain dirimu. Jika ada teman pria (baik rekan kerja atau teman main) ingin berkunjung, minta dia mengajak orang lain, atau kamu undang orang lain untuk menemani kalian. Hal ini penting, pertama agar kamu tidak tertimpa fitnah dari masyarakat yang melihatmu dan kedua agar kepercayaan yang dibangun antara dirimu dan suamimu tidak hancur hanya karena prasangka yang tidak-tidak. Bahkan, akan lebih baik untuk mencari rumah kontrakan yang menyediakan teras luar, taruh kursi dan meja disana meski ala kadarnya. Jadi, kalau ada tamu pria datang sendirian (entah itu pak RT, hansip, salesman, teman dll), layani dan terima saja dia di teras luar yang diberi bangku tersebut (maaf, bukannya paranoid atau berlebihan, tapi saya pikir ini akan lebih baik untuk wanita yang hidup sendiri di rumah kontrakan, apalagi jaman sekarang dimana sulit membedakan mereka yang punya pikiran jahat atau tidak).

3.Hmm. Silahkan mulai mengkalkulasi sendiri manfaat dan mudharat hidup terpisah, diskusikan dengan calon suamimu. Apakah masih ada alternatif lain yang bisa diambil (misalnya salah satu pindah bekerja ke kota yang sama dengan pasangannya, dll). Pikirkan dengan dewasa dan bertanggung-jawab yah (jangan ngotot-ngototan mempertahankan yang dirasa lebih baik).
Ambil wudhu dan iringi diskusi kalian dengan shalat istikharah, minta Allah membimbing kalian untuk mendapatkan yang terbaik.
Semoga kalian mendapatkan yang terbaik. Amien.


Wassalamu?alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ade Anita

Sumber : www.kafemuslimah.com


Komentar-komentar :

Blom ada yang ngasih komentar ... :(

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Ini Adalah Kisah Yang Sudah Sangat Melegenda : Atas Nama Cinta

 Jauh Jodoh Karena Tanda Lahir Di Pipi

 Belum Ada Jodoh, Mas...

 Bersediakah Engkau Menjadi Isteri Saya

 Jangan Ada Dusta

 Saya Di Amerika Dan Calon Istri Di Indonesia, Bisakah Menikah Jarak Jauh?

 Nikah Jakarta Mesir Melalui Media Komunikasi, Bagaimana Caranya?

 When You're Falling In Love

 Keluarga Calon Suami Ingin Melamar Seminggu Sebelum Menikah

 Ingin Bertaubah Nasuha Dan Menikahi Bekas Pacar

 Calon Isteri Sudah Tidak Perawan

 Mencintai Seseorang Yang Sudah Menikah

 Diskusi Jomblo Dengan Non Jomblo

 Pacaran Yang Syar'i, Mungkinkah?

 Bolehkah Perempuan Melamar Terlebih Dahulu?

 Makna Sakinah, Mawaddah Dan Rahmah

 Rahasia Jodoh

 Masuk Islam Untuk Menikah Tidak Direstui Orang Tua, Apakah Termasuk Durhaka?

 Pengantin Bidadari

 Berlebih-lebihan Dalam Meminta Mahar

 Kenapa Harus Menikah?

 Diteror Mantan Pacar Menjelang Pernikahan

 Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu...

 Malam Pertama Dengan Bidadari Surgaku

 Pacaran Boleh Ngga Ya?

 Pernikahan Rosululloh Saw Dengan Siti Khodijah

 Pernikahan Nabi Yusuf Dengan Zulaikha

 Pernikahan Nabi Sulaiman Dengan Ratu Bulqis

 Pernikahan Nabi Musa Dengan Puteri Syafura

 Pernikahan Nabi Adam




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com