pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4461 kali

Kapan Peran Ayah Sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan?

Karya : Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

 

tentang-pernikahan.com - Assalaamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang baik, mohon tulis nama saya dengan sebutan Ukhti saja untuk menghindari kesalahpahaman atau menjaga kebaikan seseorang. Syukron.

Ustadz, jika seorang ayah masih hidup dan masih sehat, bisakah perannya sebagai wali digantikan oleh orang lain karena beliau tidak menyetujui calon suami anaknya? Kalau boleh, dalam kondisi seperti apa yang membolehkan dan siapa yang boleh menggantikan? Adakah landasan hukum yang kuat untuk hal ini?

Jazakallahu khairan katsira,

P

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Izin dari seorang wali itu memang harus didapat dan tidak boleh didapat dengan cara merampasnya begitu saja. Ketidak-setujuan orang ayah kandung untuk menikahkan puterinya dengan seseorang perlu dihormati sepenuhnya.

Bukan apa-apa, sebab di dalam syariah Islam, kedudukan ayah kandung itu memang sangat tinggi, mulia dan 'berkuasa mutlak'. Dan hal itu wajar kalau kita merunut ke belakang, bukankah seorang puteri tidak akan pernah lahir ke dunia ini kalau bukan dari benih sang ayah kandung? Mau diapakan pun, tetap saja darah yang mengalir di tubuh seorang wanita itu adalah darah sang ayah.

Bahkan DNA yang dimilikinya sesuai dengan DNA sang Ayah, di mana DNA itu tidak mungkin diganti atau ditukar selamanya.

Jadi wajar bila di dalam syariah, kedududkan ayah kandung sebagai wali sudah sangat kuat dan mutlak. Apalagi mengingat bahwa yang berkewajiban secara syar'i untuk memberi nafkah, melindungi, menemani dan mendidikannya pun juga si ayah itu.

Tidak ada celah sedikit pun buat seorang wanita untuk menikah dengan siapapun kecuali atas wewenang sang ayah. Salah besar bila orang menafikan kedudukan ayah dalam urusan pernikahan. Bahkan idealnya, seorang wanita tidak boleh mencari pasangan hidup sendiri, kecuali setelah berdiskusi dengan ayahnya. Kalau sampai secara diam-diam seorang wanita menjalin hubungan dengan laki-laki, lalu ternyata sang ayah tidak setuju, maka kewajiban anak itu adalah patuh kepada sang ayah.

Dia harus melepaskan calon pilihannya dan ikut dengan kehendak ayah. Semua itu adalah salahnya sendiri, sebab seorang wanita dalam Islam tidak pernah berada dalam kapasitas menentukan pasangan hidupnya kecuali atas izin dan kerelaan sang ayah. Paling tidak, ayah punya nilai share yang tidak bisa dinafikan.

Ibarat dua orang memiliki benda secara sharing, maka salah satu pihak tidak boleh secara sepihak menjual benda itu atau menyewakannya kepada orang lain. Kecuali setelah ada kesepakatan antara keduanya.

Contoh lainnya yang juga bisa mendekatnya persoalan misalnya, seperti seorang tinggal di rumah orang tuanya. Meski dia berhak tinggal di situ, tetapi biar bagaimana pun rumah itu milik orang tuanya. Si anak tidak bisa secara sepihak tiba-tiba menawarkan rumah itu kepada orang lain untuk dijual. Kalau sampai ada orang tertarik untuk membeli rumah itu, lalu si ayah sebagai pemilik rumah tidak setuju, si anak tidak punya hak untuk memaksa menjual. Sebab rumah itu milik si ayah, bukan milik si anak. Kalau sengketa ini dibawa ke pengadilan, sudah pasti anak dan calon pembelinya kalah, bahkan bisa dipenjara. Karena menjual barang yang bukan haknya.

Demikian juga dalam kasus wali nikah, kalau si puteri memaksa kawin lari dengan laki-laki pilihannya dan menginjak-injak wewenang sang ayah, dia sudah berdosa sekaligus durhaka kepada ayahnya. Dan yang penting, pernikahannya itu tidak sah dalam hukum Islam. Kalau melakukan hubungan suami istri, itu adalah zina dengan dosa yang sangat besar dan wajib dirajam/cambuk.

Maka sejak dini seorang wanita harus tahu bahwa kedudukan sang ayah bagi dirinya memang sangat mutlak. Maka ajaklah, dekatilah, ikutilah dan turutilah beliau sejak awal mula memilih calon suami, agar jangan sampai beliau menolak di tengah jalan.

Wallahu a'lam bishshawab wasslamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 cabaran - jakarta
itu kan secara umum. dalam agama kan tentu ada kasus. bgm kalau sang ayah tidak diketahui tempatnya, bahkan untuk dicari pun sangat sulit. bagaimana pula jika sang ayah tak berperan sebagai ayah yang baik: selama menjadi ayah ia berlaku fasik. Jangan bilang tak ada, saya bisa menunjukkan seratus orang ayah yang seperti itu di sekitar tempat tinggal saya di Jakarta. penjelasan jangan berhenti di situasi normatif saja dong, Tad. Menyesatkan itu namanya....

 nia - malang
bagaimana kalau ayah saya seorang dholim, telah menelantarkan & tdk memberi nafkah sama sekali kpd anak2nya .apakah ayah spt itu tetap dijunjung tinggi dlm syariah islam ???

 ade - Solo
Dari Ibnu Abbas RA: Sesungguhnya ada seorang wanita (gadis) datang kepada Rasulullah kemudian menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dia, tetapi dia tidak suka (pernikahan itu), maka Nabi SAW menyuruh dia untuk memilih (melanjutkan dilangsungkannya pernikahan itu atau tidak). (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Hadits diatas secara eksplisit menyebutkan bahwa seorang ayah harus meminta persetujuan anak gadisnya terlebih dulu sebelum memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang laki-laki. Maka, seorang ayah tidak bisa memaksa puterinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disukai. Karena syariah memberikan hak pada seorang perempuan (baik gadis maupun janda) untuk menerima atau menolak sebuah pinangan.

 wulan - lombok
saya tidak setuju sekali, kenapa hanya anak dan seorang wanita saja yang di pojokan,di salahkan,tidak tahukah banyak org terutama saya yg tidak di perdulikan oleh ayah saya dan tidak pernah mmberikan hak saya dan nafkah kepada anak2nya,sudah belasan tahun saya menahan kesabaran ini,dan masihkah seorang anak pantas bersalah

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Menikah Tanpa Penghulu

 Wali Nikah, Apakah Harus Selalu Ayah Kandung?

 Status Pernikahan Dan Anak Karena Married By Accident

 Bagaimana Hukumnya Menikah Siri Dengan Wali Hakim?

 Antara Agresif, Pasrah Dan Proaktif

  Menikah Bukan Unjuk Prestasi

 Agar Cinta Bersemi Indah

 Menanyakan Malam Pertama Ke Orang Lain

 Berteman Tapi Mesra

 Pernikahan Mungkin Benar Sebagai Pembuka Pintu Rezeki

 Mendambakan Wanita Yang Bisa Mendekatkan Diri Kepada Allah

 Hiasan Janur

 Apakah Dalam Ijab Kabul Pernikahan Kedua Mempelai Harus Disandingkan?

 Doa Yang Terlupa

 Calon Isteri Lebih Tua, Orangtua Tidak Setuju

 Menikahi Wanita Yang Punya Pacar, Berdosakah?

 Awalnya Tidak Suka Tapi Akhirnya Berharap

 Antara Nikah Dan Thalabul 'ilmi

 Status Si Dia: Adik, Sahabat, Pacar?

 Berencana Untuk Menikah Tapi Hidup Terpisah

 Ini Adalah Kisah Yang Sudah Sangat Melegenda : Atas Nama Cinta

 Jauh Jodoh Karena Tanda Lahir Di Pipi

 Belum Ada Jodoh, Mas...

 Bersediakah Engkau Menjadi Isteri Saya

 Jangan Ada Dusta

 Saya Di Amerika Dan Calon Istri Di Indonesia, Bisakah Menikah Jarak Jauh?

 Nikah Jakarta Mesir Melalui Media Komunikasi, Bagaimana Caranya?

 When You're Falling In Love

 Keluarga Calon Suami Ingin Melamar Seminggu Sebelum Menikah

 Ingin Bertaubah Nasuha Dan Menikahi Bekas Pacar




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com