pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

citra-indah.com
citraindahbogor.com
citraindahcibubur.net
citragranciputra.com
citragrand.net
citracibubur.com
rumahcibubur.net
tentang-pernikahan.com

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 10854 kali

Wali Nikah Beda Agama

Karya : Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

 

tentang-pernikahan.com - Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya mau nanya siapakah yang menjadi wali nikah bila calon wanita yang kita nikahi beragama Nasrani apakah orang tuanya atau bisa diwakilkan dan apakah harus bersahadat dalam ijab kabul sedangkan kita nikah beda agama. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Mawardi

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keharusan wali nikah beragama Islam adalah hal yang mutlak dan menjadi syarat sah yang harus dimiliki oleh seorang wali. Perlu diketahui bahwa syarat seorang wali itu ada 6 hal:

1. Muslim
2. Berakal (tidak gila)
3. Baligh
4. Adil
5. Merdeka (tidak berstatus budak)
6. Laki-laki

Bila salah satu syarat dari keenam syarat itu tidak terpenuhi, maka seseorang tidak berhak untuk menjadi wali atas sebuah akad nikah.

Khusus dalam syarat ke-Islaman, ada pengecualian tersendiri dalam kasus khusus. Yaitu apabila wanita yang dinikahkan itu bukan beragama Islam,melainkan seorang wanita pemeluk agama ahli kitab (Nasrani atau Yahudi), maka tidak perlu walinya seorang muslim juga.

Titik masalahnya adalah karena seorang muslim atau atau muslimah tidak boleh diwalikan oleh non muslim. Namun bila pengantin wanita belum lagi menjadi muslimah, maka tidak ada masalah dengan agama sang wali, boleh saja walinya itu juga bukan muslim.

Jadi keharusan wali beragama Islam lantaran karena dia menjadi wali buat seseorang yang beragama Islam. Di dalam hukum Islam, seorang yang bukan muslim tidak berhak dan juga tidak sah menjadi wali bagi seorang muslim. Namun bila yang diwalikan bukan muslim, maka tidak ada masalah.

Dan sebagaimana sudah dibahas berkali-kali di sini tentang pendapat jumhur ulama yang membolehkan wanita ahli kitab dinikahi oleh laki-laki muslim, bila ayah kandung wanita tersebut juga bukan muslim, sudah bisa dijadikan wali dan sah apabila menjadi wali baginya. Sebab wanita itu bukan wanita muslimah.

Untuk lebih jelasnya, silahkan rujuk ke dalam kitab fiqih yang muktamad, salah satunya yang mudah, silahkan buka kitab Kifayatul Akhyar pada bab wali nikah dan syarat keIslamannya.

Wallahu a'lam bishshawab. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber : www.eramuslim.com


Komentar-komentar :

 rara - depok town
apakah islam memperbolehkan pernikahan beda agama? di artikel tersebut seperti memperbolehkan.
klo laki2nya yang nasrani dan wanitanya muslim, bagaimana

 deddi - Bekasi
Pak Ustadz,Saya mau tanya, dimanakah tempat buat bisa nikah beda agama di jakarta? apa saja persiapannya/syaratnya?
makasih ya pak

 Salahuddin Al'Ayyub - jatinangor
nikah beda agama haram?

Mungkin kita sudah hapal ayat-ayat mana yang biasa dijadikan dalil untuk menolak pernikahan beda agama. Yaitu QS. al-Maidah [5] : 5; QS. al-Baqarah [2] : 221, QS. al-Mumtahianah [60] : 10. Ditambah Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a yang mengatakan, Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (i) karena hartanya; (ii) karena (asal-usul) keturunannya; (iii) karena kecantikannya; (iv) karena agama.

Mari kita coba telaah,

Surat al-Mâidah (5): 5 diklaim secara eksplisit (gamblang) membolehkan pria Muslim menikahi wanita ahli kitab. Tapi tidak eksplisit menjelaskan sebaliknya, pria ahli kitab menikahi wanita muslim. Karena posisi "abu-abu" ini ada ulama yang membolehkan. Toh ada aturan-aturan lain yang dibolehkan karena Alquran tidak menjelaskan secara eksplisit.

Menurut Guru Besar Hukum UI, Prof. H. Mohammad Daud Ali, S. H., bahwa Khalifah II, Umar bin Khattab, yang memulai pemikiran tidak bolehnya pria Muslim menikahi wanita non muslim.

Padahal Nabi Muhammad pernah menikahi Maria Qibtiyah, perempuan Kristen Mesir dan Sophia yang Yahudi. Nabi tidak mensyaratkan mereka untuk masuk Islam. Para sahabat dan tabiin juga melakukan hal serupa. Usman bin Affan kawin dengan Nailah binti Quraqashah al-Kalbiyah yang Nasrani, Thalhah bin Ubaidillah dengan perempuan Yahudi di Damaskus, Huzaifah kawin dengan perempuan Yahudi di Madian. Para sahabat lain, seperti Ibn Abbas, Jabir, Ka’ab bin Malik, dan Al-Mughirah bin Syu’bah kawin dengan perempuan-perempuan ahlul kitab.

Dasar Umar bin Khattab tidak membolehkan adalah demi perlindungan wanita dan keamanan rahasia pada masa perkembangan Islam. Dikondisikan dengan masyarakat saat itu. Dan rasanya dasar Umar bin Khattab tidak relevan pada masa kini.

Surat al baqarah 2: 221, sesuai dengan asbâb al-nuzulnya, wanita musyrik yang dimaksud adalah wanita musyrik dari bangsa Arab yang tidak memiliki kitab suci,penyembah berhala, penyembah api dan sebagainya meskipun meyakini Allah sebagai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi (Al Ankabut 29:61; Luqman 31:25, al Zumar 39:38; al Zukhruf 43:9 dan 87). Dan itu harus dibedakan dengan wanita ahli kitab yang jelas-jelas memiliki kitab suci. Pada masa itu pernikahan dengan wanita musyrik, yang jelas tidak punya acuan, dikhawatirkan akan menghancurkan harapan-harapan suci pernikahan yang biasa disebut sebagai mîtsâqan ghalîdzâ (penambat yang kokoh).

(QS. al-Mumtahianah [60] : 10. Siapakah kafir? Yang disinggung dalam banyak ayat Alqur’an adalah orang-orang kafir Mekkah. Dan semata-mata tidak hanya mengacu pada soal keimanan, tapi lebih banyak mengacu pada soal tindakan mereka yang menindas dan zalim terhadap umat Islam dulu. Alquran tak pernah menetapkan ahli kitab sebagai kafir. Memang ada beberapa predikat kafir yang secara tidak langsung ditujukan kepada mereka, tetapi sebagaimana telah diperiksa Farid Esack, beberapa predikat ini selalu disertai dengan ungkapan-ungkapan pengecualian seperti ungkapan “sebagian”, “kecuali” dan sebagainya. Atau banyak kata kekafiran (kata benda/mashdar) yang dinisbatkan kepada mereka, tapi dibarengi dengan ungkapan eksepsional (pengecualian) seperti itu (lihat misalnya, Qs. 2:105; 12:109; 5:78&110; 59:2; 98:1&6; 3:69-71&110).

Malah pada Qs 5: 44, 45 dan 47 predikat orang kafir disematkan kepada orang yang tidak mempraktekkan hukum Taurat dan Injil. Berarti orang yang mempraktekkan hukum Taurat dan Injil pada masa kini bukan kafir. Menurut Prof Dr M Quraish Shihab, ex Menteri Agama, Duta Besar RI untuk Mesir, dan Rektor IAIN Jakarta kini Universitas Islam Negeri (UIN), apabila kita kini mengkafirkan atau memusyrikan krn mengklaim kitab taurat dan injil itu sudah berubah, hal itu pun sudah sejak masa Nabi SAW. Jadi kurang tepat mengkafirkan atau memusyrikannya pemegang hukum Taurat dan Injil.

Kata "kafir" itu dipakai dalam pelbagai konteks dan penggunaan. Pada masa sekarang saja, berbeda pendapat soal agama saja sudah dianggap kafir. Dalam sejarah Islam, banyak kelompok yang dianggap sesat, bahkan dituduh kafir. Contohnya bertebaran dalam sejarah Islam. Kelompok Qadariyyah (yang percaya akan kebebasan kehendak), dianggap kafir oleh kelompok Suni ortodoks. Kelompok Syiah juga dianggap kafir oleh sejumlah kelompok Islam. Kaum filsuf juga dikafirkan beberapa kelompok Islam. Cap kafir mudah didapatkan siapa saja, termasuk di dalam islam sendiri.

Sementara (Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a), itu adalah pilihan. Dan dimaksud "agama" lebih mengacu kepada kualitas taqwanya (Q. S. al-Hujurat, 49:13, an-Nisa', 4:1, al-A`raf, 7:189, al-Zumar, 39:6, Fatir, 35:11, dan al-Mu'min, 40:67) bukan label formal agama.

Apalagi beriman dalam kpd suatu agama merupakan wewenang Allah. Dalam surat Yunus ayat 99 ditegaskan: Jika Tuhanmu berkenan, tentulah mereka semua beriman, mereka yang ada di bumi seluruhnya. Apakah kau hendak memaksa manusia sampai beriman (semua)? Sedangkan iman dan tidaknya seseorang merupakan wewenang Allah, dilanjutkan pada ayat sesudahnya: Tiada seseorang akan beriman, kecuali dengan seizin Allah...

Dan seperti kita ketahui, agama islam identik dengan rahmat. Kata “rahmat” berasal dari bahasa Arab yang berarti kasih. Tidak ada perbedaan antara cinta dan kasih. Islam diajarkan tidak bercinta kasih sebatas kepada segolongan, sesuku, seras, seagama, tapi kepada siapapun dan apapun (rahmatan lil `alamin).

Pada pernikahan, agamalah yang akan melanggengkannya berdasarkan ajaran rahmat/ cinta kasih. Maka pernikahan beda agama tidak bertentangan dgn agama islam selama didasari cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah, Ar Rum 30:21), dan melengkapi dan melindungi (Al Baqarah 2:187).

Saya rasa pelarangan selama ini terkait nuansa politis/ kepentingan, ketakutan ulama dan organisasi islam menghadapi kemajemukan yang sebenarnya tidak bisa ditampik sekarang ini (jauh berbeda dengan zaman nabi). Inilah yang memungkinkan islam secara perlahan malah akan ditinggalkan karena tidak berpihak kepada masyarakat. Toh MUI pusat baru melarang pernikahan beda agama tahun 1980, pada tahun 1986, MUI DKI, mengeluarkan fatwa sebaliknya, membolehkan pernikahan beda agama. Dan sekarang dilarang lagi.

Muncul anekdot di masyarakat tentang haramnya nikah beda agama. Pastilah umat Islam sekarang akan menghindari pernikahan beda agama karena itu syarat untuk masuk surga. Namun, umat Islam Indonesia itu akan kaget jika di surga nanti bertemu saudara sesama umat islam indonesia, yang menikahnya (nikah beda agama) tahun 1950an. Akan muncul pertanyaan, “Kok dia masuk surga, bukankah pernikahan beda agama katanya haram?”. Lantas ada suara nyeletuk di sekitar mereka, "lain dulu lain sekarang! dan itu kan katanya!".

Alqur’an harus dilihat konteksnya. Kalau kita tahu konteksnya maka kita tahu pesannya. Fanatisme beragama datangnya dari hal ini karena orang tak melihat konteksnya.

Gunakan akalmu, (39:18, 5:58, 12:111, 7:115), tidak ada pertentangan antara akal dan agama. Toh, memang akal pada akhirnya menghukumi agama, maksudnya akal lah yang memilah prinsip-prinsip yang tetap dan tidak tetap dalam agama, dan hal-hal sahih dan tidak sahih dalam agama. Jangan takut menggunakannya. Selama ini banyak orang malas berpikir,padahal orang tersebut mampu bahkan berlimpahruah. Jangan melulu didikte atau menTuhankan ulama dan organisasi yang otoritatif/ mengoligarki penafsiran [QS At Taubah 9: 31, Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah].

Wallahu a’lam bishawab

 Yoedi - Samarinda - Kaltim
Assalamualaikum Wr..Wb..
Mohon saran & pendapat Ustad, apa pandangan Hukum Islam bila perkawinan beda agama dilakukan 2 kali, yaitu secara Islam & Katholiq..krn saat ini saya & pasangan saya berbeda agama & ingin melangsungkan pernikahan pd tahun ini. Terima kasih..

Wassalamualaikum Wr Wb

 Job - Jakart
Siang, Pak .. Saya mau tanya:
apakh pernikahan sirih tetap bisa dilakukan apabila pihak wanita adalah ahlul kitab dan pihak laki2 mukmin ...??
apakah ada ayat maupun hadits ttg itu ...?
apakah wanita ahlul kitab boleh tetap mempertahankan agamanya pd saat pernikahan sirih itu terjadi (pd saat ijab kabul)..??

mohon penjelasannya. terima kasih.

 agung - samarinda
minta info tempat pernikahan beda agama di jakarta atau di bali

 diva - Jakarta
Surat Al Baqarah(2):221,“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

 achdan - Kutai Timur
Pernikahan adalah awal membentuk keluarga, dalam Islam pernikahan adalah ibadah, beribadahlah yang benar, pernikahan orang muslim dengan orang kafir saya yakin mengikis nilai ibadah yang menjadi tujuan pokok ibadah itu sendiri, .... dan dari keluarga akan lahir keturunan keturunan, yang paling bisa dipastikan menikahi orang kafir adalah bertentangan dengan hukum Islam, jangan mengada ngada mengakali hukum Islam dengan sekehendak hati untuk memenuhi nafsu semata. Allahu Akbar ..

 rossa - pekanbaru
saya seorang nasrani, dan saya mencintai seorng pria muslim, dalam hubungan kami tidaK pernah mempermasalahkan agama.Hubungan kami sudah sangat serius sekali, saya bingung mau bagaimana, sampai hari ini saya belum berani mengatakan pada mereka bahwa saya mencintai pria muslim.Karna saya tau mereka pasti sangat marah dan tidak setuju.Saya bingung harus bagaimana.Makasih..

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Kapan Peran Ayah Sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan?

 Menikah Tanpa Penghulu

 Wali Nikah, Apakah Harus Selalu Ayah Kandung?

 Status Pernikahan Dan Anak Karena Married By Accident

 Bagaimana Hukumnya Menikah Siri Dengan Wali Hakim?

 Antara Agresif, Pasrah Dan Proaktif

  Menikah Bukan Unjuk Prestasi

 Agar Cinta Bersemi Indah

 Menanyakan Malam Pertama Ke Orang Lain

 Berteman Tapi Mesra




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com

Sponsored by : citra-indah.com - citraindahbogor.com - citragranciptra.com Kota Nuansa Alam Timur Cibubur Rumah Idaman Mulai 93 Juta