pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4039 kali

Juga Untukmu.....wahai Para Istri

Karya : Ahmad Sabiq Bin Abdul Lathif Abu Yusuf

 

tentang-pernikahan.com - Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketiakharmonisan dalam rumah tangga kita limpahkan tanggung jawab kepada salah satunya saja ( suami atau istri ). Harus diakui, minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya.

Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang ibu-ibu yang memakan daging suami mereka sendiri dalam majelis obrolan sesama mereka, tidak mesti hanya lantaran kesalahan suami mereka. Bahkan sangat mungkin si suami sudah berbuat yang benar namun si istrilah yang tidak pernah mengerti dan memahami.

Maka pada edisi ini saya tunjukan untaian nasehat ini kepada para istri. Semoga semuanya bisa menjalankan apa yang seharusnya dia kerjakan, sehingga yang lainnya akan mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan. Wallahul Muwaffiq.

Terimalah Kodratmu dan Sadarilah Posisimu
Semoga Allah merahmati orang yang bisa menempatkan dirinya pada tempatnya yang tepat. Saat sebagai suami dia mengetahui bahwa dia adalah seorang suami yang wajib mempergauli istrinya dengan baik. Demikian juga, tatkala Ia sebagai istri dia mengetahui hak dan kewajiban serta tanggungjawabnya yang besar dengan benar.

Sangat miris hati ini tatkala ada sebagian istri yang mengatakan: " Enak ya jadi suami, setiap hati keluar rumah. Bisa berganti-ganti suasana. Berbeda dengan istri yang setiap hari dirumah dan hanya berkutat dengan dapur dan anak ". Atau kalimat yang senada.

Ketahuilah wahai ukhti muslimah!!!
Allah SWT dan Rasulullah saw telah menempatkanmu pada posisi yang mulia. Perhatikanlah hadits berikut ini: Dari Abdurrahman bin Auf, berkata: Rasulullah saw bersabda: " Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa bulan ramadhan, menjaga farjinya, menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engaku kehendaki'." ( HR.Ahmad 1664 dengan sanad hasan. Lihat Adab az-Zafaf oleh Syaikh al-Albani hal.286 )

Jalan menuju surga, tempat yang penuh dengan ketenangan dan keindahan nan kekal dan abadi telah dibentangkan dihadapanmu. Salah satu jalannya adalah taat pada suami.

Sadarilah olehmu bahwa dimanapun Allah dan Rasulullah saw menyebutkan tentang dirimu, pasti menyebutkan tentang ketaatan kepada suami. Terlalu banyak ayat dan hadits yang membicarakan tentang ini dan saya kira engkau sudah mengetahuinya.

Maka sadarlah bahwa engkau adalah seorang istri....Sekali lagi, engkau adalah seorang istri yang seharusnya selalu taat kepada suamimu selagi dia tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Pahamilah Suamimu
Seorang suami telah dikodratkan oleh Allah untuk menjadi kepala keluarga. Dialah yang diberi kewajiban oleh Allah dan Rasul-Nya untuk memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Hal ini berkonsekuensi wajib baginya mencari pekerjaan, yang terkadang pada zaman seperti sekarang ini tidak semua orang mendapatkan usaha yang sesuai dengan bidangnya. Betapa banyak sarjana yang pekerjaannya di luar keahliannya, apalagi lainnya!!!

Sulitnya mencari pekerjaan dan capainya bekerja di luar rumah bagi sang suami akan terasa ringan kalau didukung secara moril oleh si istri. Bebannya akan menjadi sedikit ringan secara psikologis kalau istrinya ikut mendukung dan senang dengan apa yang dia kerjakan sekarang. Namun kalau kebalikannya??? Cobalah bayangkan, kalau suami sudah capai mencari pekerjaan, sudah sangat lelah di luar rumah, tiba-tiba sampai di rumah ditumpuki lagi dengan sikap istrinya yang sangat tidak mengenakkan.

Wahai saudariku...
Yang harus engkau perhatikan juga, sebuah pernikahan adalah mengumpulkan dua insan yang berbeda. Berbeda dalam jenis kelaminnya, berbeda dalam karakter dasarnya, berbeda dalam latar belakang keluarganya, berbeda dalam latar belakang lingkungan dan pendidikannya, berbeda dalam unsur-unsur yang mempengaruhi jiwa dan pikirannya. Dan mungkin berbeda dalam cara pandang dan cita-citanya, serta perbedaan-perbedaan lainnya.

Akan sangat mustahil kalau ditemukan sepasang suami istri yang benar-benar sama dalam segala sesuatu. Siapakah contoh keluarga yang benar-benar dapat kita jadikan panutan? Bukankah keluarganya Rasulullah saw? Meskipun begitu, apakah selamat dari berbagai macam perbedaan semacam ini? Tidak wahai saudariku.

Yang bisa dilakukan adalah saling memahami dan menghargai. Wahai suami, pahamilah istrimu. Dan wahai istri,pahamilah suamimu.

Saat si suami harus keluar malam, saat dia harus meninggalkan rumah barang satu minggu atau dua minggu untuk sebuah keperluan yang bermanfaat, maka sadarilah kalau memang itu adalah tugas dan kewajibannya yang butuh dukungan dan kerelaan darimu.

Bukankah Rasulullah saw bersabda, " Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, menaatimu saat engkau perintahkan, dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal ". ( HR. Thabrani dengan sanad shahih, lihat Shahid al-Jami' 3299 )

Begitu juga sebaliknya. Saat si istri harus ngambek karena ada sesuatu yang membuatnya tidak senang, maka wahai suami sadarilah bahwa itu adalah pembawaan fithrah wanita. Dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, yang kalau engkau sikapi dengan keras saat itu maka akan segera akan patah dan rusak.

Jangan pernah terbayang dalam benakmu, salah satu dari suami maupun istri berpikir bahwa yang lainnya harus sama persis dengannya laksana kertas fotocopy. Karena kalau itu yang engkau inginkan, maka bukannya akan membuatmu senang namun akan menjadikanmu semakin sensitif dengan segala perbedaan.

Teganya Engkau Makan Daging Suamimu Sendiri!!!
Suatu ketika Rasulullah saw berjalan-jalan bersama Ummul Mu'minin Aisyah. Lalu Aisyah mengatakan: " Cukuplah bagimu bahwa Shafiyah ( Yakni istri Rasulullah saw yang lainnya ) itu begini dan begitu ( maksudnya bahwa dia itu pendek )". Maka Rasulullah saw bersabda: " Engkau barusan mengucapkan sebuah kalimat, seandainya dicelupkan ke lautan pasti akan berubah warnanya ". ( HR.Abu Dawud 4875, Tirmidzi 2502, Ahmad 6/128. Shahih, lihat al-Misykah 4853 )

Perhatikanlah ucapan ghibah yang tidak seberapa ini yang dikatakan oleh Aisyah-wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah saw-namun beliau tetap mengatakan sebagaimana hadits diatas. Lalu bagaimana kalau seandainya yang melakukan hal ini adalah seorang istri untuk membongkar aib suaminya sendiri.

Kalau seandainya engkau membongkar aib suamimu untuk mencari sebuah solusi dengan cara menyampaikannya kepada seseorang yang diperkirakan dapat membantunya menasehati si suami, atau menahan kedzalimannya kalau memang dia suami yang dzalim, maka itu adalah sesuatu yang sangat baik sebagaimana pernah dilakukan oleh Hindun binti Utbah, Dari Aisyah bahwasannya Hindun binti Utbah berkata: " Wahai Rasulullah,sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang sangat kikir, dia tidak memberikan kepadaku nafkah yang cukup bagiku dan bagi anakku kecuali kalau saya mengambilnya tanpa sepengetahuan dirinya". Maka Rasulullah saw bersabda: " Ambillah yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik ". ( HR. Bukhari 5346, Muslim 1714 )

Allah SWT menggambarkan bahwa orang yang mengghibah orang lain adalah seperti memakan mayatnya. Perhatikanlah firman Allah , " Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagiam diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik dengannya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Hujarat(49):12 )

Kalau memang bagitu, tegakah engkau memakan daging bangkai seseorang yang banyak berbuat kebaikan kepadamu???

insya Allah bersambung

Shafa Kazhimah


Komentar-komentar :

 tusna yudi - banten
nasihatnya sangat bagus pak ustadz, tapi jarang atau agak sedikit yang bisa melakanakannya, mudah2an para suami/istri sadar akan tujuan dari perkawinannya samawa. amiin

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 I Am A Second Wife (saya Jadi Isteri Kedua)

 Jangan Takut Bilang Cinta

 Segenggam Gundah (ode Untuk Para Ayah)

 Suami Yang Kurang Perhatian

 Renungan Buat Istri

 Bolehkah Mahar Dijual Tanpa Sepengetahuan Suami?

 Keutamaan Taat Bagi Seorang Istri

 Kebohongan Terungkap Setelah Menikah

 Istri Selingkuh Dengan Teman Kantor

 Suami Memperhatikan Wanita Lain

 Madrasah Cinta

 Kisah Kepala Ikan

 Maafkan, Karena Aku Bukan Pangeran

 Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

 Kiai Yang Tak Mau Menikah Lagi

 Tidak Diundang Walimah Tapi Tetap Datang, Apakah Dibenarkan?

 Kewajipan Bersetubuh Suami Isteri

 Karena Kau Cintaku

 Suami Pelupa, Istri Ditinggalkan Di Pom Bensin

 Cinta Laki-laki Biasa

 Renungan Buat Suami & Istri

 Bermesra Berpahala Dan Menghapus Dosa

 Cintailah Apa Adanya

 Missed Call

 Cihuiii... Nikah Juga

 Untuk Para Ayah Dan Calon Ayah...

 Mencintai Itu Keputusan

 Kiat Memulai Hidup Berumah Tangga

 Belajar Memahami Anak-anak

 Kitalah Yang Akan Ditanya




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com