pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4632 kali

Ada Apa Dengan Mertua?

Karya : Sus Woyo

 

tentang-pernikahan.com - Sejak saya menikah, hingga anak saya berumur tiga bulan, saya hidup serumah dengan mertua. Hampir setahun saya mengarungi kehidupan serumah dengan orang tua asli isteri saya. Suka dan duka, pahit dan manis, tentu menjadi lauk pauk yang pernah saya lahap ketika itu.

Menjelang satu tahun pernikahan saya, saya berusaha sekuat tenaga untuk mencari rumah baru. Artinya saya mencoba untuk lepas dari rumah mertua saya. Dengan niat: Ingin lebih mandiri. Saya berhasil membeli sedikit tanah yang sudah ada rumahnya. Walaupun uang yang untuk membeli bukan murni dari kocek saya. Termasuk ada di dalamnya adalah uang pinjaman dari orang tua saya.

Sejak itu, saya pindah dari rumah mertua dan menempati rumah saya yang baru. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Anak dan isteri saya selalu sakit, selama menempati rumah itu. Batuk, seolah tak pernah berhenti menyerang anak dan isteri saya. Mungkin karena temperatur daerah itu yang sangat dingin bagi ukuran anak dan isteri saya.

Apa boleh buat, ahirnya rumah itu saya jual. Saya beranggapan rumah itu tak layak huni bagi kesehatan keluarga saya. Saya dan keluarga kembali ke rumah mertua. Saya kembali hidup serumah dengan bapak ibu isteri, adik dan kakaknya.

Seiring dengan dijualnya rumah kami, usaha saya juga tak menampakkan ada peningkatan. Apa-apa serba mahal. Modal yang ditanam tak sebanding dengan keuntungan yang saya peroleh. Sampai uang hasil menjual rumah saja nyaris habis tanpa bekas. Tak bisa saya gunakan kembali untuk membangun rumah baru.

Saya kembali belajar untuk hidup serumah dengan mertua. Teman-teman saya selalu mengatakan. "Kamu terlalu kuat untuk hidup dengan mertua. Apa resepnya?" Saya tersenyum saja ditodong dengan pertanyaan semacam itu.

Mertua, bagi sebagian orang adalah sosok yang menakutkan. Momok besar bagi mereka yang terpaksa harus hidup serumah dengannya. Atau bahkan ada sebagian teman saya yang mengatakan, bahwa mertua adalah pembunuh kebebasan. Alasan teman saya karena katanya ia akan serba tidak bebas jika akan berlaku seenaknya di rumah mertua. Seperti pagi masih duduk di rumah sambil nonton TV, tidur di siang bolong saat orang lain sedang ada di tempat kerja dan sebagainya.

Saya tidak seratus prosen menyalahkan argumentasi teman saya itu. Tapi juga tidak mendukung seratus prosen atas apa yang ia katakan. Sebab tinggal dari sudut mana kita memandang mertua.Yang jelas hidup serumah dengan mertua itu harus mempunyai batas-batas tertentu. Tak hanya dengan mertua, hidup dengan siapapun sudah pasti harus ada batas-batas tertentu yang harus kita terapkan.

Namun demikian, saya mempunyai resep tersendiri, kenapa saya tahan lama hidup serumah dengan mertua, padahal ada adik dan juga kakak isteri saya yang masih ada di rumah itu.

Yang pertama karena saya belum mampu lagi untuk secepatnya mencari rumah baru. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya mau tidak mau saya harus serumah dengannya.

Saya mencoba belajar, bahwa orang tua isteri saya adalah orang tua saya juga. Dan bukan orang lain. Adik dan kakak isteri saya adalah adik dan kakak saya juga. Merekapun bukan orang lain.

Dan setelah menerapkan prinsip itu ternyata persaudaraan menjadi lebih erat. Sebab antara kami dan mereka bukanlah siapa-siapa. Toh setelah menikah, "birrul walaidain" kita tak hanya sebatas kepada bapak dan ibu kita yang asli saja, tapi harus juga kepada orang tua isteri kita.

Dengan resep itulah, saya bisa menganggap bahwa mertua adalah orang tua saya. Mertua adalah bukanlah sosok yang menakutkan selama perbuatan kita tidak keterlaluan. Dan yang lebih penting mertua adalah figur yang tidak boleh kita bedakan dalam hal berbakti padanya, selama masih dalam koridor syari'atNya. Termasuk hormat kita padanya adalah sama seperti hormat kita kepada orang tua asli kita.

***
Baturraden, Purwokerto, Juli 06


Komentar-komentar :

 bim2 - jkt
saya setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sama bapak. tergantung dari cara kita menyikapi dan bergaul dengan mertua

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Episode Memperbaharui Cinta

 Poligami Jalan Terindah

 Juga Untukmu.....wahai Para Istri

 I Am A Second Wife (saya Jadi Isteri Kedua)

 Jangan Takut Bilang Cinta

 Segenggam Gundah (ode Untuk Para Ayah)

 Suami Yang Kurang Perhatian

 Renungan Buat Istri

 Bolehkah Mahar Dijual Tanpa Sepengetahuan Suami?

 Keutamaan Taat Bagi Seorang Istri

 Kebohongan Terungkap Setelah Menikah

 Istri Selingkuh Dengan Teman Kantor

 Suami Memperhatikan Wanita Lain

 Madrasah Cinta

 Kisah Kepala Ikan

 Maafkan, Karena Aku Bukan Pangeran

 Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

 Kiai Yang Tak Mau Menikah Lagi

 Tidak Diundang Walimah Tapi Tetap Datang, Apakah Dibenarkan?

 Kewajipan Bersetubuh Suami Isteri

 Karena Kau Cintaku

 Suami Pelupa, Istri Ditinggalkan Di Pom Bensin

 Cinta Laki-laki Biasa

 Renungan Buat Suami & Istri

 Bermesra Berpahala Dan Menghapus Dosa

 Cintailah Apa Adanya

 Missed Call

 Cihuiii... Nikah Juga

 Untuk Para Ayah Dan Calon Ayah...

 Mencintai Itu Keputusan




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com