pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 4669 kali

Upss?.rasanya Ingin Di Peluk !"

 

tentang-pernikahan.com - Waktu amat cepat berlalu, jam dinding di ruang kerjaku sudah
menunjukan pukul 11.50. Hampir menjelang waktu makan siang. Sejak pagi
tadi aku menyelesaikan laporan perjalanan dinasku ke luar kota.
Punggung, jemari dan mataku baru terasa pegal. Ku pejamkan mataku,
mencoba santai sejenak. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang menyapa:
"Gak sehat non?"
Kubuka mataku dan memberi se-ulas senyum. Mba Milly, rekan seniorku
berdiri menatapku cemas.
"Enggak lah, Mba. Cuma sedikit pegal"
"Buat laporan yach?"
:Makan dulu yuk, dah laper nih!" ajaknya bersahabat.

Jujur saja selera makanku lagi tidak ada. Aku kembali mengingat-ingat
pertengkaranku semalam dengan suamiku. Rasa jengkel ini, masih
memenuhi jiwaku. Pantang bagiku menangis di depan suami, apalagi kalau
sedang bertengkar. Tapi kini aku merasa ingin menangis. Aku sangat
mencintai suamiku dan aku juga sangat menghormatinya, jadi
tuduhan-tuduhan kalau aku tidak menghargai suami membuatku jengkel.
Aku memang bukan dari keluarga Jawa yang konsep mengasihi suami dengan
mengabdi dan cenderung bertutur halus karena memang budayanya.

Aku dibesarkan di sebuah keluarga ABRI. Memang semua saudaraku
perempuan tapi didikan ala militer ayahku dan ibuku yang berprofesi
guru, sangat membentuk kepribadianku yang keras. Termasuk dalam
intonasi berbicara. Aku berkeyakinan tidak perlu meminta izin pada
suami jika aku ingin pergi atau berjalan-jalan. Aku hanya
memberitahukan aku akan kemana. Karena aku berkeyakinan sekali lagi
berkeyakinan kami setara. Dan aku juga tidak punya kewajiban
menyediakan minum atau sarapan dipagi hari. Jika aku menyediakan minum
dan sarapan dipagi hari karena aku mencintai suamiku. Sehingga yang
aku lakukan karena cinta. Bukan kewajiban. Termasuk kalau aku rela,
terjun ke dapur untuk masak makan malam, sepulang dari kerja. Bukan
karena kewajiban, tapi semata aku ingin memberikan yang terbaik pada
orang yang aku cintai.

Hingga saat ini, aku masih bingung atau heran jika ada diantara
teman-temanku yang sudah menikah dan tidak bisa berkumpul lantaran
tidak diizinkan suami. Sosialisasi dan aktualisasi diri menurutku,
termasuk dalam hak dasar setiap orang. Seorang suami tidak berhak
membatasi ruang gerak istri. Memang aku juga tidak setuju atau
membenarkan perempuan-perempuan yang clubing atau hang out sampai lupa
waktu, sementara di rumah ada anak dan suami. Aku masih bisa nonton
dengan teman-teman kantorku atau jalan di plaza bareng teman-teman.
Suamiku tidak keberatan pulang lebih dulu supaya bisa mengawasi
anak-anak. Toh dilain kesempatan aku juga memberi keleluasaan buat
suamiku beraktivitas. Bahkan Sabtu dan Minggu yang awalnya kita
sepakati sebagai hari atau waktu untuk keluarga, kenyataannya bisa
berlaku fleksibel. Kalau suamiku harus ke kantor atau perlu menemui
kawan-kawannya lalu aku tinggal di rumah bersama dua balitaku, aku
ok-ok saja.

Yang terkadang tidak masuk dilogikaku, adalah jika kita sudah bersusah
payah bekerja kantoran setiap hari, berangkat dari rumah pukul delapan
pagi dan kembali pukul tujuh malam, Senin sampai Jumat lalu Sabtu dan
Minggu mengurus anak dan keluarga. Lalu tidak ada waktu untuk diri
sendiri. Wanita bekerja yang juga sekaligus istri dan ibu punya hak
memberi ruang dan waktu buat dirinya sendiri. Entah itu bersosialisasi
dengan teman-temannya atau sesekali memanjakan diri ke salon untuk
sekedar lulur atau Menicure dan Pedicure.

Dan komitmen kami berdua memang mengenai kepercayaan. Kepercayaan yang
sudah diberikan janganlah disalahgunakan, apapun alasannya. Kami
membangun rumah tangga dengan cinta dan tekad membawa biduk ini laju
ke samudera kehidupan. Berharap akhirnya kami tiba di suatu tempat
yang memang penuh cinta. Sehingga kami rela, saat ini berpayah-payah
usaha untuk menuju impian itu.

Dan kami juga percaya derita dan harapanlah yang menjadi tanda kami
masih hidup. Dimana ada derita di situ ada harapan dan dimana ada
harapan di situ ada kehidupan. Derita membuat kita ingat siapa diri
kita. Bahwa kita cuma manusia biasa yang terdiri dari darah, daging
dan roh yang sifatnya sementara. Karena kekekalan bukanlah milik kita.
Jadi selagi roh masih bersatu dengan raga isilah hidup ini dengan
sesuatu yang bermakna, minimal bagi diri dan lingkungan terkecil,
yakni keluarga.

Pertengkaran di mulai dari hal yang sepele. Kemarin hari Minggu,
seperti biasa Vanessa bangun paling dulu. Lalu aku mengajaknya
berjalan-jalan sekaligus berbelanja. Aku berencana menyiapkan makan
siang. Belum lagi pukul sebelas, masakan sudah siap. Memang bukan aku
yang memasak, tapi aku yang berbelanja dan memikirkan menu apa untuk
siang ini. Betapa marahnya aku ketika ku tau suamiku memilih makan
nasi dengan mie instant.

Sepele sebetulnya. Aku tidak akan marah kalau ia tidak tau aku sudah
menyiapkan makan siang. Minimal kalau ia hendak makan mie instant,
ketika melihat belanjaanku, ia bisa berkata: "Gak usah masak ma,
santai aja. Aku makan mie instant saja!"
Kalau saja ia berkata demikian, aku bisa santai. Biar kedua pembantuku
tidak perlu masak tapi cukup mengawasi anak-anakku dan aku bisa santai
membaca novel. Selama ini aku selalu berorientasi pada makanan
kesukaannya. Bahkan aku yang suka makan pedas, nyaris tidak pernah
lagi memakai cabai untuk setiap masakan.

Sehingga teguranku yang menyesalkan ia makan mie instant, berbuntut
pada tuduhan aku tidak menghargai atau menghormati. Suamiku berdalih,
"Mau makan di rumah sendiri saja tidak tenang!" Kemarahanku makin
memuncak, sebagai istri aku peduli pada kesehatannya. Aku tau dalam
seminggu bisa dihitung berapa kali dalam makan siang ia mengkonsumsi
makanan sehat. Jadi salahkah aku jika Sabtu dan Minggu berusaha
memenuhi makanan sehat untuk dikonsumsinya?"

Dan satu sifat suamiku yang sampai sekarang aku benci. Jika bertengkar
denganku, maka ia biasa melakukan aksi tutup mulut. Dalam sembilan
tahun pernikahanku, aku banyak belajar dalam menghadapi kelakuannya.
Aku tau ia juga belajar atas kelakukanku. Karena itu jika ia memilih
diam, aku pun diam. Kadang aku berpikir, mungkin itu usahanya meredam
emosi. Aktivitas sih tetap seperti biasa, aku menyediakan keperluannya
dan biasanya jika ia menolak apa yang aku siapkan, ia tau resikonya.
Misalnya, aku sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak dipakai. Maka
selanjutnya aku tidak akan menyiapkan baju kerjanya. Begitu juga
mengenai masakan, karena pengalaman minggu siang itu lalu aku katakan,
aku tidak akan menyiapkan makan lagi. Silahkan atur sendiri. Aku lebih
senang karena berarti satu pekerjaan berkurang.

Cuma kadang kasihan pada anak-anak. Bastiaan sangat perasa, ia tau
kalau kedua orang tuanya sedang tidak bicara. Biasanya yang jadi
pertanyaan Bastiaan, "Mama sudah tidak sayang papa lagi?" Dan itu pun
ditanyakan ke suamiku, "Papa sudah tidak sayang mama lagi?". Biasanya
jawaban kami pun sama. Papa tuh yang sudah tidak sayang mama atau mama
tuh yang sudah tidak sayang papa. Dan kata orang tua ada benarnya,
anak menjadi pereda kemarahan. Karena biasanya pertengkaranku juga
selesai. Bagaimana bisa marah, jika Bas dan Vanessa sudah
berguling-guling di tempat tidur, menaiki tubuhku dan suamiku?
Akhirnya kami berempat bergulat bersama-sama sambil tertawa-tawa. Dan
aku sudah membayangkan akhir pertengkaran kami nanti. Persoalannya hal
itu masih beberapa jam lagi. Jadi aku masih harus bersabar untuk
gencatan senjata, pulang kerja nanti.

"Nah, ya melamun lagi!" Mba Milly kembali sukses mengejutkan ku.
"Ngagetin aja!" kataku
"Ada apa sih?" Tanya Mba Milly
"Aku lagi sebel ama Frisch!" Jawabku setengah bersungut.
"Jangan dong. Mas Frisch kan orangnya baik!" kata Mba Milly
"Masa sebel gak boleh?"
"Boleh aja, tapi gak usah dipanjang-panjangin . Ntar aku telephone
deh?! Goda Mba Milly
"Jangan !" protesku cepat.
"Makanya, jangan musuhan!" serunya sambil menyeruput juice tomatnya.
"Emang Mba Milly, gak pernah sebel sama si Aki?"tanyaku sambil
menatapnya.
"Pernah sih, tapi gak ada untungnya. Malah bikin sakit kepala. Mana
kita sebel, si Aki gak ngerti kalau kita lagi sebel ama dia. Jadikan
rugi, kita kesel sendiri!". Jawab Mba Milly. Kali ini setengah
cemberut.
"Setuju! Itu juga persoalan yang aku alami. Kita masih sebel sementara
pasangan kita gak merasa.!" Aku menyetujui komentar Mba Milly.
"Makanya aku mendingan cuek. Gak terlalu mau dipikirkan!" Kata Mba
Milly lagi.
Bisakah aku seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri.

"Setiap hari selalu ada hal baru. Bertahun kita hidup dalam rumah
tangga, tetap saja ada bagian yang tidak kita kenal. Bagaimana kita
bersikap, sebenarnya itu yang akan menentukan, kemana hubungan ini
berjalan. Jadi hadapi hidup dengan optimis saja. Kalau kesel sama
pasangan kita, anggap saja kita baru mengenalnya. Jadi tidak perlu
dipikirkan. Pendapat atau sikap orang yang baru kita kenal kan tidak
akan mempengaruhi. Makanya Es We Ge Te El deh!" lalu diteruskan'"So
What Gitu Loh!" katanya sambil terbahak.

Aku ikut tertawa. Dalam hati aku membenarkan, sekarang pasangan kita
sudah kita nikahi sehingga kesal berlama-lama malah akan merugikan
diri sendiri lantaran gak merasa nyaman. Hatiku sedikit plong, yach
aku gak akan terlalu memikirkan. Cuek saja!. Toh hidup berlanjut
terus, kekesalan sesaat anggap saja intermezzo hari ini. Toh
sekesal-kesalnya aku pada suamiku, cintaku masih lebih besar. Uppss?
rasanya jadi ingin dipeluk?!(Icha Koraag)
"20 April 2005. Marahannya sih minggu lalu!"


Komentar-komentar :

 vetra - yogyakarta
Memang kelihatannya spele (cuman berpelukan). tp tidak untuk dalam keluarga.
Dalam keluarga, sebuah pelukan itu sangad berperan dan berarti. karena dalam sebuah keluarga pelukan adalah tanda kalau pasangan tersebut masih menyimpan perasaan sayang dan ingin melindunginya.
itu adalah peran berpelukan.

Ketika sepasang suami istri berpelukan, maka mereka akan merasa yang namanya nyaman dan tenang.

 RonOceast - http://realviaonline.com
Acheter Cialis Sur Internet France Buy Biodramina On Line online pharmacy Cialis Generico Answer Sexulay Trasmited Infections Treated W3ith Keflex

 RonOceast - http://orderlevi.com
Cialis Paypal Payment viagra Cialis Cardiopatici Discount Aurochem

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Bersinarlah Matahariku

 Kisah Cinta Sejati

 List Perlengkapan Bayi

 Usia Pernikahan Mempengaruhi Kemesraan

 52 Kiat Agar Suami Disayang Istri

 Ada Apa Dengan Mertua?

 Episode Memperbaharui Cinta

 Poligami Jalan Terindah

 Juga Untukmu.....wahai Para Istri

 I Am A Second Wife (saya Jadi Isteri Kedua)

 Jangan Takut Bilang Cinta

 Segenggam Gundah (ode Untuk Para Ayah)

 Suami Yang Kurang Perhatian

 Renungan Buat Istri

 Bolehkah Mahar Dijual Tanpa Sepengetahuan Suami?

 Keutamaan Taat Bagi Seorang Istri

 Kebohongan Terungkap Setelah Menikah

 Istri Selingkuh Dengan Teman Kantor

 Suami Memperhatikan Wanita Lain

 Madrasah Cinta

 Kisah Kepala Ikan

 Maafkan, Karena Aku Bukan Pangeran

 Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

 Kiai Yang Tak Mau Menikah Lagi

 Tidak Diundang Walimah Tapi Tetap Datang, Apakah Dibenarkan?

 Kewajipan Bersetubuh Suami Isteri

 Karena Kau Cintaku

 Suami Pelupa, Istri Ditinggalkan Di Pom Bensin

 Cinta Laki-laki Biasa

 Renungan Buat Suami & Istri




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com