pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 367 kali

Pengaman Pernikahan I (pra-nikah)

 

tentang-pernikahan.com - Damai terasa malam merona. Langit cerah melugaskan penampakan bintang yang mengangkasa. Sayup-sayup suara jangkrik berkilah sebabkan marak suasana. Menampilkan kesempurnaan dari rumus-rumus indah ayat-ayat Tuhan. Ingin melewati tanpa menikmati salah satu episode malam-malam nan indah, dirasa sayang jika tidak dapat dikatakan terlalu legit untuk berlalu begitu saja. Memberikan isyarat pada Alya agar beranjak keluar rumah merasai manisnya malam itu.

Kesejukan hati dan ketenangan jiwa mengalir santun dalam sanubari Alya. Baru saja dia melalui malam itu dengan sholat isya’ berjamaah bersama ibunda tercinta. Diikuti dengan dua rakaat ba’diyah isya’, terasa lengkap menguraikan kekhusyukan di qalbu. Dilain tempat sang abi setelah mengimami sholat isya’ di Masjid Al-Fath, sibuk mempersiapkan agenda rutin masjid. Maklum sebentar lagi akan memasuki rotasi rutin tahunan mengenai pergantian pengurus masjid.

Ibunda Alya sudah lebih dulu berada di teras depan rumah kala itu. Duduk sambil menghirup segarnya udara malam. Senyumnya sederhana, tatapannya-pun damai. Terpancar mimik syukur diwajahnya yang tak lagi muda, sebab kini telah ada wajah muda lainnya yang menggantikannya yakni Alya. Tak terasa sang waktu telah membuat Alya kini menjadi gadis dewasa. Umur Alya kini sudah diatas 20 tahun dan dari batin tulusnya terpatri sebuah kesiapan untuk beribadah menyempurnakan setengah agama selain bertaqwa. Tiada lain adalah pernikahan. Iya, Alya merasa kini sudah waktunya dan kini jua sudah saatnya Alya harus mulai pelan-pelan membicarakan perihal tersebut kepada orang tua tercinta, dimulai dari hati ke hati terlebih dahulu pada ibunda.

Demi melihat ibundanya bersantai, muncul rasa manja dari lubuk hati Alya. Tanpa pemberitahuan lebih dulu, langsung saja Alya duduk didepan ibundanya dan memunggungi beliau. Sontak ibundanya sedikit kaget, namun perlahan sadar dan mengerti bahwa sang putri tercinta ingin dirangkul sayang. Tampaknya ada hal penting yang ingin dicurahkan. Ibundanya sangat paham karena beliau yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Alya. Tabiat Alya sudah menjadi kesehariannya.

“Bunda… malamnya indah ya…” Alya memulai dialog.

“Iya anandaku…” Tak lupa senyum keteduhan menghiasi wajah sang bunda.

“Subhanallah, betapa indah rangakaian langitnya ya bunda. Bintang-bintang bertaburan menembus dinding langit malam, tak lupa bulanpun mengikuti menjadi sebuah rangkaian yang serasi. Kala siang tengah beristirahat bersama terangnya, disebabkan Sunatullah, malam lalu merapat masuk bersama gelapnya. Allahuakbar… perpaduan yang sungguh indah” Alya coba mentadaburi ayat-ayat kauniyah Allah ‘azza wa jalla.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Shadaqallahul ‘adzim” Tadabur Alya disempurnakan oleh sang bunda melalui pelafalan firman suci-Nya (QS Yasin : 36 & QS Adz-Dzariat : 49)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Alya menimpali dengan lafadz Al-Qur’an Surat Al-Mulk : 3.

“Begitulah indahnya Allah, tampak dari perbuatan-Nya. Kreasinya saja telah begitu indah di mata kita, apalagi Sang Penciptanya, yang Maha Indah lagi mencintai keindahan.”

“Subhanallah…” Komentar kecil dari lisan Alya.

“Begitu jua dengan penciptaan manusia duhai anandaku. Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan (QS An-Najm : 45)”

Alya melirik kearah bundanya sambil tersenyum simpul. Wajahnya memerah saat sang bunda menyinggung ayat tersebut. Tampaknya bunda paham sudah tiba waktunya untuk membicarakan pernikahan. Mungkin mukadimah dari rangkai ilmu pernikahan akan mulai bunda sampaikan sebagai titipan untuk bekal berharga bagi sang putri kelak.

“Bunda rasa sudah saatnya bagi bunda dan ananda untuk membicarakan masalah pernikahan. Bunda sadar ananda sekarang sudah beranjak dewasa. Begitu juga dengan bunda dan abi yang semakin tua. Mungkin kinilah saatnya bagi abi dan bunda untuk mulai mempersiapkan diri merelakan putri tercintanya melanglang menaiki biduk rumah tangga yang dibina bersama suami tercinta mengarungi samudera kehidupan. Inilah fase dari konsekuensi sunatullah, tapi sebelum fase itu betul-betul menghampiri…” Ibunda Alya jeda sejenak.
Tangan Alya tampak menggenggam jari jemari ibunda. Tatapan penuh harap dan manja dari seorang putri kepada ibundanya merpresentasikan keinginan terbesar Alya. Ibunda membalas genggaman Alya. Ibundanya tak menyangka bila telah tiba bagi dirinya untuk memberikan bimbingan pernikahan kepada darah dagingnya sendiri. Selama ini sebagai konsultan pernikahan islami sekaligus psikolog, ibunda Alya hanya memberikan jasa konsultasi, saran atau masukan kepada pasangan suami istri yang kebanyakan memang tidak dikenal sebelumnya.

“Sebelum ananda betul-betul mengarungi samudera kehidupan dengan berumah tangga, ada baiknya atau mungkin wajib bagi bunda untuk memberikan arahan mengenai bekal-bekal apa saja yang harus ananda persiapkan sebelum memulai kehidupan berumah tangga”

“Ananda siap mendengarkan wahai ibunda…”

“Baiklah. Bekal yang bunda maksudkan ialah bekal yang perlu dipersiapkan bagi ananda sebagai pengaman selama berada di perjalanan berumah tangga. Pengaman tersebut bunda bagi kedalam dua fase agar lebih mudah bagi ananda untuk mengingat dan memahaminya. Dua fase tersebut ialah pra-nikah dan pasca-nikah. Bunda akan menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh ananda guna pengamanan, baik pada fase pra-nikah maupun pasca-nikah”

Alya terus menyimak dengan runut penjelasan sang bunda.

“Pertama akan bunda mulai dulu dari pengaman pernikahan pada fase pra-nikah. Pada dasarnya hal-hal yang perlu dipersiapkan baik oleh ikhwan maupun akhwat sama dan hal yang sangat mendasar dan fundamental untuk pertama kali dipersiapkan ialah niat. Ananda tentu tahukan apa yang seharusnya di niatkan bagi seorang yang mengaku sebagai muslim atau muslimah sebelum menikah”

“Tiada lain yaitu niat ibadah kepada Allahu ta‘ala bunda” Alya menjawab mantap.

“Betul sekali anandaku. Hal paling mendasar yang perlu dipersiapkan sebelum menikah ialah meluruskan niat ananda untuk menikah dengan motivasi beribadah kepada-Nya. Tidak salah, tidak salah sama sekali jika kita menikah disebabkan alasan psikis karena saling mencintai kemudian sepakat untuk menikah atau karena alasan biologis berupa dorongan syahwat pun tidak salah, namun jangan jadikan hal-hal tersebut sebagai satu-satunya alasan untuk menikah, terlepas dari kehendak untuk beribadah kepada-Nya. Berapakah lamanya perasaan cinta yang mampu bersemai dihati sepasang kekasih tanpa nilai ketaqwaan didalamnya dan seberapa mampukah gejolak syahwat diredam hanya karena tuntunan pemenuhan biologis semata. Sudah menjadi tabiat dasar manusia yang tidak pernah puas akan kesenangan dan kenikmatan, sampai-sampai Rasulullah bersabda adalah bani adam yang apabila diberi kepadanya sebuah lembah yang penuh emas, maka pasti dia akan meminta lembah lainnya berisi emas juga. Agar tendensi ketidak puasan tersebut mampu untuk dikendalikan, tak lain hanya dengan menggunakan rambu-rambu syariat dimana salah satunya ialah dengan menjadikan niat menikah dimotivasi akan keinginan untuk beribadah kepada-Nya sehingga mampu melahirkan sifat qana’ah atau kecukupan hati. Bukankah tujuan menikah ialah menciptakan ketenangan dan perasaan cinta serta kasih (sakinah, mawadah, warahmah) antara suami istri. Tidaklah ketenangan hati mampu dicapai kecuali dengan mengingat Allah dan tidaklah seseorang bisa mengingat Allah secara sempurna kecuali dia tengah beribadah kepada-Nya, sedangkan pemilik sesungguh-Nya dari perasaan cinta dan kasih ialah Allah SWT sehingga menjadi hak-Nya untuk memberikan perasaan tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan tentu saja menjadi hak-Nya juga untuk mencabut perasaan tersebut kapan saja Dia mau. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar Allah SWT sudi untuk senantiasa menjadikan perasaan cinta dan kasih bersemayam dihati kita? Tentu saja dengan membuat Dia ridho melalui ibadah kepada-Nya”

…HAL PALING MENDASAR YANG PERLU DIPERSIAPKAN SEBELUM MENIKAH IALAH MELURUSKAN NIAT ANANDA UNTUK MENIKAH DENGAN MOTIVASI BERIBADAH KEPADA-NYA…

…BERAPAKAH LAMANYA PERASAAN CINTA YANG MAMPU BERSEMAI DIHATI SEPASANG KEKASIH TANPA NILAI KETAQWAAN DIDALAMNYA…

…SEBERAPA MAMPUKAH GEJOLAK SYAHWAT DIREDAM HANYA KARENA TUNTUNAN PEMENUHAN BIOLOGIS SEMATA…

Sesekali suara jangkrik terdengar menyelingi dialog antara Alya dan Ibundanya. Sesekali juga dari arah masjid terdengar suara-suara pengumuman seputar agenda Masjid Al-Fath oleh pengurusnya.

“Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Konsekuensinya ialah kita dicipta dan ada untuk mengabdi kepada-Nya, namun karena kasih sayang-Nya, Allah tetap memberikan penghargaan bagi mereka yang mengabdi kepada-Nya berupa pahala dan surga. Berpijak pada nash diatas, memberikan petunjuk bagi kita untuk menjadikan setiap detil kehidupan adalah ibadah kepada-Nya. Meskipun itu pada saat kita makan, minum, bahkan tidur. Apalagi untuk hal besar seperti pernikahan, tentu saja wajib terkandung nilai-nilai ‘ubudiyah didalamnya. Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS An-‘Aam : 162)”

Resapan dan pencernaan akan pencerahan untuk sebuah kefakihan dari sang bunda sedang dilakukan Alya. Alhamdulillah segala apa yang disampaikan ibundanya barusan mampu diterima dan dimengerti dengan baik oleh Alya.

“Seandainya saja rumah tangga di ibaratkan sebuah perahu, maka niat menikah adalah kompasnya. Kompas yang benar akan menunjukan arah yang benar. Begitu juga dengan kompas yang salah akan memberikan arahan yang menyesatkan. Tidaklah kita mampu memiliki kompas rumah tangga yang benar kecuali dengan menjadikan kompas atau niat menikah karena ingin beribadah kepada-Nya. Memiliki kompas yang benar insya Allah akan memberikan kita petunjuk yang jelas arah mana hendak dituju dan tiada lain tujuan dari perahu rumah tangga ialah menuju kepada ufuk keabadian dan kenikmatan yang sesungguhnya yakni surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bukankah kesana tujuannya wahai anandaku?” Bunda coba membangun dialog interaktif dengan Alya.

…SEANDAINYA SAJA RUMAH TANGGA DI IBARATKAN SEBUAH PERAHU, MAKA NIAT MENIKAH ADALAH KOMPASNYA…

…TIDAKLAH KITA MAMPU MEMILIKI KOMPAS RUMAH TANGGA YANG BENAR KECUALI DENGAN MENJADIKAN KOMPAS ATAU NIAT MENIKAH KARENA INGIN BERIBADAH KEPADA-NYA…

“Betul bunda, insya Allah. Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu” Alya membaca Kalamullah QS Ar-Ra’d : 23.

“Kita tidak perlu khawatir untuk tersesat atau kehilangan arah jika ingin menuju ufuk surga sekaligus juga mereguk nikmat sakinah, mawadah, warahmah dalam berumah tangga di dunia, karena antara sakinah, mawadah, warahmah dan surga adalah searah. Semuanya memiliki arah yang sama. Jaraknya pun hanya sepenggal, yakni kematian. Itu saja. Kematian yang bersifat sementara menuju pada kehidupan sebenarnya. Jadi seandainya kompas yang ananda miliki menunjukan bahwa ananda telah berada di jalur sakinah, mawadah, warahmah, maka bersuka citalah, sebab jalur tersebut akan membawa perahu rumah tangga ananda mengarah pada ufuk surga-Nya Allah, insya Allah” Bunda tersenyum memberikan ghiroh positif kepada putri tercintanya.

“Amin Allahumma amin ya bunda” Mata Alya tampak berkaca. Dia merasa beruntung memiliki bunda yang mampu menjadi madrasah ilmu baginya. Memberikan ilmu yang mungkin tidak didapatkannya di madrasah-madrasah lain.

“Tapi anandaku, wajib untuk diketahui bahwasanya memiliki kompas atau niat yang benar saja tentu belum cukup. Ananda masih butuh sesuatu untuk membaca kompas tersebut, karena jika salah membaca arah kompas, sekalipun kompas yang ananda miliki adalah kompas yang benar, maka bisa jadi ananda tidak bisa mencapai arah yang ingin dituju. Bisa jadi salah arah atau juga tersesat”

“Apakah sesuatu tersebut wahai bunda?”

“Sesuatu itu ialah ilmu”

Alya paham, kearah mana sang bunda mengajak dirinya bicara.

“Ananda butuh ilmu untuk membaca kompas yang ananda miliki. Adanya pengetahuan atau kemampuan untuk membaca kompas dengan benar akan sangat menolong ananda untuk benar-benar berlayar ke arah yang dimaksud, insya Allah tidak akan tersesat. Pernikahan adalah amal dan seandainya kita mengikuti analogi Rasulullah SAW bahwa amalan ibarat buah, maka tidaklah kita mampu menghasilkan buah yang sehat dan berkualitas serta manis rasanya kecuali buah tersebut memiliki akar yang kokoh yakni niat yang benar dan pohon yang mapan yaitu ilmu yang memadai. Sebelum menikah setidaknya ananda telah memiliki ilmu-ilmu seperti, bagaimana menjadi seorang istri sholehah, yang apabila dipandang dia menyenangkan suaminya, apabila diperintah dia taat dan apabila ditinggal dia mampu menjaga diri dan harta suaminya, lalu ilmu bagaimana menjadi makmum yang baik, untuk selalu taat kepada perintah suami selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, kemudian juga memiliki ilmu bagaimana agar bisa menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan tak lupa ilmu bagaimana menjadi partner yang kompak dan sahabat terbaik bagi suami, dimana istri bisa menjadi tempat bagi suami untuk meminta saran, pendapat atau masukan juga berkeluh kesah bahkan bermanja. Tidak melulu istri yang harus selalu berkeluh kesah dan meminta solusi serta bermanja kepada suami. Dan yang tak kalah pentingnya ialah ilmu bagaimana menjadi pakaian yang baik bagi suami, yang mampu memperindah tampilan dan harga diri suami pada semua orang dengan menjaga tingkah laku dan akhlakul karimah, lalu menutup aib-aib dan kekurangan suami dimata semua orang, sehingga suami merasa nyaman dan aman untuk menampakkan kelemahan dan kekurangan dirinya hanya pada istri tercinta”

…ADANYA PENGETAHUAN ATAU KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA KOMPAS DENGAN BENAR AKAN SANGAT MENOLONG ANANDA UNTUK BENAR-BENAR BERLAYAR KE ARAH YANG DIMAKSUD, INSYA ALLAH TIDAK AKAN TERSESAT…
Ingatan Alya coba mengulas ilmu-ilmu yang pernah didapatnya seputar masalah munakahah.

“Bukan berarti anandaku harus berhenti mencari ilmu saat telah menikah, teruslah belajar dan menjadi pembelajar yang setia, namun demikian, sebaiknya ilmu-ilmu yang bunda sebutkan tadi telah ananda miliki terlebih dahulu sebelum ananda menikah”

“Insya Allah bunda, ananda akan terus belajar dan menjadi pembelajar yang setia”

“Sementara bagi ikhwan yang akan menikah, ilmu yang harus dipersiapkan tidak jauh berbeda, hanya saja mungkin yang harus dipersiapkan oleh mereka dan agak berbeda memang ialah bagaimana menjadi imam yang baik. Mampu membimbing istri dan anak-anaknya menuju pada jannah-Nya dan menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS At-Tahrim : 6). Perlu diketahui oleh para ikhwan bahwa dengan menikah berarti jumlah keluarga yang harus dipeliharanya dari siksa neraka semakin bertambah. Tadinya yang termasuk keluarganya hanya dirinya, orang tuanya dan adik beradiknya, maka setelah menikah, jumlah orang yang termasuk keluarganya menjadi bertambah, yaitu istrinya, anak-anaknya, mertuanya dan adik atau kakak iparnya”

“Betapa besar tanggung jawab mereka ya bunda”

“Ngomong-ngomong masalah tanggung jawab, bunda agak prihatin melihat fenomena yang berkembang akhir-akhir ini. Fenomena para kaum pembela gender yang berusaha menafikan hukum-hukum Allah SWT yang membicarakan tentang hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Salah satu contohnya saja ialah mengenai pembagian warisan, dimana Allah SWT telah menetapkan perbandingan 2 : 1 antara anak laki-laki dan perempuan, namun masih saja ada orang-orang yang menganggap bahwa hukum tersebut tidak adil, Masya Allah. Saat berbicara masalah hak mereka ingin adanya kesetaraan, namun tatkala dihadapkan pada masalah kewajiban dan tanggung jawab, mereka enggan untuk mensetarakannya. Tidak sadarkah mereka bahwa di akhirat kelak para suami tidak saja mempertanggung jawabkan dirinya seorang dihadapan Allah SWT, melainkan juga harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya atas istri dan anak-anaknya. Betapa besar beban dan tanggung jawab tersebut, Maukah kaum pembela gender mengambil alih sebagian kewajiban tersebut? Bunda rasa tidak” Kembali ibunda Alya tersenyum.

“Oleh karena itu anandaku, bunda berusaha sekuat tenaga untuk mensholehahkan diri. Hal itu bunda lakukan karena disamping rasa cinta dan takut bunda kepada Allah, juga karena bunda sangat sayang dan cinta kepada abi. Bunda tidak ingin akibat kesalahan dan dosa-dosa yang bunda lakukan malah akan menjerumuskan abi kedalam neraka karena dinilai gagal menjalankan fungsi sebagai qowwam bagi istrinya. Na’udzubillahi min dzalik. Sekarang bunda semakin mengerti dengan maksud hadits Rasulullah yang berbunyi : barang siapa (lelaki) diberi rizki oleh Allah berupa istri sholehah, maka sesungguhnya Allah telah menolong atas sebagian agamanya, dan hendaklah mereka bertaqwa untuk menyempurnakan sebagiannya lagi. Kesholehahan kita sebagai seorang istri betul-betul akan mampu menjadi penolong bagi suami, terlebih lagi saat di yaumil hisab kelak. Semoga kamu dapat mengambil ibroh dari hal tersebut ya sayang”

…BUNDA TIDAK INGIN AKIBAT KESALAHAN DAN DOSA-DOSA YANG BUNDA LAKUKAN MALAH AKAN MENJERUMUSKAN ABI KEDALAM NERAKA KARENA DINILAI GAGAL MENJALANKAN FUNGSI SEBAGAI QOWWAM BAGI ISTRINYA…

Menyeruak setangkup rasa kagum dalam benak Alya. Menebarkan perasaan mengidolakan sang bunda. Bundaku idolaku, begitulah salah satu adagium yang selalu terlintas di batin Alya. Betapa mulia akhlak yang dimiliki sang bunda. Alya merasa beruntung pernah lahir dari rahimnya.

“Setelah niat yang benar dan ilmu yang memadai telah ananda miliki, maka ananda hanya tinggal membutuhkan satu hal lagi sebelum memutuskan siap untuk menikah. Sesuatu tersebut ananda butuhkan guna mengamalkan atau mengaplikasikan ilmu yang telah ananda miliki. Sesuatu tersebut ialah mental. Mental untuk berani mengaplikasikan ilmu yang telah ananda miliki menjadi sebuah amalan agung yaitu pernikahan. Mental untuk berani mengambil resiko atau konsekuensi logis apa yang akan ananda terima jika kelak ananda menikah. Tanpa kesiapan mental maka niat dan ilmu yang ananda miliki akan selalu sebatas wacana. Belum bisa ditindak lanjuti menjadi sebuah aksi.”

…TANPA KESIAPAN MENTAL MAKA NIAT DAN ILMU YANG ANANDA MILIKI AKAN SELALU SEBATAS WACANA. BELUM BISA DITINDAK LANJUTI MENJADI SEBUAH AKSI…

Konklusi sementara akan diberikan oleh sang bunda.

“Itulah hal-hal yang perlu ananda persiapkan sebelum ananda memutuskan untuk menikah. Pertama niat karena ingin bertaqarrub atau mendekatkan diri serta beribadah kepada-Nya. Kedua ilmu yang memadai sebagai seorang istri dan ketiga ialah mental untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu sebagai seorang istri. Sudahkah ananda memiliki ketiganya?” Bunda bertanya ramah, sedang Alya menjadi malu untuk menjawabnya.

…PERTAMA NIAT KARENA INGIN BERTAQARRUB ATAU MENDEKATKAN DIRI SERTA BERIBADAH KEPADA-NYA. KEDUA ILMU YANG MEMADAI SEBAGAI SEORANG ISTRI DAN KETIGA IALAH MENTAL UNTUK MENGAPLIKASIKAN ILMU-ILMU SEBAGAI SEORANG ISTRI…

“Alya belum berani menjawabnya sekarang bunda. Alya masih perlu bertafakur dan muhasabah diri untuk menjawab sudahkah Alya memiliki ketiga hal tersebut. Alya masih perlu waktu bunda”

“Bunda paham wahai ananda. Kehati-hatian itu datangnya dari Allah, sementara ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan”

“’Adzubillahi sami ‘il ‘alimi minasy syathan nirrajim”

“Ada satu materi tambahan yang ingin bunda sampaikan. Sebenarnya ini khusus untuk ikhwan saja, namun tidak ada salah ananda mengetahuinya juga”

“Apa itu bunda?”

“Disamping ketiga hal yang bunda sebutkan tadi, ada satu hal tambahan yang perlu dipersiapkan oleh ikhwan sebelum mereka memutuskan untuk menikah, yaitu kesiapan bermateri”

“Kesiapan bermateri bunda?”

“Iya, kesiapan bermateri. Ananda simak baik-baik kata bunda. Bunda tidak mengatakan kesiapan materi, tapi bunda mengatakan kesiapan bermateri”

“Apa perbedaannya bunda?”

“Bila membicarakan masalah kesiapan materi, maka saat itu kita tengah membicarakan tentang materi, yang tentu saja bersifat eksternal. Berbeda apabila kita tengah berbicara tengah kesiapan bermateri, maka yang tengah kita bicarakan ialah masalah mental. Ranahnya masuk pada hal yang bersifat internal”

Sepoi angin mengoyangkan dedaunan. Rapuh akibat kekeringan menyebabkan daun-daun kering gugur ke bumi menimbulkan satu peristiwa yang meski kecil namun tak mungkin luput dari Pengetahuan-Nya. Begitu juga pada Alya. Sepoi angin memberikan inspirasi baginya untuk menyibak satu ilmu baru yang belum pernah didengarnya.

“Disamping mental untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka miliki, para ikhwan juga wajib menyiapkan mental lain terkait kesiapan mereka untuk menikah, yaitu mental survive dan pantang menyerah untuk mencari maisyah. Itulah yang dimaksud dengan kesiapan bermateri. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf (QS Al-Baqarah : 233)”

…DISAMPING MENTAL UNTUK MENGAPLIKASIKAN ILMU YANG TELAH MEREKA MILIKI, PARA IKHWAN JUGA WAJIB MENYIAPKAN MENTAL LAIN TERKAIT KESIAPAN MEREKA UNTUK MENIKAH, YAITU MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH UNTUK MENCARI MAISYAH. ITULAH YANG DIMAKSUD DENGAN KESIAPAN BERMATERI…

“Mental survive dan pantang menyerah maksudnya gimana bunda? Apa itu berarti materi tidak diperlukan?”

“Materi tentu saja penting ananda, walaupun materi bukan segala-galanya, tapi segala-galanya akan sulit bergerak jika tidak ada materi, namun seandainya kita menjadikan materi sebagai patokan kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, maka hal tersebut menjadi sangat relatif. Sekarang bunda tanya sama ananda, kira-kira materi apa ya yang minimal harus dimiliki sebelum seorang ikhwan memutuskan bahwa dirinya telah siap untuk menikah?” Bunda coba menguji putrinya yang masih memerlukan pendewasaan.

Alya tak mampu menjawab. Dia takut salah, karena ilmunya belum memadai dalam memahami masalah ini. Ditambah lagi dia tahu sang bunda sedang mengujinya.

“Sudah ada rumah meskipun masih ngontrak? Mobil? Motor?”

Alya hanya diam. Dia tidak ingin gegabah apalagi menjadi sok tahu.

“Bunda akan mengetengahkan satu contoh kehidupan rumah tangga pada masa Rasulullah, yaitu kehidupan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Pada saat Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah, harta apa yang dimiliki oleh Ali? Hanya baru perang saja. Hanya itulah yang dimiliki oleh Ali. Apakah Fatimah protes lalu menuntut lebih dari Ali? Adakah Rasulullah keberatan untuk melepaskan putri kesayangannya menikah dengan Ali? Fatimah sadar sebagai seorang suami Ali sudah berusaha keras untuk melaksanakan kewajibannya dalam memberikan nafkah dan Ali sudah berikhtiar semampunya untuk itu, namun bukankah untuk masalah hasil merupakan urusan Allah? Masalah hasil sudah diluar kewenangan Ali”

“Allah lebih melihat pada proses sebab masalah hasil adalah hak-Nya” Komentar singkat nan padat dari Alya.

“Memang kita juga harus realistis bahwa standar minimal kebutuhan rumah tangga pada masa Rasulullah dengan masa kini sungguh sangat jauh berbeda. Sekarang kalau mau berpergian kemana-mana saja harus dengan ongkos. Tidak demikian pada masa Rasulullah cukup dengan berjalan kaki walau memang waktu yang dibutuhkan lebih. Pada masa Rasulullah untuk pendidikan tidak dikenai biaya sama sekali cukup dengan datang ke majelis ilmu saja. Berbeda dengan zaman sekarang baik dari tingkat Taman Kanak-Kanak apalagi tingkah kuliah, semua dikenai biaya. Itu salah satu contoh kecil saja dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa dibandingkan. Meskipun demikian tetap saja materi tidak bisa dijadikan tolak ukur karena bersifat relatif. Rasa cukup itu letaknya dihati bukan pada materi sehingga merupakan faktor internal bukan eksternal. Janganlah kita terjebak pada pola materialis yang serba matematis dalam menyikapi karunia Allah. Janganlah kita berasumsi bahwa seandainya kebutuhan untuk seorang pria adalah satu juta per bulan maka tatkala sang pria telah menikah, kebutuhannya berlipat menjadi dua juta per bulan. Sungguh pragmatis dan matematis. Bukankah Rasulullah bersabda bahwa makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang, begitulah seterusnya. Pada hadits tersebut sebenarnya memberikan kita pelajaran bahwa sebenarnya makanan tersebut tidak pernah berubah dari segi kuantitas. Jumlahnya cuma segitu-segitu saja, namun yang berubah ialah penyikapan dari manusia yang menyantap makanan tersebut. Sikap merekalah yang perlu berubah dalam menilai cukup tidaknya makanan buat satu orang untuk disantap oleh dua orang dan seterusnya”

…JANGANLAH KITA TERJEBAK PADA POLA MATERIALIS YANG SERBA MATEMATIS DALAM MENYIKAPI KARUNIA ALLAH…

…SIKAP MEREKALAH YANG PERLU BERUBAH DALAM MENILAI CUKUP TIDAKNYA MAKANAN BUAT SATU ORANG UNTUK DISANTAP OLEH DUA ORANG DAN SETERUSNYA…

Malam semakin larut sementara dialog antar ibu dan anak semakin menghangat.

“Cukuplah mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja dari seorang ikhwan menjadi pertanda bahwa dia telah memiliki kesiapan bermateri. Lalu menjadi pertanyaan yang krusial adalah, bagaimana cara kita menilai bahwa seorang ikhwan telah memiliki mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja?”

“Yang bertanya jauh lebih tahu daripada yang ditanya” Alya mempersilahkan ibunda menyelesaikan nasehatnya.

“Cara menilainya ialah dengan melihat kegigihannya dalam bekerja. Mengetahui usaha-usaha apa saja yang telah dilakukannya dalam mencari nafkah, meskipun hasil dari kegigihan dan usahanya tersebut belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Itulah cara menilainya ananda. Perlu digaris bawahi wahai anandaku, bahwa bunda katakan “belum” membuahkan hasil yang diharapkan. Bunda tidak menggunakan frase kata “tidak” membuahkan hasil seperti yang diharapkan, tapi frase kata “belum”. Maksudnya apa? Mengapa bunda menggunakan frase kata “belum”? Tiada lain bunda ingin menyampaikan pesan positif kepada ananda bahwa untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan itu hanya masalah waktu. Bukan masalah ketidak mampuan sang ikhwan apalagi kemustahilan, karena dia telah memiliki modal dasar yang paling fundamental dan berharga dalam mencari maisyah yakni mental survive dan pantang menyerah. Akan sangat berbeda ceritanya jika yang datang kepada ananda adalah seorang ikhwan yang telah memiliki kemapanan materi dan rupanya kemapanan tersebut diperolehnya karena bantuan orang tua mungkin atau warisan, sehingga belum bisa disebut sebagai ikhwan yang memiliki mental survive dan pantang menyerah sebab belum teruji. Bukankah Allah telah berjanji bahwa dia akan memampukan hamba-Nya yang miskin apabila hamba-Nya tersebut ingin menikah? (QS An-Nur : 32) Dan tidaklah janji tersebut akan ditunaikan oleh Allah kecuali bagi hamba-hamba-Nya yang mau berikhtiar untuk mewujudkannya. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d : 11). Lalu siapakah hamba-Nya yang pantas untuk mendapatkan janji mampu dari-Nya? Tentu saja hanya bagi hamba-hamba-Nya yang mempunyai mental survive dan pantang menyerah, sebab hal tersebut merupakan representasi ikhtiar yang sesungguhnya.”

…CARA MENILAINYA IALAH DENGAN MELIHAT KEGIGIHANNYA DALAM BEKERJA. MENGETAHUI USAHA-USAHA APA SAJA YANG TELAH DILAKUKANNYA DALAM MENCARI NAFKAH, MESKIPUN HASIL DARI KEGIGIHAN DAN USAHANYA TERSEBUT BELUM MEMBUAHKAN HASIL SEBAGAIMANA YANG DIHARAPKAN. ITULAH CARA MENILAINYA ANANDA…

…TIADA LAIN BUNDA INGIN MENYAMPAIKAN PESAN POSITIF KEPADA ANANDA BAHWA UNTUK MENDAPATKAN HASIL SEPERTI YANG DIHARAPKAN ITU HANYA MASALAH WAKTU. BUKAN MASALAH KETIDAK MAMPUAN SANG IKHWAN APALAGI KEMUSTAHILAN, KARENA DIA TELAH MEMILIKI MODAL DASAR YANG PALING FUNDAMENTAL DAN BERHARGA DALAM MENCARI MAISYAH YAKNI MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH…

…LALU SIAPAKAH HAMBA-NYA YANG PANTAS UNTUK MENDAPATKAN JANJI MAMPU DARI-NYA? TENTU SAJA HANYA BAGI HAMBA-HAMBA-NYA YANG MEMPUNYAI MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH, SEBAB HAL TERSEBUT MERUPAKAN REPRESENTASI IKHTIAR YANG SESUNGGUHNYA…

“Subhanallah… betul sekali bunda. Alya setuju 100 % hee”

“Nah sekarang bunda mau nanya nih, memang idealnya sih ikhwan yang datang mengkhitbah ialah ikhwan yang telah memiliki kemapanan materi juga mental survive dan pantang menyerah, tapi itu terlalu ideal. Coba untuk lebih realistis saja, seandainya ananda disuruh memilih, manakah yang akan ananda pilih, ikhwan yang belum mempunyai kemapanan materi tapi mempunyai kesiapan bermateri atau ikhwan yang sudah mapan secara materi tapi belum teruji apakah dia memiliki mental survive dan pantang menyerah? Hayo pilih yang mana?” Ibunda coba menggoda Alya.

“Insya Allah Alya akan memilih ikhwan yang mempunyai kesiapan bermateri meskipun dia belum mapan secara materi” Jawab Alya mantap. Serta merta senyum kebanggan menghiasi wajah sang bunda akan kecerdasan putrinya.

“Alya.. ketahuilah, bahwa membangun kemapanan dalam berumah tangga secara bersama-sama itu jauh lebih indah. Sebab masing-masing pasangan mempunyai andil yang sama besar untuk mewujudkan kemapanan tersebut. Masing-masing pasangan tidak akan berani mengklaim bahwa merekalah yang secara pribadi mempunyai jasa paling besar dalam membangun kemapanan tersebut, sehingga akan menutup pintu egoisme dan arogansi dari salah satu pihak. Menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati. Masing-masing akan merasa saling membutuhkan. Bila sudah begitu insya Allah akan melahirkan ketenangan (sakinah) dalam kehidupan berumah tangga dan melanggengkan rasa cinta dan kasih (mawadah wa rahmah) diantara mereka. Bukankah disamping berperan sebagai makmum, istri sholehah juga dituntut untuk dapat berperan sebagai partner yang kompak dengan suami. Jadilah mereka sebagai tim kehidupan yang solid dan insya Allah akan mampu menghasilkan produktivitas kebaikan yang luar biasa, tidak saja bagi kehidupan keluarga mereka tapi juga masyarakat pada umumnya”


…KETAHUILAH, BAHWA MEMBANGUN KEMAPANAN DALAM BERUMAH TANGGA SECARA BERSAMA-SAMA ITU JAUH LEBIH INDAH. SEBAB MASING-MASING PASANGAN MEMPUNYAI ANDIL YANG SAMA BESAR UNTUK MEWUJUDKAN KEMAPANAN TERSEBUT…

“Lagi-lagi Alya setuju bunda. Kali ini setuju 1000 % hee” Alya mengekspresikan mimik manjanya.

“Ngomong-ngomong mengenai kemapanan materi, ada satu hal lagi yang ingin bunda sampaikan kepada ananda. Ketahuilah bahwa secara psikologis antara pria dan wanita memiliki perbedaan kecendrungan menilai cinta sejati yang dicarinya. Jika pria biasanya menilai cinta sejatinya pada seorang wanita cukup dengan apa yang ada pada diri wanita tersebut. Mereka tidak terlalu memusingkan hal-hal yang ada pada sekitar wanita tersebut. Apakah itu terkait dengan latar belakang sang wanita, keturunannya atau status sosialnya. Mungkin hal-hal tersebut tetap menjadi pertimbangan bagi sang pria namun bukan prioritas utama. Cukuplah pria melihat kelebihan atau kebaikan yang ada pada wanita tersebut. Mungkin saja akhlak sang wanita, tingkah lakunya atau mungkin juga fisiknya. Berbeda dengan pria, kalau wanita dalam menilai cinta sejatinya kepada seorang pria ialah dengan melihat rasa aman yang mampu diberikan oleh sang pria pada dirinya. Rasa amanlah yang menjadi tolak ukur cinta sejati wanita, namun sayangnya pada masa sekarang ini kebanyakan wanita salah dalam menginterpretasikan kebutuhan psikologis akan rasa aman pada diri mereka. Mereka menginterpretasikan kebutuhan psikologis akan rasa aman terhadap masa depan mereka dengan harta. Mereka berasumsi bahwa hartalah yang menjadi sarana ampuh untuk menjamin keamanan akan masa depan mereka, sehingga tidak heran pada masa sekarang banyak wanita yang ingin menikah dengan pria mapan secara materi sekalipun berumur dan belum jelas kebaikan akhlaknya. Bahkan menikah dengan suami orang secara siri dan rela untuk dijadikan simpanan. Na’udzubillahi min dzalik. Sungguh amat disesalkan pola pikir seperti itu. Padahal Allah sudah memperingatkan akan kesalahan pola pikir tersebut : dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah (QS Al-Humazah : 3-4)”

…JIKA PRIA BIASANYA MENILAI CINTA SEJATINYA PADA SEORANG WANITA CUKUP DENGAN APA YANG ADA PADA DIRI WANITA TERSEBUT…

…KALAU WANITA DALAM MENILAI CINTA SEJATINYA KEPADA SEORANG PRIA IALAH DENGAN MELIHAT RASA AMAN YANG MAMPU DIBERIKAN OLEH SANG PRIA PADA DIRINYA…

…MEREKA MENGINTERPRETASIKAN KEBUTUHAN PSIKOLOGIS AKAN RASA AMAN TERHADAP MASA DEPAN MEREKA DENGAN HARTA…

“Na’udzubillahi min dzalik” Alya ikut berta’awudz.

“Dari sinilah kita dapat melihat perbedaan yang sangat signifikan mengenai kebutuhan antara pria dan wanita. Jika kebanyakan pria lebih membutuhkan wanita, sementara kebanyakan wanita lebih membutuhkan harta, sehingga bisa dikatakan bahwa godaan terbesar bagi kaum adam ialah wanita, sedangkan godaan terbesar bagi kaum hawa ialah harta. Mau tahu buktinya ananda? Lihatlah secara faktual bahwa jumlah janda itu lebih banyak dari pada duda. Kebanyakan pria apabila bercerai dengan istrinya, apakah karena ditinggal mati atau talaq, kemungkinan besar akan menikah lagi. Berbeda dengan kebanyakan wanita kemungkinan menikah lagi sangat kecil. Kalaupun menikah lagi biasanya yang menjadi alasan ialah agar ada pria yang mampu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya. Lagi-lagi seputar harta. Nah, maka dari itu wahai ananda berhati-hatilah dengan kesalahan pola pikir tersebut”

…GODAAN TERBESAR BAGI KAUM ADAM IALAH WANITA, SEDANGKAN GODAAN TERBESAR BAGI KAUM HAWA IALAH HARTA…

“Insya Allah bunda”

“Sebenarnya rasa aman yang paling hakiki dibutuhkan oleh seorang wanita ialah seorang pria yang mampu memberikan rasa aman bagi dirinya atas keburukan-keburukan yang mungkin menimpanya baik di dunia dan di akhirat, dan tidaklah keburukan tersebut bisa dihindari kecuali bagi hamba-hamba Allah yang menjadikan Allah SWT sebagai pelindung dan penolong mereka, sedang perlindungan dan pertolongan tersebut tidaklah akan turun kecuali bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Lelaki bertaqwa-lah yang sebenarnya dibutuhkan oleh wanita sebagai suami sekaligus qawwam mereka. Bukankah Rasulullah SAW sudah memberikan petunjuk untuk menikahi seseorang dengan menjadikan agama sebagai faktor pertama dan utama untuk menikah. Simak juga apa yang dikatakan oleh cucu Nabi, Husain bin Ali. Dia pernah berkata bahwa dengan menikahi lelaki bertaqwa maka apabila lelaki tersebut mencintai istrinya maka dia akan menghormati dan apabila dia tidak mencintai istrinya, maka dia tidak akan mendzalimi. Itulah kira-kira yang perlu ananda ketahui”

…SEBENARNYA RASA AMAN YANG PALING HAKIKI DIBUTUHKAN OLEH SEORANG WANITA IALAH SEORANG PRIA YANG MAMPU MEMBERIKAN RASA AMAN BAGI DIRINYA ATAS KEBURUKAN-KEBURUKAN YANG MUNGKIN MENIMPANYA BAIK DI DUNIA DAN DI AKHIRAT…
“Subhanallah bunda banyak sekali ilmu yang ananda dapatkan pada malam yang berkah ini”

“Ingatlah wahai ananda bahwa niat yang benar, ilmu yang memadai dan kesiapan mental untuk mengamalkan ilmu serta kesiapan bermateri bagi ikhwan bersifat kumulatif. Harus dipenuhi semuanya terlebih dahulu. Tidak boleh kurang satu pun jua karena hal-hal tersebut merupakan syarat-syarat yang paling minimal untuk dimiliki sebelum memutuskan siap menikah. Sebab hal-hal tersebut insya Allah mampu menjadi pengaman pada fase pra-nikah menuju pernikahan yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Amin. Hmm… ada satu hal nih yang ingin bunda tanyakan lagi, kira-kira kalo ada seorang ikhwan yang datang mengkhitbah ananda namun masih memiliki kekurangan atas syarat-syarat kesiapan menikah yang bunda sebutkan tadi, kira-kira sikap ananda bakalan gimana?”

…INGATLAH WAHAI ANANDA BAHWA NIAT YANG BENAR, ILMU YANG MEMADAI DAN KESIAPAN MENTAL UNTUK MENGAMALKAN ILMU SERTA KESIAPAN BERMATERI BAGI IKHWAN BERSIFAT KUMULATIF. HARUS DIPENUHI SEMUANYA TERLEBIH DAHULU. TIDAK BOLEH KURANG SATU PUN JUA…

Alya ragu-ragu menjawabnya. Dia masih memikirkan jawaban yang paling tepat, namun belum sempat Alya menjawab, langsung saja sang bunda menjawabnya sendiri.

“Sebaiknya ditolak saja khitbahnya wahai ananda karena hal tersebut bukanlah sebuah kesiapan melainkan kenekatan” Bunda-pun tersenyum pada Alya.

Sebuah senyuman tanda mengerti dan juga menggelitik dibalas Alya.

“Waduh baru kali ini bunda mendiskusikan masalah munakahah sebanyak ini dengan Alya” Alya bersemangat.

“Karena bunda tahu inilah saatnya ananda”

“Kalo begitu sekalian aja ya bunda untuk mendiskusikan mengenai pengaman pasca-nikah”

“Putri bunda semangat sekali”

“Iya nih…hee”

“Malam terasa semakin akrab ya ananda dan tampaknya abi juga masih lama pulang dari masjidnya. Baiklah akan bunda bahas sekalian aja mengenai pengaman pasca-pernikahan.”

Alya tampak antusias.

“Bicara mengenai pengaman pasca-pernikahan sebenarnya sama saja kita tengah membicarakan hal-hal yang menjadi pondasi utama pada sebuah pernikahan islami, dan hal yang menjadi pondasi pertama ialah…”

Bersambung…


Komentar-komentar :

Blom ada yang ngasih komentar ... :(

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Kisah Nyata Seorang Akhwat

 Tahapan Persiapan Pernikahan

 Bekal Pra Nikah

 Cara Melakukan Perkenalan Untuk Mendapat Pasangan Hidup

 Persiapan Pra-nikah Bagi Nuslim Dan Muslimah

 Ujian Pra Nikah= Seni Pra Nikah

 Pernikahan Islam

 Persiapan Pra Nikah

 Seorang Akhwat Yang Melamar Ikhwan

 Persiapan Menuju Pernikahan

 Persiapan Pra Nikah Bagi Muslimah

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 08 - Tangisan Bahagia Di Akhir Dwilogi Kami

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 07 - Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 06 - Kepercayakan Padamu My Angel

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 05 - Putri Pangeran Dan Februari

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 04 - Buah Hatiku, Buah Hatimu, Buah Hati Kita

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 03 - Nikmatnya Pacaran Setelah Perjanjian Suci

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 02 - Malam Zafaf

 Dwilogi Cinta Romi Dan Juli: Part 01 - Kala Dosa Menjadi Pahala

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 18 - Epilog Jendela Pertama

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 17 - Barakallahu!

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 16 - Ana Uhibbuki Fillah (aku Mencintaimu Karena Allah)

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 15 - Traveling To Bangka Island (kupinang Engkau Dengan Hamdalah)

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 14 - Ada Apa Dengan Cina?

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 13 - Ejawantah Rasa Gelisah (juli Again?)

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 12 - Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 11 - 25 Tahun Usiaku Akan Kusempurnakan Agama Ini

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 10 - Esa Hilang Dua Terbilang

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 9 - Kusimpan Mawar Ini Tetap Untukku, Juli

 Kisah Cinta Romi Dan Juli: Part 8 - Up Close And Pesonal With 2 Cyber Hijaber




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com