artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah

Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 17 - Mengapa Engkau Persulit Dirimu?

Karya : Mohammad Fauzil Adhim

 

Banyak saudara-saudara kita yang harus berkeringat deras untuk bisa mencapai pernikahan. Banyak yang bingung harus bagaimana lagi agar desakan untuk menikah bisa surut, sementara puasa sudah dijalaninya dengan istiqamah. Banyak yang harus melewatkan malam-malamnya dengan perasaan gelisah yang memuncak, sehingga kadang harus diteduhkan dengan air mata, demi menenangkan hati dari kerinduan bersanding dengan teman hidup. Banyak yang terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak untuk merintih kepada Tuhan, "Ya Allah, hadirkanlah bagiku istri yang menjadi penyejuk mataku dari sisi-Mu." Atau, "Ya Allah, hampir-hampir tak kuat hamba-Mu ini menahan keinginan untuk menikah. Ya Allah, inilah hamba-Mu mengadu kepada-Mu."

Banyak yang resah. Dan kemudian Allah menolongnya. Tetapi ada juga yang dimudahkan jalannya oleh Allah untuk menikah. Di saat ada orang-orang yang harus jatuh bangun menghadapi kesulitan, ia dengan ringan dilapangkan jalan untuk menikah. Pada saat ada sejumlah orang yang dihimpit kesedihan karena keinginan untuk menikah semasa masih kuliah tak bisa terlaksana, justru ada yang menyembunyikan pernikahan karena alasan-alasan yang tak prinsip. Padahal kita dianjurkan untuk segera mengumumkan pernikahan.

Walimah, salah satu fungsinya adalah untuk mengabarkan kepada masyarakat tentang pernikahan kita. Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing. Kalau tak mampu, dengan menyembelih seekor ayam pun bisa, yang penting kabar pernikahan kita tersampaikan. Bahkan lazim di sebagian masyarakat Jawa Timur walimah nikah diselenggarakan tanpa memotong kambing ataupun ayam.

Mengumumkan nikah bisa merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menyempurnakan setengah dari agama kita. Juga untuk menghindarkan saudara saudara kita dari fitnah dan tindakan memfitnah kita. Alhasil, mengapa kau sembunyikan pernikahanmu jika tidak ada alasan yang prinsip untuk membuatmu harus merahasiakan pernikahanmu? Mengapa...?

Berbicara tentang walimah, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Di sebagian masyarakat, pernikahan sudah bukan lagi bentuk syukur kepada Allah dengan mengharap do‘a barakah dari para tamu untuk mempelai berdua. Pesta pernikahan sudah menjadi pertaruhan status sosial, sehingga perhitungan-perhitungan penilaian sosial menjadi sangat diperhatikan. Dan demi prestise maupun mempertahankan gegap-gempita acara, sebuah pernikahan yang Islami harus tercoreng oleh cacat yang bisa mengurangi barakah (mudah-mudahan Allah mengampuni). Demi mendapatkan hasil rias yang menakjubkan (kita ini memang suka membesarkan diri sendiri, ya) atau menjaga agar riasan tidak luntur, kadang ada yang secara sengaja meninggalkan shalat. Kadang pengantin harus repot dengan riasan-riasan yang memenuhi wajah dan kepalanya ketika ia tetap shalat, karena prosesi merias tetap dilaksanakan menjelang waktu shalat.

Ironis sekali. Di saat Allah menyempurnakan setengah dari agama kita dengan memberi kemudahan bagi kita untuk menikah, kita justru mengecilkan asma‘ Allah. Padahal setiap shalat ketika selalu bertakbir. "Hanya Engkaulah ya Allah Yang Maha Besar dan Maha Lebih Besar...."

Masih banyak yang bisa kita bicarakan tentang masalah ini. Tapi karena bab ini bukan tentang walimah, maka pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini kita tunda dulu. Insya-Allah kita akan mendiskusikannya nanti pada bab Memasuki Malam Zafaf di jendela kedua buku ini.

Sebelum saya akhiri bab kita ini, saya masih ingin mengingat satu hal lagi berkenaan dengan walimah. Di masyarakat kita, akhir-akhir ini mulai terjadi kecenderungan menjadikan walimah untuk "investasi". Penyelenggaraan walimah secara sengaja diorientasikan hampir semata-mata untuk mendapatkan uang yang mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa saat. Seorang akhwat bahkan mengeluh, orangtua mengizinkan dia menikah sebelum lulus dengan catatan pesta nikah harus diadakan besar-besaran dengan perhitungan bahwa dari pesta nikah itu akan terkumpul banyak sekali uang. Dari uang yang terkumpul ini nanti bisa didepositokan, sehingga bunganya bisa diambil setiap bulan untuk biaya hidup keluarga baru itu sehari-hari.

Jalan pikiran semacam ini kelihatan tepat dan runtut. Tetapi semakin besar dan mewah pesta pernikahan yang dilangsungkan, tidak menjadi jaminan sama sekali bahwa akan semakin besar juga isi amplop yang akan diberikan oleh para tamu. Apalagi dalam situasi seperti sekarang. Oleh karena itu, mengadakan walimah besar besaran dengan perhitungan seperti itu, saya khawatikan justru akan meninggalkan kekecewaan yang besar manakala uang yang didapat tidak cukup untuk didepositokan. Lebih-lebih kalau sampai "tekor" (merugi) dalam jumlah yang besar, sedangkan modal penyelenggaraan walimah diperoleh dari hutang, sehingga yang tersisa dari pesta pernikahan itu boleh jadi justru tangis dan kesedihan yang panjang. Hari-hari selanjutnya, kecemasan tentang bagaimana melunasi hutang akan terus mengejar. Mudah-mudahan tidak sampai kehabisan nafas.

Artinya apa? Pesta pernikahan janganlah justru menjatuhkan kita ke dalam madharat dan mafsadah yang besar. Jangan karena perhitungan tentang isi amplop, kita justru menjadi tidak percaya kepada Allah; tidak percaya bahwa Allah menjamin rezeki kita setiap bulan, bahkan setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Janganlah pesta pernikahan menjadikan kita berubah, dari berharap kepada rezeki Allah beralih mengharapkan bunga dari deposito bank (padahal bank saja tidak bisa menjamin nasibnya sendiri dari kebangkrutan).

Saya teringat dengan teman saya. Di daerahnya, sudah mulai lazim dalam undangan nikah dicantumkan permintaan agar tidak membawa kado, cukup amplop saja. Karena sudah disarankan oleh shahibul bayt (tuan rumah) untuk membawa amplop saja, berangkatlah mereka ke pesta pernikahan itu dengan menyiapkan amplop masing-masing. Keluarga mempelai wanita pun berbahagia bahwa tamu tamunya membawa amplop. Tapi malang tak dapat ditolak. Untung tak bisa diraih. Setelah dibuka, banyak amplop yang kosong (“Tidak salah mereka,” kata istri saya. “Kan mereka disuruh bawa amplop?”). "Masih untung kalau isi uang seratus perak. Ini kosong sama sekali," kata teman saya cerita.

Di luar itu, ada persoalan lebih mendasar yang membuat sikap mencari dana untuk didepositokan itu tidak tepat. Persoalan itu bukan terletak pada perhitungan perhitungan ekonomi yang ternyata kemungkinannya untuk "impas" atau "rugi" memang sangat besar. Persoalan yang lebih mendasar ada pada masalah adab, akhlak, aqidah dan khususnya persangkaan kita kepada Allah serta keadaan hati kita tentang apa yang seharusnya dicita-citakan dalam menikah. Andaikan ternyata hasil akhir pesta nikah itu kerugian, lalu menyebabkan hutang membengkak, saya khawatir pengantin yang baru menikah beserta orangtua dan anggota keluarga yang lain senantiasa disibukkan oleh impian-impian, di samping kecemasan-kecemasan berkenaan dengan masalah hutang.


Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan tentang-pernikahan.com