artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah

Serial Kupinang Engkau Dengan Hamdalah: 23 - Mengenai Sumber Informasi Dan Perantara: 5:moderat Dan Tidak Menyudutkan

Karya : Mohammad Fauzil Adhim

 

Adakalanya orang yang diperantarai menghadapi beberapa pilihan. Menentukan pilihan untuk masalah yang menyangkut kehidupan selama di dunia dan sampai akhirat ini, bukan perkara mudah. Butuh kejernihan agar tidak terombang-ambing oleh desakan hawa nafsu yang jahat. Butuh kejernihan, agar hati semakin berih dan lurus ketika mengambil keputusan. Tidak justru merusak niat. Padahal, niat adalah masalah mendasar dalam mengambil keputusan.

Seorang perantara yang menjumpai keadaan seperti ini, hendaknya berusaha untuk bersikap moderat. Sikap moderat (al-wasthiyyah) insya-Allah lebih dekat kepada kemaslahatan dan ridha Allah. Sekalipun ia berdiri untuk memperantarai salah satu orang yang sedang dipertimbankan, ia sebaiknya bersikap netral. Kecenderungan hati barangkali sulit dihapuskan. Tetapi, insya-Allah akan baik kalau ia mencoba memilih berdiri di tengah-tengah dalam ucapan. Ini akan membuahkan ketenangan. Dan ketenangan lebih dekat kepada kejernihan.

Adakalanya sebagian orang bersikap kurang moderat. Ia cenderung mengarahkan pikiran orang yang diperantarai, sekalipun barangkali tidak disadari. Kadang-kadang bahkan mengarahkan kepada "sikap negatif" yang memojokkan, sehingga orang yang diperantarai merasa tertekan. Merasa berada pada situasi yang riskan. Atau, menyebabkan orang yang diperantarai tertekan secara emosional. Padahal, dalam saat-saat seperti itu, yang ia butuhkan adalah kejernihan dan ketenangan agar lebih dekat kepada tawakal dan ridha Allah. Pada saat-saat seperti ini orang yang hendak menikah sangat perlu menjaga prasangka dan keyakinannya terhadap Allah Swt.

Moderat lebih dekat dengan keseimbangan. Saya pernah mendengar seorang perantara memberikan pertanyaan yang bernada memojokkan, "Apa sudah ada tanda tanda penolakan dari pihak sana?"

Pertanyaan yang semacam ini juga termasuk tidak netral dan bisa menyebabkan ketidakamanan secara emosional, "Bagaimana, apa sudah ada kecenderungan ke pihak yang di sini? Barangkali sudah ada kepastian kalau tidak jadi."

Pertanyaan-pertanyaan sejenis, juga keterangan-keterangan lain yang tidak berimbang, membawa orang yang diperantarai kepada situasi yang tidak mengenakkan emosi. Keputusan yang hampir jadi sesuai yang dikehendaki perantara, bisa justru mentah kembali karena pertanyaan atau pun pernyataan yang menyudutkan secara emosional.

Saya ingat kisah Sayyidina ĎAli karamallahu wajhahu. Semua musuhnya tahu kalau Sayyidina ĎAli sudah mengangkat pedang, sulit mengelak dari tebasannya ketika berhadapan di medan peperangan.

Suatu ketika, seorang musuh berada pada situasi terdesak. Ia berhadapan dengan Sayyidina ĎAli. Merasa terdesak dan tak ada pilihan lain, ia meludahi Sayyidina ĎAli. Pedang yang hampir menebas, ternyata tidak jadi menghilangkan nyawanya. Mengapa Sayyidina ĎAli mengurungkan tebasan pedangnya? Beliau tidak ingin mengayunkan pedangnya karena hati yang terusik oleh ludah.

Sikap seorang ustadz berikut agaknya bisa dicontoh. Ketika ada orang mengajukan masalahnya, ia menunjukkan sisi baik dari keduanya secara berimbang. Kekurangan pada salah satu pihak, ditunjukkan sebagai kesempatan untuk memperoleh kemuliaan akhirat, dan diimbangi dengan kelebihan yang mungkin ada. Sementara kekurangan pihak lainnya, dijelaskan dengan cara yang sama secara seimbang dan adil.


Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan tentang-pernikahan.com