artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah

Hiasan Janur

Karya : Ahmad Sarwat, Lc.

 

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pak Ustadz, saya mau bertanya bagaimana hukum memasang hiasan yang berupa janur kning di acara pernikahan? Biasanya janur kuning tersebut juga di pakai sebagai alat penunjuk jalan untuk rumah yang sedang menyelenggarakan hajatan tersebut. Apakah itu termasuk bid'ah ustadz? Karena ada teman saya yang bilang bahwa itu bukanlah tradisi Islam yang tidak boleh dilakukan. Mohon jawaban dari ustadz secepatnya, mengingat tidak alma lagi saya akan mengadakan acara walimah (Insya Alloh).

Wassalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dewi

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Memasang janur sebagai petnjuk bahwa di tempat tersebut ada hajatan pernikahan memang telah menjadi fenomena umum di masyarakat kita. Meski tidak banyak yang tahu apa arti janur tersebut. Juga jarang yang mengerti filosofi tentangnya.

Sebagian mereka yang merasa tahu dan mengerti, seringkali mengait-ngaitkan dengan budaya masa pra Islam di negeri ini. Bahkan mengatakan bahwa janur kuning itu bagian dari ritual ibadah agama di luar Islam. Sehingga haram hukumnya bagi umat Islam untuk memasang janur, baik untuk pernikahan atau pun kegiatan lainnya. Alasannya, Islam melarang bagi pemeluknya untuk melakukan hal-hal yang sekiranya menyerupai ciri khas agama lain. Apalagi bila masih terkait dengan ritual ibadah mereka.

Dengan menggunakan logika ini, boleh jadi sebagian pihak bisa sampai kepada kesimpulan bahwa haram memasang janur, karena aspek tasyabbuh (penyerupaan) dengan agama lain. Rasulullah SAW bersabda:

Orang yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka

Namun di sisi lain, ada juga sementara pihak yang tidak terlalu jauh dalam mengambil sebuah sikap. Bahwa janur kuning itu dahulu pernah menjadi bagian dari sebuah budaya masa lalu, hal itu memang benar. Namun apakah hal-hal yang ada di dalam wilayah tersebut termasuk juga penyerupaan terhadap sebuah ajaran agama yang diharamkan dalam syariah, tentu masalah ini sangat besar peluang perdebatannya.

Misalnya ketika ketika Rasulullah SAW membuat cincin/stempel untuk perlengkapan berkirim surat kepada para raja, adakah hal itu termasuk kategori tasyabbuh? Contoh lain adalah ketika Khalifah Umar bin Al-Khattab ra. mengimpor sistem pemerintahan dan tata administrasi negara dari Persia, apakah tindakan beliau itu termasuk kategori tasyabbuh (menyerupai) orang kafir? Ketika Salman Al-Farisy mengusulkan untuk membuat parit sebagai bentuk pertahanan dalam peperangan, padahal bangsa arab belum pernah mengenal strategi pertahanan seperti itu, karena cara demikian hanya ada di Persia, adakah usulan beliau ra. merupakan bagian dari tasyabbuh?

Dan konon bangunan kubah yang menjadi ciri khas masjid, dahulu justru merupakan ciri khas tempat ibadah agama lain sebelum Islam. Jadi haramkan kubah masjid itu? Dan kita tahu bahwa bangunan masjid di masa Rasulullah SAW justru tidak ada kubahnya. Bagaimana juga dengan menara untuk adzan?

Diskusi ini akan tambah hangat kalau ditambah lagi dengan masalah perintah nabi SAW untuk mencukur kumis dan memelihara jenggot, di mana alasannya adalah untuk tidak menyerupai pemeluk agama lain. Para pemeluk agama lain itu punya ciri khas yaitu mereka memanjangkan kumis dan mencukur jenggot. Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimana bila orang-orang kafir kemudian mengubah style mereka dan ramai-ramai memanjangkan jenggot dan mencukur kumis? Apakah umat Islam masih tetap harus mencukur kumis dan memanjangkan jenggot? Ataukah yang penting bisa beda, sehingga malah memanjangkan kumis dan mencukur jenggot?

Ditambah lagi, seandainya ada 4 agama yang berbeda dan sama-sama bukan Islam. Agama yang pertama mencukur kumis dan jenggot, agama yang kedua mencukur kumis dan memanjangkan jenggot, agama yang ketiga memanjangkan kumis dan mencukur jenggot dan yang keempat memanjangkan kumis dan jenggot, lalu bagaimana posisi umat Islam? Kalau prinsipnya adalah bahwa umat Islam tidak boleh menyerupai pemeluk agama lain, jadi harus bagaimana?

Tentu saja masalah ini pasti akan melahirkan silang pendapat di kalangan ulama. Dan biasanya tidak akan ada habis-habisnya, karena masing-masing pasti datang dengan hujjah dan argumentasi yang kuat dan tak terbantahkan. Kalau kita kurang cermat berpikir, bisa jadi kita pun akan ikt disibukkan dengan perdebatan ini. Padahal agama Islam ini bukan melulu masalah jenggot atau janur, bukan?

Biarlah para ulama berbeda pendapat dalam maslah seperti ini, tapi kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bukan wilayah kita. Biarlah masing-masing memegang pendapat sesuai dengan apa yang mereka yakini kebenarannya. Apalagi nash yang terkait dengan masalah halal haramnya memasang janur, jelas tidak pernah ada. Kalau ada, sebenarnya hanyalah hasil ijtihad dan pandangan subjektif para fuqaha. Selama kesimpulan hukumnya masih berasal dari sebuah ijtihad, sementara nash qath'i yang secara tegas mengharamkannya tidak terdapat, maka masih mungkin terjadi khilaf dan beda pandangan. Tidak ada kewajiban pokok untuk secara terpaksa harus mengikuti pendapat salah satunya. Hanya saja mengambil pendapat yang lebih hati-hati untuk diri sendiri tentu lebih baik. Namun pendapat yang kita pilih itu tidaklah harus dijadikan paksaan kepada orang lain untuk mengikutinya.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.


Hak cipta selamanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan tentang-pernikahan.com